Jelang Pembukaan Gereja, Paroki-Paroki Siapkan Protokol Kesehatan Umat

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Keuskupan Manokwari Sorong (KMS) bersiap melakukan pembukaan peribadatan di gereja. Pada akhir pekan ini, Sabtu (1/8/2020), umat sudah bisa melaksanakan kembali perayaan ekaristi bersama atau misa publik di dalam gereja.

RD. Januarius Vaenbes, Pastor Rekan Paroki Santo Agustinus Manokwari menjelaskan, pelayanan misa bersama umat dibuka di gereja setelah Uskup Manokwari Sorong Mgr. Hilarion Datus Lega mengeluarkan Kebijakan Pastoral terkait Percegahan Covid-19, pada Sabtu (11/7/2020).

“Wilayah Keuskupan Manokwari Sorong yang mencakup 13 kabupaten/kota se Papua Barat saat ini berada dalam tahap persiapan akhir untuk pembukaan ibadat offline, pembukaan perayaan ekaristi publik atau yang dihadiri oleh umat di gereja-gereja,” kata Romo Jan saat dikonfirmasi Papua Barat News, Rabu (29/7/2020).

Romo Jan menjelaskan, pembukaan perayaan ekaristi atau misa publik dilakukan secara serentak di seluruh gereja-gereja Katolik di Keuskupan Manokwari Sorong.

“Sesuai petunjuk dari Uskup Manokwari Sorong, maka per tanggal 1 Agustus misa atau perayaan ekaristi publik mulai berlaku kembali,” katanya lagi.

Paroki Santo Agustinus Manokwari juga sudah membuat kebijakan dalam pencegahan penularan virus korona di tempat ibadah dengan membagi jadwal misa tiga kali perwilayah guna mengurangi kepadatan umat. Pelayanan Misa I dilaksanakan pada Sabtu sore pukul 18.00 WIT, Misa II pada Minggu pagi pukul 07.30 WIT, dan Misa III pada Minggu sore pukul 18.00 WIT. Kata Romo Jan, pembagian ini sebagai salah satu upaya gereja agar rumah ibadat jangan menjadi klaster penyebaran virus Covid-19.

“Kebijakan pembukaan perayaan ekaristi publik ini akan berlaku seterusnya, namun jika dalam perjalanan muncul kasus-kasus terkait Covid-19 maka akan segera dilakukan evaluasi. Prinsipnya kita menjaga agar gereja tidak menjadi sumber atau klaster penyebaran virus korona,” paparnya.

Selain membagi jadwal perayaan ekaristi sebanyak tiga kali perwilayah, menurut Romo Jan persiapan lain yang tak kalah penting adalah imbauan kepada umat untuk wajib mengenakan masker saat menghadiri misa di gereja.

“Jika ada orang mengatakan harta yang paling berharga adalah iman, maka sekarang kita juga mengatakan bahwa harta yang paling berharga untuk mecapai iman itu adalah masker,” katanya.

Gereja Santo Agustinus Manokwari juga mewajibkan umat yang akan mengikuti perayaan ekaristi di gereja mengikuti semua protokol kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah secara ketat, harus mencuci tangan, mengukur  suhu tubuh, memakai hand sanitezer, dan menjaga jarak aman di dalam gereja.

“Prinsipnya kami akan melakukan penanganan secara berlapis,” ujarnya.

Selain itu durasi misa juga diatur agar lebih pendek tidak seperti sebelumnya, agar ada waktu untuk penyemprotan disinfektan sebelum umat lain masuk mengikuti misa berikutnya. Ini sebagai bentuk mencegah memutus mata rantai penularan virus korona di gereja sebelum umat lain masuk mengikuti misa.

Dia menambahkan umat yang bukan anggota dari salah satu lingkungan atau wilayah rohani di Paroki Santo Agustinus, dapat mengikuti perayaan ekaristi di gereja, tentu setelah mengikuti prosedur standar terkait protokol kesehatan yang diterapkan oleh pihak gereja.

Romo Jan berharap umat tidak terlalu merasa kecewa dengan situasi adanya pembatasan dalam misa, karena ini sifatnya sementara waktu, juga demi kebaikan bersama dalam menjaga kesehatan.

“Yang pasti kebijakan ini sewaktu-waktu bisa berubah mengikuti perkembangan kasus Korona,” tutup dia.

Penelusuran Papua Barat News, persiapan pembukaan misa publik di gereja juga dilakukan oleh Paroki Immanuel Sanggeng, dengan membagi jadwal misa tiga kali perwilayah guna mengurangi kepadatan umat. Pelayanan misa pertama dimulai Sabtu sore pukul 18.00 WIT, kemudian misa kedua pada Minggu pagi pukul 08.00 WIT, misa III pukul 18.00 WIT.

Setiap umat yang akan datang untuk menghadiri misa di gereja, tetap wajib mengikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mengenakan masker selama perayaan ekaristi, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan dan bersalaman, menggunakan uang elektronik, dan menyarakan anak-anak dan lansia untuk tetap beribadah dari rumah. (PB1)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: