Ekonomi Papua Barat 2019 Tumbuh Melambat


MANOKWARI, PB News – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat secara kumulatif laju pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2019 yang terhitung bersama sektor migas hanya mencapai 2,66 persen (c-to-c), lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang tercatat sebesar 6,26 persen (c-to-c). Sedangkan, tanpa migas ekonomi Papua Barat tahun 2019 tumbuh 6,13 persen di atas rata-rata nasional (5,02 persen).

Kepala BPS Papua Barat, Maritje Pattiwaellapia, mengatakan, melambatnya pertumbuhan ekonomi Papua Barat dipengaruhi oleh melemahnya kinerja dua sektor yakni industri pengolahan dan pertambangan yang terkoreksi masing-masing -0,99 persen dan -0,34 persen.

“Kalau kedua sektor itu tumbuh negatif, harus warning. Harus jaga-jaga, kalau tumbuhnya terus negatif ya bisa menggoyang ekonomi di daerah ini (Papua Barat, red),” ucap Maritje usai menggelar konfrensi pers di aula BPS Papua Barat, Kamis (6/2/2020).

Perlu diketahui, kontribusi sektor industri pengolahan dan pertambangan terhadap Produk Ekonomi Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat sangat signifikan, yakni berada di kisaran 25,74 persen dan 17,44 persen. Sehingga, melemahnya kinerja kedua sektor tersebut akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Untuk pertumbuhan tahun ke tahun, ekonomi Papua Barat triwulan IV 2019 tumbuh sebesar 8,27 persen (y-o-y) jika dibandingkan dengan triwulan IV 2018 lalu. Karena hampir seluruh komponen pengeluaran mengalami pertumbuhan positif dan, pertumbuhan tertinggi disumbang oleh komponen konsumsi pemerintah sebesar 27,58 persen (y-o-y).

“Inflasi juga stabil, dan rata-rata belanja pemerintah itu meningkat di triwulan IV,” tutur dia.

Secara kuartal, sambung Maritje, ekonomi Papua Barat triwulan IV 2019 juga mengalami pertumbuhan sebesar 4,23 persen (q-to-q) bila dibandingkan dengan triwulan III 2019. Dari sisi produksi, lapangan usaha konstruksi memberikan andil tertinggi yakni 7,84 persen dan dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi disumbang oleh konsumsi pemerintah yang tercatat 39,04 persen.

Sebelumnya, Deputi Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat, Hendri Daniel, mengatakan, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Papua Barat periode 2019 mengalami perlambatan. Terkoreksinya pertumbuhan ekonomi didasari sejumlah asumsi seperti adanya maintance (Perbaikan, red) salah satu kilang LNG (Liquefied Naturlan Gas) Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni, yang menyebabkan produktivitas ikut tertahan.

“Dan berdampak pada ekspor Papua Barat,” ujar dia.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi ini akibat dari ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas (Migas) masih sangat tinggi. Secara umum, ekspor luar negeri dari komoditas migas memiliki kontribusi 97 persen dan sisanya 3 persen dari komoditas non migas seperti semen, kayu olahan, ikan segar, ikan olahan dan udang segar.

Pertumbuhan ekonomi triwulan I terkoreksi -0,26 persen (yoy), dan triwulan II pun mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar -0,50 persen (yoy).

“Ekonomi Papua Barat tahun 2018 tumbuh cukup tinggi itu memberikan efek, sehingga pertumbuhan tahun 2019 terkesan lebih rendah,” kata Hendri.

Impor yang merupakan pengurang faktor pertumbuhan ekonomi, kata dia, diperkirakan akan tetap kuat seirama dengan masuknya modal kerja untuk pembangunan proyek train III di LNG Tangguh, dan juga beberapa proyek pembangkit listrik baru.

“Meski demikian, permintaan dari negara mitra masih tetap kuat seiring kinerja perekonomian Tiongkok, Jepang yang stabil walau ada perang dagang,” ucap Hendri.

Untuk prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019, Bank Indonesia memprediksi sekitar 5,0 persen sampai 5,4 persen yoy. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi Papua Barat tanpa sektor migas diperkirakan tetap kuat melebih pertumbuhan ekonomi nasional.

Melihat prospek ekonomi Indonesia dan Papua Barat ini, kata dia, berbagai resiko akan timbul. Resiko eksternalnya adalah ekonomi dunia tumbuh melambat, adanya ketegangan hubungan dagang yang berlanjut, geopolitik terutama kepastian brexit, volume perdagangan dunia melambat dan harga komoditas juga mengalami penurunan termasuk harga minyak mentah. Dari sisi resiko domestik neraca transaksi berjalan berpotensi melebar akan menyebabkan tantangan perekonomian semakin kompleks.

“Kalau resiko internal Papua Barat sendiri adalah ketergantungan terhadap sektor migas, menjadi tantangan dapat menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru termasuk sektor pariwisata,” pungkas Hendri.(PB15)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: