Adat Sasi, Tradisi Adat Penjaga Kelestarian Alam Turun-Temurun

MANOKWARIpapuabaratnews.co – Upaya perlindungan dan pelestarian alam baik tumbuhan dan satwa langka seperti Penyu Belimbing dan  Burung Cenderawasih ternyata telah ada dalam nadi budaya di masyarakat Suku Abun, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw.

Tradisi tersebut berupa Sasi sebuah upacara adat untuk melindungi suatu wilayah dari eksploitasi. Tradisi ini ternyata harus dipatuhi setiap warga dalam jangka waktu tertentu sebelum status wilayah yang ditentukan dicabut.

Masyarakat di Kampung Sukwo, Womom, Warmandi, Waw, dan Weyav dilarang melakukan aktivitas penangkapan baik ikan maupun penyu. Ini dimaksudkan agar proses perkembang biakan ikan dan penyu terus dilestarikan.

Seperti yang terjadi pada Kamis (25/6/2020) yang lalu saat Pemerintah Daerah Kabupaten Tambrauw mengadakan proses buka Sasi. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, institusi pemerintahan dan juga institusi konservasi.

Berkat tradisi Sasi sebuah wilayah akan terjaga sistem pengelolaan sumber daya alamnya secara terkendali meskipun dilindungi oleh hukum adat. Wilayah yang dilindungi bebas untuk ditentukan oleh kepala adat dan dapat dilakukan pembukaan.

Ketua Kelompok Pengawasan Masyarakat Biota Laut dan Darat Distrik Abun,  Dina Sundoy mengatakan model pelestarian alam baik tumbuhan maupun unggas dan penyu yang dilakukan oleh suku Abun berbasis upacara adat atau disebut Sasi. Menurutnya sasi dinilai tepat sebagai alternatif menjaga tingkat populasi biota laut dan darat khususnya Penyu Belimbing dan Burung Cenderawasih dari kepunahan.

“Sasi  ini kami lakukan agar menjaga kestabilan alam baik tumbuhan maupun hewan yang ada di sini,  khususnya Penyu Belimbing dan Cenderawasih,” ujarnya saat pembukaan sasi adat perlindungan penyu dan satwa lainnya di Teluk Weyos Taman Pesisir Jeen Womon, Kampung Sukwo, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw, Kamis (25/6/2020).

Dina mengungkapkan sasi adat telah diberlakukan sejak 2018 hingga Juni 2020. Sasi adat dilakukan guna memberi waktu bagi satwa baik biota darat maupun laut seperti Penyu Belimbing untuk dapat berkembang biak. Hal ini diakuinya sebagai bagian dari upaya menjaga populasi biota laut tidak punah atau habis.

“Sasi ini dibuat agar memberikan waktu bagi satwa untuk berkembang biak sehingga tidak habis ditangkap  manusia,” terangnya.

Dia mengeluhkan tidak adanya perhatian dari pemda melalui instansi berupa bantuan speedboat atau perahu. Keterbatasan speedboat menyebabkan tugas pengawasan laut dari aktivitas pencurian ikan di wilayah Teluk Weyos Taman Pesisir Jeen Womon terus terjadi.

Dia lalu berharap Pemda Tambrauw selaku pemilik wilayah Distrik Abun tergerak hati menyelamatkan populasi  hidup satwa  endemik yang hanya hidup di wilayah Abun seperti Penyu Belimbing dengan memberikan bantuan speedboat bagi kelompok pengawasan Biota Laut dan Darat Distrik Abun guna melaksanakan tugas pengawasan laut.

Sampai saat Dina dibantu sejumlah sukarelawan yang bekerja sama dengannya dalam usaha melindungi satwa dan alam di wilayah Abun berjalan secara swadaya. Lantaran tidak adanya perhatian dari pemda berupa upah atau bantuan peralatan speedboat yang diperlukan. Dia tetap optimis apa yang dilakukan bukan untuk dirinya semata namun untuk daerah dan anak cucu di masa mendatang.

“Penyu Belimbing ini adalah maskot Kabupaten Tambrauw, bagaimana jika penyu terus ditangkap dan dikonsumsi dalam jumlah yang besar setiap harinya,  pasti akan punah jika tidak dijaga keseimbangannya,” ucap Dina.

Wakil Bupati Tambrauw, Mesak Yekwam menegaskan upaya perlindungan alam dan satwa yang telah dilakukan oleh Kelompok Pengawasan Masyarakat Biota Laut dan Darat wilayah Abun patut diapresiasi. Menurutnya partsipasi masyarakat lokal dalam perlindungan satwa dan alam harus mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dirinya berjanji akan menyalurkan bantuan speedboat bagi kelompok guna melaksanakan tugas pengawasan laut.

“Kami perintahkan agar dinas perikanan segera membantu dua unit perahu ke sini jika persediaan masih ada, tahun ini memang ada namun jika sudah dibagi habis maka akan kita anggarkan di tahun depan,” terangnya.

Mesak menandaskan pada prinsipnya Pemda Tambrauw mendukung upaya perlindungan alam dan satwa di wilayah Tambrauw karena sejalan dengan penetapan sebagai wilayah konservasi. Karena itu dia berharap upaya perlindungan dan pengawasan yang telah dilakukan oleh masyarakat dapat terus dilakukan.

“Kita berharap upaya ini terus dilakukan dan sinergitas masyarakat dan pemerintah dalam usaha pelestarian alam dan satwa endemi di Tambrauw tetap berjalan,” tandas salah satu kader PDIP Papua Barat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat,  Yusak Wabia mengatakan potensi pengembangan kawasan Teluk Weyos Taman Pesisir Jeen Womon sebagai salah satu tujuan destinasi pariwisata di Papua Barat. Disebutkannya potensi laut Teluk Weyos dengan biota laut dan darat yang kaya adalah peluang pengembangan pariwisata di wilayah Tambrauw.

“Kekayaan biota laut seperti Penyu Belimbing, Terumbu Karang dan ikan adalah potensi alam yang harus dijaga dan dilestarikan melalui ritual upacara Sasi oleh masyarakat,” jelasnya.

Wabia mengemukakan upaya pelestarian satwa dan tumbuhan harus ditunjang dengan komitmen pemerintah dalam merawat daerah sebagai wilayah cagar alam. Karena itu menurutnya pengembangan  kawasan Teluk Weyos sebagai bagian dari wisata alam laut perlu ditunjang dengan beberapa hal mendasar seperti tersedianya akses transportasi, hunian pendukung, tersedianya areal khusus yang diminati oleh turis baik di laut atau pun di darat.

“Pengembangan kawasan Teluk Weyos sebagai salah satu destinasi wisata sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat kesadaran pemda membangun perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata,” katanya. (PB22)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: