Evakuasi Guru dan Nakes di Puncak Masih Terhambat

JAYAPURA, papuabaratnews.co – Evakuasi para guru dan tenaga kesehatan di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, masih terhambat. Hingga Minggu (11/4/2021), kelompok kriminal bersenjata masih melepaskan tembakan di Beoga.

Hal itu diungkapkan Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Mathius Fakhiri saat dihubungi dari Jayapura, Minggu 11 April 2021 sore.

Mathius mengatakan, situasi keamanan belum memungkinkan untuk membawa para guru dan tenaga kesehatan yang berada di Beoga ke tempat yang lebih aman. Polda Papua akan berkoordinasi dengan Pemda Puncak terkait keamanan masyarakat di Beoga.

Diketahui terdapat 9 tenaga kesehatan dan lima kerabatnya yang masih mengungsi di sebuah rumah. Sementara 7 guru mengungsi di Markas Koramil Beoga.

Mereka mengungsi setelah Oktovianus Rayo dan Yonatan Renden ditembak mati oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Muara. Oktovianus adalah guru kelas di SD Jambul, Beoga, sedangkan Yonatan adalah guru Matematika di SMP Negeri 1 Beoga.

Oktovianus ditembak KKB pada Kamis (8/4/2021) di Kampung Julukoma, Distrik Beoga. Sementara Yonatan ditembak mati KKB pada Jumat (9/4/2021) di ibu kota Distrik Beoga.

”Kami telah mengerahkan tim dari Satgas Nemangkawi ke Beoga untuk menghadapi KKB. Evakuasi warga baru dapat terlaksana setelah suasana kondusif,” tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua Christian Sohilait mengatakan, jenazah Oktovianus dan Yonatan telah diterbangkan ke kampung halamannya di Toraja, Sulawesi Selatan. Tiga guru juga dipulangkan ke Toraja karena mengalami trauma berat akibat insiden penembakan kedua rekannya.

”Kami telah bekerja sama dengan Polda Papua untuk mengevakuasi para guru yang mengalami trauma berat. Setelah penanganan trauma, barulah mereka dapat kembali mengajar di tempat tugas,” ujarnya.

Ia pun menyatakan Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua menolak pernyataan KKB bahwa Oktovianus dan Yonatan adalah intelijen. Sebab, kedua korban ini lulusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan.

”Pernyataan ini hanyalah upaya kelompok itu untuk membela diri. Perbuatan mereka sangat biadab dan tidak berperikemanusiaan,” katanya.

Bupati Puncak Willem Wandik meminta jaminan keamanan bagi tenaga kesehatan dan pengajar di daerahnya. Ia khawatir mengungsinya guru dan tenaga kesehatan dapat berdampak pada masyarakat setempat.

”Pelayanan publik di Puncak akan terganggu apabila semua guru dan tenaga kesehatan mengungsi. Padahal, masyarakat sangat membutuhkan mereka,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin meminta pemerintah dan aparat keamanan dapat terus memberikan rasa aman dan nyaman setelah terjadinya teror dan penembakan yang dilakukan KKB kepada para guru yang menelan dua korban jiwa serta membakar sejumlah sekolah di wilayah Distrik Beoga.

”Saya ucapkan duka yang mendalam. Peristiwa teror dan penembakan bukan yang pertama kali dilakukan KKB. Inilah teroris sesungguhnya. Aparat TNI dan Polri harus terus berjaga di setiap titik dengan jumlah personel yang memadai sehingga masyarakat dapat merasa tenang dan tidak takut dalam melakukan aktivitas keseharian,” kata Azis.

Lebih lanjut Azis menilai hampir setiap tahun peristiwa teror yang dilakukan KKB terjadi terhadap masyarakat sipil. Namun, aparat masih kerap kecolongan dan lambat dalam menangkap serta memburu kelompok tersebut. Aparat harus dapat segera menyelesaikan hal ini.

Sebelumnya, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka Sebby Sambom mengatakan, pihaknya menembak dua guru di Beoga karena mereka adalah mata-mata aparat keamanan di Beoga. ”Kami telah memetakan data anggota intelijen yang menyamar sebagai tenaga kesehatan, guru, dan aparatur sipil negara,” ujar Sebby.

Sepanjang tahun 2000, data dari Polda Papua menyebutkan terjadi 49 kali gangguan keamanan oleh KKB di Papua. Teror penembakan KKB terjadi di tujuh wilayah hukum Polda Papua, meliputi Nduga, Intan Jaya, Paniai, Mimika, Puncak Jaya, Keerom, dan Pegunungan Bintang. Sebanyak 17 orang meninggal akibat aksi KKB itu.

Pada tahun 2021, KKB sama sekali tidak menghentikan aksinya. Total sembilan kali penyerangan terjadi dan menyebabkan aparat keamanan dan warga menjadi korban. Tiga anggota TNI dan empat warga sipil meninggal. Sementara satu anggota TNI dan seorang warga mengalami luka berat karena terkena tembakan.

”Kerahkan seluruh kekuatan aparat keamanan kita. Jangan sampai warga Papua terus jatuh berguguran akibat ulah KKB. Mari kita duduk bersama untuk mencari solusi agar Papua aman dan damai serta masyarakat sejahtera,” ujarnya. (KOM)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 12 April 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: