Masyarakat Tambrauw Diminta Tidak Konsumsi Penyu Belimbing

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) salah satu jenis reptil raksasa dari suku Dermochelyidae yang masih  hidup di wilayah pesisir Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw merupakan salah satu ikon Kabupaten Tambrauw. Karena itu keberadaan Penyu Belimbing terus mendapat perhatian sejumlah pihak di wilayah Tambrauw.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tambrauw, Cosmas Baru meminta masyarakat di wilayah pesisir Tambrauw tidak menangkap dan mengkonsumsi penyu belimbing dalam jumlah yang besar, guna mencegah terjadinya kepunahannya di wilayah pesisir Tambrauw.

“Kabupaten Tambrauw sudah ditetapkan sebagai daerah konservasi karena itu segala satwa dan tumbuhan yang ada di wilayah Tambrauw dilindungi. Apalagi Penyu Belimbing yang selama ini sudah dikenal sebagai maskot Kabupaten Tambrauw,” ujarnya kepada Papua Barat News, akhir pekan lalu.

Cosmas menyebutkan selama ini beberapa kampung di wilayah pesisir masih melakukan penangkapan Penyu Belimbing untuk dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Menurutnya Penyu Belimbing sebagai salah satu satwa endemi di wilayah pesisir Tambrauw harus dilindungi agar tidak punah. Karena itu dia akan mendorong terbitnya regulasi pelarangan penangkapan dan konsumsi Penyu Belimbing dalam jumlah yang besar.

“DPR akan mengevaluasi terkait masih terjadinya penangkapan dalam jumlah yang besar,  bila perlu akan didorong ke perda larangan penangkapan Penyu Belimbing agar tidak punah.

Cosmas menyebutkan, DPRD bersama Pemda Tambrauw sudah menetapkan regulasi kawasan wilayah Tambrauw sebagai Kabupaten konservasi. Karena itu dengan otomatis flora maupun fauna yang ada di wilayah Tambrauw dilindungi. Secara khusus jenis satwa endemi seperti  Penyu Belimbing yang menjadi maskot Kabupaten Tambrauw.

“Sejauh ini sudah diadakan MOU ditingkat pimpinan antara pemda dan aparat penegak hukum terkait penindakan bagi tindak pelanggaran wilayah Konservasi,” terang Cosmas.

Dia berharap masyarakat mulai membatasi penangkapan Penyu Belimbing untuk kepentingan konsumsi dalam jumlah besar. Hal ini dikatakannya berpotensi pada berkurangnya populasi Penyu Belimbing di wilayah pesisir pantai Tambrauw. Karena itu Cosmas meminta agar pola konsumsi masyarakat beralih dari mengkonsumsi Penyu Belimbing menjadi menjaga.

“Kita semua berharap agar masyarakat membatasi pola konsumsi dan penangkapan Penyu Belimbing agar tidak punah,” katanya.

Taman Pesisir Jeen Womon

Habitat penyu belimbing di Tambrauw berlokasi di dua kawasan pantai, yaitu pantai Jamursba Medi (Jeen Yessa) dan pantai Warmon (Jeen Syuab). Kedua pantai penting yang masuk dalam wilayah Distrik Abun tersebut, pada 2015 dilebur menjadi satu kawasan dan diberi nama pantai Jeen Womom oleh masyarakat adat setempat.

Perubahan nama tersebut dilakukan saat upacara adat pemanggilan Penyu Belimbing oleh masyarakat adat di tahun tersebut. Perihal pemberian nama Jeen Womom, masyarakat adat memilihnya karena itu berasal dari bahasa setempat dan bermakna sebagai pantai penyu. Jarak kedua pantai yang sudah dilebur tersebut mencapai 30 kilometer.

“Perubahan nama tersebut diresmikan melalui SK Bupati No.522/303 Tahun 2015. Dalam SK tersebut dijelaskan bahwa kedua pantai yang sudah dilebur tersebut total luasnya mencapai 32.250,86 hektare,” jelas dalam keterangan resmi WWF.

Selain penyu Belimbing, di Jeen Womom juga terdapat tiga jenis penyu yang statusnya kini dilindungi oleh Pemerintah Indonesia. Ketiga penyu tersebut, adalah Lekang (Lepidochelys olivacea), Hijau (Chelonia mydas), dan Sisik (Eretmochelys imbricata). Keempat jenis penyu yang menjadikan Jeen Womom sebagai habitat, terbiasa melakukan peneluran rutin sepanjang tahun.

Atas dasar pertimbangan sebagai habitat penyu, Pemerintah Indonesia kemudian memutuskan Jeen Womom sebagai Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) dan kemudian dikelola menjadi Taman Pesisir (TP) Jeen Womom. Keputusan tersebut diatur resmi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.53/KEPMEN-KP/2017 tertanggal 22 Desember 2017 tentang Kawasan konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Jeen Womom Kabupaten Tambrauw dan Perairan sekitarnya.

Penetapan sebagai Taman Pesisir (TP) tersebut memberi kontribusi dalam pencapaian visi dan misi Kabupaten Tambrauw yang mendeklarasikan diri sebagai kabupaten konservasi. Apalagi, Tambrauw sebelumnya telah menjadi kabupaten pertama di Papua Barat yang menyerahkan Prasarana, Personel, Pendanaan dan Dokumen (P3D) dibidang Kelautan kepada Pemprov Papua Barat sebagai amanat UU No.23 Tahun 2014. Dengan luas kawasan mencapai 32.000 hektar lebih, kawasan ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat setempat dan Pemkab Tambrauw. (PB22)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: