Fasyankes Hasilkan Ribuan Kg Limbah B3 Infeksius

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manokwari mencatat, pengelolaan limbah B3 infeksius pada tujuh fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) di wilayah setempat selama masa pandemi Covid-19, mencapai 3454,9 kilogram (Kg). Jumlah ini terhitung sejak Maret sampai Agustus 2020.

Ketujuh Fasyankes tersebut adalah, RSU Provinsi Papua Barat, BLUD RSU Manokwari, RSU Pratama Warmare, Klink DMC, Rumkit TK. IV. Dimara, Rumkit DR. Azhar Zahir, dan Faksar Rusunawa. (Untuk rincian jumlah timbulan limbah B3 infeksius, lihat tabel).

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati, DLH Manokwari, Yohanes Ada Lebang, menuturkan, limbah infeksius yang termasuk dalam limbah B3, membutuhkan penanganan serius. Sehingga, limbah tersebut harus dibakar di incinerator yang telah terstandarisasi serta wajib memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup. Akan tetapi, semua incinerator di Manokwari belum mengantongi izin tersebut. Meski demikian, pihaknya masih memberikan toleransi hingga pandemi Covid-19 ini berakhir.

“Semua incenerator tidak berizin tetapi diperbolehkan selama masa pandemi. Setelah masa pendemi berakhir menjadi peringatan agar incenirator harus berizin dan sudah kita komunikasikan,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (28/8/2020) pekan lalu.

Ia menerangkan, limbah B3 infeksius dari RSU Provinsi Papua Barat dibakar Faksar Rusunawa, sedangkan BLUD RSU Manokwari telah melakukan pembakaran sendiri. RS Pratama dan Rumkit J.A Dimara melakukan pembakaran di Rumkit DR. Azhar Zahir, sedangkan Klinik DMC melakukan pembakaran sendiri.

“Baik dizona hijau, kuning, merah semua dibakar. Tidak hanya zona merah saja, tetapi semua sebagai antisipasi,” terang Lebang.

Ia menerangkan, total limbah infeksius mulai Maret-Agustus yang tercatat sebanyak 3.454,9 Kg telah dibakar dalam bentuk padatan termasuk APD, makser, sarung tangan, bekas makan, tempat tidur pasien, dan lainnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari masing-masing Fasyankes, rata-rata timbulan limbah paling meningkat di Mei-Juni dan terlihat mulai berkurang pada Agustus. Lebang berharap semua limbah padat harus dibakar di incinerator yang terstandarisasi oleh kementerian.

“Kita sudah koordinasikan untuk segera melakukan pendaftaran ke Kementerian Lingkungan Hidup. Diharapkan semua dapat bertanggung jawab untuk lingkungan, khususnya untuk pembakaran limbah B3 infeksius ini,” harapnya.

Selain itu, untuk limbah cair langsung masuk ke dalam IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

“Semua izin terkait dengan pengelolaan limbah setelah pandemi harus berijin. Saat ini masih ada toleransi karena pandemi,” tandasnya. (PB19)

**Artikel ini sudah terbit di Harian Papua Barat News, edisi Senin 31 Agustus 2020

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: