Menara Gereja Santo Agustinus Manokwari Diresmikan

  • Tinggi menara mencapai 31 meter

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Uskup Manokwari-Sorong Mgr. Hilarion Datus Lega meresmikan Menara Lonceng Gereja Santo Agustinus di Jalan Brawijaya, Distrik Manokwari Barat, Manokwari, Minggu (18/10/2020). Menara setinggi 31 meter ini dibangun berdampingan dengan gedung Gereja Paroki Santo Agustinus, yang berdiri di atas Bukit Jalan Brawijaya .

Dari menara itu, warga dapat mengabadikan foto sendiri atau bersama teman dan kerabat dengan latar belakang pemandangan indah kota Manokwari dan wilayah perairan Manokwari yang dihiasi dengan beberapa pulau.

Acara peresmian dihadiri Asisten I Bidang Tata Praja Setda Manokwari, Wanto, mewakili Bupati Manokwari dan Staf Ahli Gubernur Papua Barat Bidang Pembangunan Nicolas U Tike mewakili Gubernur Papua Barat.

Mgr. Hilarion Datus Lega mengatakan Paroki Santo Agustinus Manokwari di Keuskupan Manokwari Sorong merupakan sebuah anamnese, yang secara harafiah berarti kehadiran kembali. Bukan hanya karena bernilai historis, melainkan juga bernilai aktual dan bahkan prospektif.

“Marilah kita mengenang keperintisan masa lalu, yang telah membawa kita menapaki berbagai anugerah saat ini, untuk kita perjuangkan terus bagi kegemilangan dan pencerahan di masa depan,” ungkap uskup dalam homilinya.

Uskup Hilarion menerangkan, sebagai sebuah anamnese, maka menara lonceng Gereja Santo Agustinus Manokwari dirancang menyerupai Sibori, yaitu sebuah wadah untuk menampung Hosti yang akan dibagi-bagikan kepada umat. Sementara gedung gereja yang diberkati dan diresmikan pada 28 Agustus 2017 lalu dirancang menyerupai Monstrans, yaitu sebuah wadah untuk memperlihatkan Sakramen Maha Kudus kepada umat dalam upacara Adorasi Ekaristi dan Pemberkatan Sakramen Maha Kudus (Salve).

“Simbolisasi gedung gereja dan menara lonceng adalah menghimpun semua yang dibutuhkan manusia untuk menampakkan kemuliaan Allah. Karena itu seperti lengkap dan menjadi sebuah anamnese, yang menghadirkan dan memancarkan kemuliaan Tuhan dari atas Bukit Jalan Brawijaya ini,” katanya.

Uskup lalu berharap kehadiran gedung gereja dan menara lonceng yang diresmikan kemarin itu memancarkan nilai dan keutamaan Tuhan, yang harus terus diresap dan meresapi semua umat.

Ketua Panitia Pembangunan Gereja, Alex Irsiandi, menyebutkan diperlukan waktu dua tahun, tiga bulan, tiga hari, untuk menyelesaikan menara lonceng yang batu pertamanya yang juga diletakkan Uskup Manokwari Sorong, pada 15 Juli 2018 lalu.

Alex menuturkan, gambar menara lonceng berbalut motif emas yang belum selesai dikerjakan konsultan kemudian dilanjutkan Gaspar Junior, yang juga jadi pengawas pembangunan.

“Sayangnya, Gaspar Junior tak bisa menyaksikan peresmian menara lonceng itu, karena dia kembali ke Rumah Bapa di Surga pada 25 September 2020 lalu,” ujarnya.

Para hadirin pun mengheningkan cipta sejenak dalam misa peresmian dan pemberkatan yang dihadiri istri almarhum untuk mengenang beliau.

Pembangunan menara lonceng ini menelan anggaran Rp 2.681.819.000. Anggaran itu berasal dari sumber dana kas panitia sisa pembangunan gereja Rp 688.471.000, kolekte kedua pembangunan Rp 390.232.000, sumbangan umat spontanitas termasuk sewa alat berat, scaffolding dan bazaar panitia di depan gereja Rp 729.371.000.

Juga dana hibah Pemkab Manokwari di masa almarhum Bupati Demas Paulus Mandacan Rp 750 juta, dan hibah Pemprov Papua Barat melalui Gubernur Dominggus Mandacan Rp 500 juta.

“Panitia sampai saat ini masih menyisakan dana Rp 376.255.000,” ungkapnya

Adapun untuk mencapai puncak menara lonceng Gereja Santo Agustinus Manokwari setinggi 31 meter itu, terdapat 100 buah anak tangga yang harus dilewati. Anak tangga tersebut dibuat dengan bentuk melingkar hingga ke puncak. (PB25)

Artikel ini telah terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 19 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: