September 2019, Gini Ratio Papua Barat Turun Tipis

MANOKWARI, PB News – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di Provinsi Papua Barat yang diukur dari nilai Gini Ratio pada September 2019, turun tipis sebesar 0,005 poin. Turunnya angka Gini Ratio bukan merupakan penurunan pendapatan masyarakat, melainkan terjadi peningkatan pengeluaran masyarakat baik di perkotaan maupun perdesaan.

Kepala BPS Papua Barat, Maritje Pattiwaellapia, mengatakan, Gini Ratio pada Maret 2019 tercatat 0,386 dan mengalami penurunan nilai pada September 2019 menjadi 0,381. Penurunan angka Gini Ratio mengindikasikan telah terjadi perbaikan serta pemerataan pendapatan penduduk dari periode sebelumnya, yang kemudian berimbas kepada pengeluaran mereka.

“Menunjukan sedikit perbaikan,” kata dia saat menggelar konfrensi pers di aula BPS Papua Barat, pekan lalu.

Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2019, sambung dia, mengalami penurunan menjadi 0,320 jika dibandingkan dengan Maret 2019 sebesar 0,325. Penurunan nilai Gini Ratio juga terjadi di daerah perdesaan sebesar 0,003 poin yaitu dari angka 0,419 pada Maret 2019 menjadi  0,416.

“Gini Ratio di perkotaan turun sebesar 0,005 poin,” kata dia.

Selain Gini Ratio, kata dia, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di Papua Barat yang menggunakan persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia, masuk dalam kategori rendah.

Selama periode Maret 2019 sampai September 2019, distribusi pengeluaran dari kelompok penduduk 40 persen terbawah ini menggambarkan peningkatan yakni dari 16,44 persen menjadi 17,28 persen pada September 2019.

“Secara umum, tingkat ketimpangan di Papua Barat masuk kategori rendah,” ujar mantan Kepala BPS Provinsi NTT ini.

Penurunan angka Gini Ratio juga diikuti dengan penurunan tingkat kemiskinan di Provinsi Papua Barat sebesar 0,66 persen poin yaitu dari 22,17 persen pada Maret 2019 menjadi 21,51 persen pada September 2019. Sejalan dengan itu, jumlah penduduk miskin di Papua Barat juga turun dari 211,50 ribu orang (Maret 2019) menjadi 207,59 ribu orang (September 2019).

“Jumlah penduduk miskin di Papua Barat turun sebesar 3,91 ribu orang,” terang dia.

Dia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Papua Barat antara lain, adanya perbaikan kesejahteraan petani yang ditunjukan adanya peningkatan NTP (Nilai Tukar Petani), peningkatan rata-rata pengeluaran per kapita pada penduduk Desil 1, angka inflasi yang cukup rendah, terjadi penguatan ekonomi dari triwulan 1 sampai triwulan 3 tahun 2019, meningkatnya realisasi belanja bantuan sosial (Bansos) dari triwulan 1 sampai triwulan 3 tahun 2019, serta turunnya harga komoditas pokok di Papua Barat.(FW)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: