QRIS Permudah Transaksi Nontunai

MANOKWARI, PB News – Transaksi pembayaran digital semakin dipermudah setelah Bank Indonesia (BI) meluncurkan Quick Response Code Indonesia Standar (QRIS) pada Agustus tahun 2019 lalu.

Deputi Kantor Perwakilan BI Provinsi Papua Barat, FX Widarto, mengatakan, dengan adanya QRIS maka seluruh transaksi pembayaran nontunai dapat dilakukan dengan cepat dan aman. Karena, QRIS mengintegrasikan seluruh sistem pembayaran elektronik di semua merchant yang telah bekerjasama dengan Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) baik perbankan maupun non perbankan seperti, LinkAja, Gopay, OVO, DANA, Bukalapak dan lainnya.

“Semua pembayaraan menggunakan QR Code itu disatukan. Dulukan sendiri-sendiri,” ujar dia saat dikonfirmasi awak media, Jumat pekan lalu.

Penerapan QRIS, sambung dia, mempermudah masyarakat dan merchant ketika melakukan pembayaran dengan beragam kanal pembayaran nontunai. Lantaran, sudah terciptanya interkoneksi pembayaran satu QR Code.

Masa transisi penggunaan QRIS ini berakhir pada 31 Desember 2019 lalu dan berlaku efektif sejak 1 Januari 2020 di seluruh Indonesia. Sangat diharapkan seluruh penyedia jasa pembayaran nontunai dapat mengadopsi sistem QRIS tersebut.

“Teman-teman perbankan juga sudah mengimplementasikan QRIS ini,” ujar dia.

Untuk Provinsi Papua Barat, kata dia, sejumlah klaster binaan dari BI seperti Keripik Sukun Amenyan dan Anek Batik Papua telah didorong menggunakan QRIS. Sehingga, seluruh pencatatan keuangan para pelaku usaha lebih dioptimalkan.

“Klaster binaan kita (BI Papua Barat, red) sudah mulai menggunakan QRIS. Nanti secara paralel para pelaku usaha kita berikan sosialisasi,” tutur dia.

Kedepannya, Bank Indonesia Papua Barat juga berencana mensosialisasikan QRIS kepada pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, dengan tujuan seluruh transaksi keuangan lebih akurat dan transparansi. Misalnya, penerapan retribusi sampah dan retribusi lainnya.

“Bisa mendorong penerimaan daerah dan mengurangi kebocoran-kebocoran pendapatan daerah sendiri,” tutur Widarto.

Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Papua Barat, S Donny H Heatubun, mengatakan, QRIS diperlukan untuk mengantisipasi inovasi teknologi dan perkembangan kanal pembayaran menggunakan QR Code yang berpotensi menimbulkan fragmentasi baru di industri sistem pembayaran. QRIS merupakan hasil pengembangan Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang digunakan untuk memfasilitasi transaksi pembayaran di Indonesia.

Soft launching secara nasional sudah dimulai sejak 17 Agustus 2019 lalu dan di Papua Barat kampanye QR Code mulai dilakukan Hari Selasa (19/11/2019),” tutur dia..

Sebagai informasi, metode QRIS terdiri dari dua tampilan yang ada di merchant yakni statis dan dinamis.

Untuk yang statis, QR Code ditampilkan melalui stiker atau hasil cetakan lainnya. Sedangkan dinamis tampilan QR Code melalui struk yang dicetak di mesin EDC (Elektronik data capture).(FW)

[Berita ini telah terbit versi cetak di koran Papua Barat News edisi Senin 20 Januari 2020]

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: