Limbah Infeksius Butuh Penanganan Secara Khusus

MANOKWARI, papuabaratnews.co  Limbah infeksius termasuk dalam bahan beracun berbahaya (B3). Untuk itu perlu pengelolaan dan penangan secara khusus karena, jumlahnya semakin meningkat di tengah pandemi Covid-19 yang masih masif kasusnya saat ini.

Limbah infeksius seperti sampah masker dan sarung tangan sekali pakai saat ini tidak hanya dihasilkan oleh fasyankes saja tetapi juga dari rumah tangga, sehingga tidak hanya mencemari lingkungan, namun dapat mengancam kesehatan manusia karena bisa menjadi sumber penyakit baru.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Manokwari, Yohanes Ada Lebang menjelaskan, ada standar operasional (SOP) terkait penanganan limbah infeksius.

“Ada anjuran dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait limbah infeksius. Setelah itu ada surat edaran juga dari Menteri Kesehatan terkait limbah infeksius. Limbah infeksius termasuk dalam limbah B3 dan dalam penanganannya harus sesuai dengan aturan yang ada dan harus dikelola secara khusus,” terangnya kepada Papua Barat News saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/7/2020).

Lebang berharap penanganan limbah infeksius dapat ditangani secara benar sesuai dengan SOP kesehatan. Artinya kalau sudah ada standar SOP untuk limbah B3, maka harus ditangani oleh tenaga khusus, ditampung dengan wadah khusus setelah itu diangkut oleh petugas khusus.

Dijelaskan Lebang, tempat pembuangan sampah sementara (TPS) juga harus disiapkan untuk menampung limbah infeksius.

“Penanganannya secara khusus dan pada intinya bahwa limbah infeksius ini termasuk limbah B3 sehingga kami dari DLH mengambil sikap untuk melakukan pengadaan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) khusus penanganan limbah infeksius,” jelasnya.

Namun dengan keterbatasan anggaran yang ada sehingga penanganan tersebut belum bisa dilakukan. Kendati demikian, pihaknya berupaya membangun koordinasi dengan pihak gugus tugas (gustu) Covid-19 Manokwari agar penanganan limbah infeksius dapat tertangani dengan baik.

“Mengingat kondisi keuangan saat ini, jika dianggarkan juga dana dari mana. Kendalanya disitu (anggaran). Tetapi kita sudah komunikasikan dengan pimpinan dan Gustu Covid-19 Manokwari apakah mereka bisa bantu untuk penganggarannya,” terangnya.

“Hanya saja kita belum rapatkan barisan untuk tindaklanjutnya pembiacaraan terkait penanganan khusus. Untuk rumah sakit tidak terlalu bermasalah, karena mereka (rumah sakit) telah memiliki SOP kesehatan dan mereka tahu bahwa itu berbahaya dan beracun,” imbuh Lebang.

Dikatakan Lebang, limbah infeksius dapat dimusnahkan menggunakan insenilator dengan suhu diatas 1.200 derajat celcius.

“Hari ini kita punya insenilator ada di RSUD, RSAL, Farmasi Provinsi Papua Barat, RSUD Papua Barat dan di pabrik semen conch (SDIC),” sebutnya.

Dari insenialor yang ada di Manokwari, hanya insenilator di pabrik semen Conch (SDIC)  yang diperkirakan sesuai dengan standar. Untuk itu pihaknya telah mengkomunikasikan dan akan menyurat kesana (Conch/pabrik semen)  untuk pemusnahan limbah infeksius.

“Harus dimusnahakn dengan suhu diatas 1.200 agar dioksin yang dihasilkan sampahnya lebih minim dan tidak menimbulkan dampak baru yang lebih banyak. Memang ada debu yang dihasilkan tapi lebih sedikit dibanding ketika dimusnahkan dibawah suhu 1.200 derajat celcius,” tukas Lebang.

Dijelaskan Lebang bahwa pihaknya belum bisa memaparkan perbandingan data peningkatan jumlah limbah infeksius sejak sebelum dan setelah adanya pandemi Covid-19, karena pihaknya masih menunggu laporan data dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang ada di Manokwari. (PB19)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: