Batal Ajukan Eksepsi, Pemeriksaan Perkara Dugaan Pembunuhan Anggota Brimob Dilanjutkan

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Yan Christian Warinussy dan Thresje Juliantty Gasperzs selaku tim penasehat hukum Frans Aisnak dan Pontius Wakom, terdakwa perkara dugaan pembunuhan anggota Brimob Polda Papua Barat, membatalkan niatnya untuk menyampaikan Nota Keberatan atau Eksepsi klien mereka terhadap pasal berlapis yang didakwakan Jaksa Penuntut umum Kejaksaan Negeri Bintuni.

“Setelah kami berkonsultasi dengan para terdakwa (Frans Aisnak dan Pontius Wakom) selaku tim penasehat hukum, berpandangan bahwa kami tidak akan mengajukan keberatan (eksepsi). Oleh sebab itu, kami mohon persidangan dapat dilanjutkan ke pokok perkara,” kata Warinussy dihadapan Ketua Majelis Hakim Sonny A.B Laoemoery, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Manokwari, Jumat (11/9/2020).

Usai mendengarkan permohonan dari tim penasehat hukum tersebut, ketua majelis hakim akhirnya menetapkan penundaan persidangan. Dijadwalkan, penundaan persidangan perkara pembunuhan berencana tersebut akan dilanjutkan kembali pada Kamis (17/9) dan Jumat (18/9) mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi terkait.

Sebelum ditunda, sesuai amanat Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Warinussy meminta kepada Majelis Hakim agar melalui persetujuan Ketua Majelis hakim, Jaksa Penuntut umum Piter Louw dapat memberikan berkas perkara legkap kepada tim penasehat hukum, bukan hanya memberikan foto copy atau salinan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saja.

Permintaan tersebut pun dikabulkan, Ketua majelis hakim melalui sebuah penetapan memerintahkan kepada Jaksa Penuntut umum untuk segera menyerahkan berkas perkara lengkap, bukan hanya salinan BAP kepada tim penasehat hukum.

“Tidak, bukan hanya salinan berita acara, tetapi berkas perkara lengkap harus saudara berikan kepada Penasihat Hukum, itu perintah hukum acara pidana,” kata Ketua Majelis hakim dalam persidangan yang dibuka dan terbuka untuk umum itu.

Pada persidangan kali ini, para terdakwa juga didampingi oleh advokat Karel Sineri dari Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, sebagai tim penasehat hukum.

Dalam persidangannya, dengan tangan terborgol para terdakwa dikawal seorang anggota Kepolisian bersenjata lengkap. Borgol baru akan dilepas saat terdakwa hendak duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Manokwari.

Sebelumnya, Frans Aisnak dan Pontius Wakom didakwa Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat (1)- 1 KUHP, Pasal 339 KUHP jo Pasal 55 ayat (1)- 1 KUHP, Pasal 338 KUHP jo pasal 55 ayat (1)-1  KUHP, dan/atau Pasal 365 ayat (4) KUHP, atas dugaan keterlibatan mereka membunuh Briptu Anumerta Mesak Viktor Pulung, salah satu anggota Brimob Kompi 3 Batalyon A Pelopor, pada 15 April lalu di Kabupaten Teluk Bintuni.

Sebagaimana surat dakwaan Jaksa Penuntut umum, Frans Aisnak dan Pontius Wakom didakwa dengan unsur pasal mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, yaitu korban Briptu Anumerta Mesak Viktor Pulung.

Dimana terdakwa Frans Aisnak dan Pontius Wakom bersama-sama dengan pelaku lain yang masih buron, yakni Yakobus Aisnak (DPO), Imanuel Aimau (DPO), Abraham Fatem (DPO), Thomas Muk (DPO), dan Martinus Aisnak (DPO), menyusun sebuah rencana untuk membunuh korban yang kala itu tengah tertidur di basecamp PT. Wana Galang Utama (WGU), sebuah perusahaan kayu yang beroperasi di Kampung Rawara Pantai, Distrik Moskona Barat.

Kejadian yang diduga berlangsung sekira Pukul 02:35 WIT itu, bermotif merampas Senjata Api (Senpi) tipe serbu otomatis milik korban, jenis AK – 101 lengkap magasen dan berpeluru. (PB13)

***Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 14 September 2020

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: