Penerimaan Bea dan Cukai di Papua Barat Tembus Rp9,79 Miliar

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Realisasi penerimaan bea dan cukai di wilayah Papua Barat selama tahun 2020, masih tumbuh positif meski dilanda pandemi Covid-19. Total penerimaan bea dan cukai mencapai Rp9.791.194.000.

Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPP BC) Manokwari Johan Pandores mengatakan, pokok penerimaan meliputi bea masuk, cukai dan bea keluar. Selama masa pandemi, berbagai kebijakan extraordinary APBN bersifat ekspansif terus dilakukan agar penerimaan bisa berjalan sesuai ekspektasi.

Di Provinsi Papua Barat, kata dia, penerimaan dilakukan oleh tiga kantor yakni KPP BC Manokwari, KPP BC Sorong dan KPP BC Fakfak.

Masing-masing kantor memiliki target dan realisasi yang berbeda.

“Semuanya tumbuh positif,” ujar dia saat konfrensi pers realisasi pelaksanaan APBN tahun 2020 di Gedung Keuangan Negara Manokwari, Selasa (12/1/2021).

Dia merincikan, KPP BC Manokwari berhasil mengumpulkan bea dan cukai sebesar Rp1.203.067.000 atau sekitar 116 91% dari target selama tahun 2020 yakni Rp1.029.036.000. Kemudian, realisasi penerimaan dari KPP BC Fakfak sebesar Rp6.059.238.000 atau 173,45% dari target Rp3.493.270.000. Selanjutnya, KPP BC Sorong berhasil mencatat penerimaan sebesar Rp2.528.889.000 atau 112,68% dari target Rp2.061.421.000. Sehingga, akumulasi penerimaan bea dan cukai dari tiga kantor di Papua Barat sebesar Rp9.791.194.000. “Realisasi pencapaian di atas 100% semua,” ucap Johan.

Dia melanjutkan, penerimaan bea cukai Manokwari didominasi kegiatan impor yang dilakukan oleh PT SDIC Papua Cement Indonesia. Sementara di Sorong, penerimaan didominasi kegiatan impor umum berupa barang modal atau barang industri, bea cukai 28 dari pengeluaran dari pusat logistik berikat dan Pengenaan Bea Masuk Pungutan Kiriman Pos (PPKP) barang kiriman.

Selanjutnya, penerimaan bea cukai di Fakfak didominasi oleh kegiatan ekspor wood in chip, dan kegiatan impor alat berat dalam industri.

“Sebagaimana kita ketahui di Pelabuhan Sorong ada kegiatan ekspor impor juga,” jelas dia.

“KPP BC Fakfak ini ada industri, karena di sana ada LNG Tangguh dan pembangunan pabrik pupuk,” kata dia menambahkan.

Johan optimis, penerimaan bea dan cukai pada tahun 2021 mengalami peningkatan dari tahun 2021. Hal ini dipengaruhi adanya upaya pemulihan ekonomi pascapandemi yang gencar dilakukan pemerintah. “Kami optimis penerimaan bea cukai meningkat,” tutur dia.

Untuk itu, sejumlah strategi siap diaplikasikan demi merealisasikan optimisme tersebut. Strategi itu meliputi, ekstensifikasi faktor penerimaan, penguatan join program antara Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Direktorat Jenderal Anggaran, penguatan kerjasama dengan kementrian lembaga serta alat penegak hukum untuk mengamankan penerimaan negara, penguatan proses pemeriksaan dan pengelolaan penerimaan, serta pemberantasan dan penurunan peredaran barang kena cukai ilegal.

“Perizinan, pemeriksaan barang impor. Dan, Bea Cukai tetap lakukan operasi agar barang-barang ilegal tidak masuk dan penerimaan negara bisa meningkat,” ujar dia. (PB15)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 13 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: