Ekonomi Hijau Peluang bagi Ekonomi Papua Barat

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Perubahan iklim dan pandemi Covid-19 yang tengah dihadapi dunia membuat sektor ekonomi harus beradaptasi untuk menuju green economy (ekonomi hijau).

Ekonomi hijau merupakan paradigma ekonomi baru yang mendorong pertumbuhan pendapatan dan lapangan kerja, serta secara tajam mengurangi atau bahkan memperbaiki kerusakan lingkungan, sekaligus mengurangi dan membantu adaptasi terhadap perubahan iklim.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, Charlie Heatubun mengatakan perubahan menuju ekonomi hijau tersebut merupakan peluang yang besar bagi berkembangnya ekonomi Papua Barat. Sebab, ekonomi hijau merupakan masa depan ekonomi yang ramah lingkungan.

Dikatakan, Pemerintah Provinsi Papua Barat berkomitmen terus mendorong pengembangan sektor ekonomi masyarakat melalui pengembangan ekonomi hijau, dengan bertumpu pada pengelolaan komoditi unggulan daerah. Hal itu merupakan amanat dari deklarasi Manokwari pada Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan Ekonomi Kreatif di Manokwari pada tahun 2018 lalu.

“Pengembangan ekonomi hijau sangat menjanjikan karena tidak bertentangan dengan semangat konservasi di daerah ini. Di sisi lain, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat asli Papua, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan,”  ujar Heatubun usai menghadiri ekspor perdana hasil panen rumput laut nelayan lokal Teluk Wondama di Pelabuhan Manokwari, Selasa (27/10/2020).

Charlie mengaku, komoditi unggulan daerah ini sangat diminati pasar dalam negeri dan luar negeri. Contohnya Rumput Laut di Teluk Wondama, Kakao di Manokwari Selatan, dan Kopi Anggi di Pegunungan Arfak.

“Komoditi unggulan daerah ini berkualitas, karena itu diminati pasar. Tinggal bagaimana pemda mengelolanya dengan baik dan maksimal,” terangnya.

Menurutnya pengembangan rumput laut menjadi komoditi unggulan untuk mendongkrak ekonomi Papua Barat, di luar minyak bumi dan tambang mineral. Tinggal bagaimana seluruh pemangku kepentingan berkoordinasi untuk mengelola dengan baik komoditi unggulan daerah itu.

“Saya ibaratkan rumput laut itu emas hijau. Apabila dikelola dengan baik akan memberikan hasil yang optimal bagi masyarakat di Papua Barat,” katanya.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan mengingatkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus menjadi arus utama pembangunan di provinsi ini. Hal itu juga harus dilakukan pada seluruh aspek kehidupan.

“Komitmen Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati Ekowisata dan Ekonomi Kreatif dan Deklarasi Manokwari sangat jelas, untuk kita bijaksana dalam mengelola sumber daya alam demi kepentingan generasi yang akan datang,” sebut Gubernur.

Menurut Dominggus, Pemprov Papua Barat pun telah memperkuat komitmen itu dalam bentuk Perdasus nomor 10 Tahun 2019 Tentang Pembangunan Berkelanjutan. Melalui regulasi ini pembangunan ekonomi diarahkan pada pengemhangan ekonomi hijau yang memprioritaskan komoditas unggulan daerah.

Selain rumput laut, lanjut Gubernur, komoditas lain yang dikembangkan antara lain kopi, pala, kakao serta kelapa. Pemerintah provinsi juga sedang mendorong pengembangan ekowisata.

Wakil  Pimpinan Program Ekonomi Hijau Papua dan Papua Barat, Alex Rumaseb menegaskan, sampai tahun 2022 pihaknya terus berupaya mendukung pemerintah daerah baik di Papua dan Papua Barat dalam mengenjot pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk lokal.

“Papua Barat sangat menjanjikan khususnya dari sektor potensi laut dan tanaman, seperti Rumput Laut dan Kopi yang belum dikelola secara maksimal,” tegasnya.

Alex meminta upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi daerah tidak boleh menimbulkan masalah bagi masyarakat asli Papua. Karena menurutnya, aset  Sumber Daya Alam di Papua dan Papua Barat merupakan hak masyarakat adat yang harus dilindungi. Karena itu pembangunan ekonomi hijau harus mampu memberdayakan masyarakat asli Papua di negeri sendiri.

“Fokus ekonomi hijau bertumpu pada dua aspek yakni perlindungan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat asli Papua,” tutup Alex. (PB22)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 28 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: