18 Tahun Sampari Yembise Melawan Kelumpuhan

Dilaporkan: Tintus Nanu Belang

 

HARI itu, Jumat 17 Januari 2021 sekitar pukul 16.00 WIT, sekelompok orang dari Komunitas Peduli Kemanusiaan (KPK) memasuki sebuah rumah yang terletak di RT 003, RW/001 Kampung Arowi, Manokwari. Rumah itu milik keluarga Bapak Johan Yembise.

Di bagian tengah ruangan, terbaring seorang anak dengan tubuh yang sangat lemah. Namanya Sampari Yembise. Dia lahir pada 11 Februari 2002 silam di Manokwari.

Sampari adalah anak ke tujuh dari pasangan Johan Yembise dan Sarce Urbasa.  Sudah 18 tahun Sampari berjuang melawan kelumpuhan yang diderita sejak usia dua bulan.

Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Matanya berkedip-kedip pertanda sedang berkomunikasi dengan anggota keluarga dan setiap orang yang mengunjunginya sore itu.

“Sampari lahir dalam kondisi normal seperti saudaranya yang lain. Tapi dia mulai sakit waktu umur dua bulan. Kami lihat semakin hari kepalanya semakin besar dan tidak seimbang dengan badan,” kata Sarce Urbasa mengawali percakapan dengan anggota KPK Manokwari sore itu.

Setelah lahir kondisi Sampari mengalami perubahan secara fisik. Melihat perubahan anak mereka, Sarce bersama suami membawa Sampari ke Rumah Sakit Umum Daerah Manokwari untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lengkap yang dilakukan oleh dokter di RSUD Manokwari, Sampari didiagnosa mengidap penyakit Hydrocephalus. Penyakit ini sangat asing terdengar di telinga Sarce dan suaminya.

Pihak RSUD Manokwari menyarankan, agar Sampari bisa menjalani pengobatan di rumah sakit yang memiliki fasilitas yang lebih lengkap dan ditangani langsung oleh dokter ahli. Akhirnya, Sampari dirujuk ke salah satu rumah sakit di Makassar untuk mendapatkan pengobatan di sana.

“Waktu itu umurnya delapan bulan. Kami benar-benar kesulitan dengan uang. Ada juga sedikit bantuan dari pihak RSUD Manokwari, tapi itu tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit Sampari,” tutur Sarce dengan air mata berlinang.

Setelah upaya pengobatan dan perawatan selama beberapa bulan di Makassar, Sarce bersama suami dan si bayi Sampari terpaksa kembali ke Manokwari. Upaya pengobatan di Makassar tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Kondisi Sampari tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Sementara uang tabungan keluarga sudah habis terpakai.

“Kami hanya bisa pasrah. Apa pun yang Tuhan kehendaki terjadi kepada anak kami ini, biarlah terjadi,” tangis tertahan terpancar dari sinar mata yang berkaca-kaca.

Sejak saat itu, anak tersebut hanya terbaring lemah di tempat tidur dengan kondisi yang sangat memprihatinkan tanpa ada perhatian dari pihak manapun.

Barulah pada awal Agustus 2020, Benno Rahaor bersama teman-temannya dari Komunitas Peduli Kemanusiaan (KPK) yang sedang melakukan pendataan terhadap para penyandang disabilitas berat menemukan kediaman Sampari dan melaporkan kondisi Sampari ke Dinas Sosial Kabupaten Manokwari.

Semenjak saat itu, sudah ada beberapa kalangan yang berkunjung dan memberikan bantuan kepada Sampari. Termasuk dari Bahayangkara dan Satuan Brimob Polda Papua Barat.

“KPK juga pernah kasih kursi roda. Tapi Sampari tidak bisa pakai karena tidak sesuai dengan dia punya kondisi. Karena untuk duduk saja tidak bisa. Adik bisa lihat sendiri kondisinya ini,” ucapnya lirih kepada saya sambil menunjuk ke arah Sampari terbaring.

Keprihatinan terhadap kondisi Sampari mendorong  Benno Rahaor dan kawan-kawannya unruk mendaftarkan Sampari ke Dinas Sosial Kabupaten Manokwari agar mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Bayangkan saja selama 18 tahun Sampari tidak mendapatkan hak sebagai penyandang disabilitas berat yang harus diperhatikan negara. Jadi kami hanya memperjuangkan apa yang harus dia dapatkan. Ini semata-mata karena kemanusiaan,” kata Benno. ***

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 19 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: