Manokwari Posisi Teratas Kasus Malaria se-Papua Barat

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Selain Papua dan Nusa Tenggara Timur, Papua Barat merupakan salah satu provinsi endemi malaria. Kasus malaria tertinggi se-Papua Barat ada di Kabupaten Manokwari yang merupakan ibu kota provinsi tersebut.

Berdasarkan data Maret 2021, jumlah kasus malaria di Manokwari mencapai 5.388 kasus.

“Pada akhir Desember 2020 tercatat sebanyak 4.845 kasus. Sedangkan selama Januari sampai Maret 2021, ada penambahan 530 kasus. Jadi jumlahnya mencapai 5.388 kasus,” ujar Pengelola Program Malaria Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari Trence Bosayor di Manokwari, Rabu 28 April 2021.

Dia mengatakan, dengan data jumlah kasus yang ada, Kabupaten Manokwari menjadi daerah dengan tingkat kasus malaria tertinggi di Papua Barat. Selain Manokwari, masih ada beberapa daerah lain yang kasusnya cukup tinggi berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Teluk Wondama, Manokwari Selatan dan Tambrauw.

“Untuk saat ini, memang Manokwari masih terbilang lebih banyak kasusnya,” kata dia.

Menurut Trence, dari data penyebaran kasus Malaria yang diperoleh dari seluruh layanan kesehatan yang ada di Kabupaten Manokwari, ada beberapa wilayah yang menunjukkan jumlah penderita malaria atau Annual Parasite Incidence (API) yang cukup tinggi. Wilayah tersebut diantaranya Mansinam, Amban, Prafi, Masni dan Sidey.

“Jadi API itu tinggi bukan karena jumlahnya penderita yang banyak. Tapi karena perbandingan antara API dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Kalau kasus tinggi tapi penduduk di wilayah tersebut banyak maka APInya tergolong kecil,” ungkap Trence.

Dirinya mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mengoptimalkan pelaksanaan bimbingan teknis kepada para kader malaria yang ada di setiap layanan kesehatan maupun kader malaria yang tersebar di kampung-kampung. Hal tersebut disebabkan karena adanya pandemi yang membatasi pertemuan secara langsung.

“Juga karena keterbatasan tenaga kami yang banyak ditugaskan untuk menangani pandemi Covid-19. Tapi kami usahakan tahun ini kami jalankan,” terang dia.

Untuk menekan jumlah kasus, lanjut Trence, pihaknya sudah memprogramkan beberapa kegiatan seperti penyemprotan ke dinding rumah di kawasan dengan jumlah kasus yang tergolong tinggi. Rencananya, kegiatan tersebut dijalankan pada akhir bulan April 2021. Akan tetapi karena menunggu pencairan anggaran karena penetapan DPA yang terlambat maka kemungkinan waktu pelaksanaannya dapat bergeser.

“Kami geser ke bulan Mei dengan target  utama di daerah Amban. Karena kasus malaria di daerah itu meningkat signifikan dalam tiga bulan terakhir. Juga di Distrik jauh seperti Prafi, Masni dan Sidey,” imbuhnya.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga mengagendakan pelaksanaan screening massal untuk mengetahui perkembangan kasus di setiap wilayah. Terutama wilayah pemukiman padat penduduk yang ada di Manokwari.

“Dari data yang diperoleh pada saat screening massal itu, kami kemudian menentukan titik penyemprotan,” katanya.

Dikonfirmasi perihal ketersediaan obat malaria pada Dinas Kesehatan Manokwari, dirinya menjelaskan, saat ini stok obat cukup memadai di gudang Farmasi. Akan tetapi, dengan adanya pola satu pintu yang diberlakukan saat ini maka pihaknya hanya dapat mendistribusikan obat dan logistik lainnya ke fasilitas kesehatan berdasarkan permintaan yang diajukan. Setiap Faskes diwajibkan membuat laporan kasus dan mengajukan permohonan obat berdasarkan kebutuhan melalui Dinas Kesehatan.

“Dari laporan kasus yang masuk, faskes juga menyertakan permintaan obatnya. Sehingga jumlah obat yang dikeluarkan dari gudang disesuaikan dengan laporan dan permintaan,” pungkasnya. (PB25)

 

**Artikel ini Telah DIterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 29 April 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: