Percaya Tuhan atau Korona

Oleh: Sam Sirken, Pemimpin Redaksi Papua Barat News

PERDEBATAN ilmu pengetahuan dan agama sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Dalam tradisi kekristenan, pertarungan ilmu pengetahuan dan agama terjadi ketika ilmuwan Galileo Galilei berhadapan dengan otoritas gereja. Pada 12 April 1633, Galileo disidangkan Pengadilan Inkuisisi Gereja Katolik karena berteori bumi bukanlah pusat jagat raya, tapi matahari. Gereja dan umat kala itu meyakini seyakin-yakinnya, haqul yaqin, bahwa bumi pusat semesta, dan mataharilah yang mengelilingi bumi. Galileo dipaksa mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman tahanan rumah seumur hidup. Galileo di-lockdown atau dikarantina di rumah bukan karena virus korona, melainkan karena virus keyakinan agama.

Saat ini kita kembali menyaksikan pertarungan agama dan ilmu pengetahuan dalam perang melawan teror virus korona. Pertarungan itu tergambar ketika pemerintah dan otoritas agama membatasi ibadah demi menahan laju penyebaran korona.

Yang dibatasi sesungguhnya bukan ibadah, melainkan kerumunannya. Ilmu pengetahuan mengatakan virus korona menyebar atau menular ketika terjadi kontak fisik dan sosial terlampau dekat. Salah satu upaya menghadang penyebaran virus korona ialah dengan pembatasan jarak, social distancing.

Fakta menunjukkan virus korona di Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Iran berawal dari kebaktian di gereja atau mengikuti acara Tabligh Akbar di masjid. Sebanyak 60 persen dari sekitar 4000 kasus virus korona di Korea Selatan dikonfirmasi merupakan anggota Gereja Shincheonji Yesus, alhasil Lee Man-hee, pemimpin gereja itu dijerat pasal pembunuhan karena dituding jadi dalang penyebaran virus korona di Korea Selatan.

Di Iran, virus korona berjangkit pertama kali di Qom, kota suci tempat berziarah penganut Syiah.  Kota Qom kini bagai ‘Wuhan’-nya Timur Tengah. Pejabat pemerintah Iran banyak jadi korban, salah satunya Wakil Presiden Iran Masoumeh Ebtekar. Selain Ebtekar, dua anggota parlemen, termasuk ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, juga telah terinfeksi, demikian pula walikota sebuah distrik di Teheran dan seorang ulama senior yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Iran untuk Vatikan bahkan dilaporkan meninggal karena terpapar virus korana.

Sementara di Malaysia, sebagian besar kasus baru virus korana terkait dengan acara Tabligh Akbar yang digelar di Masjid Sri Petaling Kuala Lumpur pada 28 Februari hingga 1 Maret lalu. Tiga warga negara Indonesia asal Sumatra Utara positif terjangkit korona setelah mengikuti tablig akbar itu.

Oleh karena itu, yang dibatasi ialah ibadah yang berkerumun, seperti shalat Jumat, misa atau kebaktian. Dibatasi bukan dilarang sama sekali, melainkan ditunda atau diganti dengan mekanisme ibadah yang meniadakan kerumunan. Shalat Jumat diganti shalat zuhur. Kebaktian di gereja diganti dengan kebaktian online atau daring. Toh, kata Pendeta Gomar Goeltom, “Allah kita bukanlah Allah yang gagap teknologi.”

Akan tetapi, masih banyak orang yang mengatasnamakan agama mencoba melawan ilmu pengetahuan. Mereka serupa gereja abad pertengahan yang “kurang gaul” bahkan paranoid dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Coba simak status seorang teman di laman Facebook-nya: “Mohon maaf sy mau tanya tlg diluruskan apakah hidup mati tiap-tiap orang diatur sama siapa, apakah sama covid-19 atau sama TUHAN JESUS? Jd sekarang ini kita percaya sama siapa? Apakah percaya sama covid-19 atau sama Tuhan JESUS. Mohon jawabannya!”

Masih banyak jemaat masjid yang mengikuti shalat Jumat di masjid-masjid di kota Manokwari. Demikian juga gereja-gereja dan sejumlah komunitas jemaat kristen masih melaksanakan ibadah, selama akhir pekan kemarin. Mereka beralasan belum ada kasus positif, masih sehat, dan tetap percaya Tuhan. Mereka seperti tidak khawatir karena Tuhan menjamin kesehatan dan keselamatan mereka.

Agama sejak lama sesungguhnya telah mengakomodasi dan mengakui kebenaran ilmu pengetahuan. Agama dalam banyak hal sejalan dengan ilmu pengetahuan. Agama telah melakukan ‘gencatan senjata’ dengan ilmu pengetahuan. Pemuka agama atau ulama telah berdamai dengan pemuka ilmu atau ilmuwan.

Meski baru pada 1990-an atau lebih dari 350 tahun kemudian gereja mengakui kebenaran teori matahari pusat alam semesta dan bumi itu bulat  yang dibikin Galileo dan merehabilitasi namanya. Gereja tidak lagi percaya bumi itu datar. ‘Kaum bumi datar’ menjadi julukan bagi kaum beragama yang tidak mengakui kebenaran ilmu pengetahuan.

Uskup Keuskupan Manokwari Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega meminta semua gereja Katolik di Papua Barat untuk meniadakan misa dan semua ritual peribadatan, baik di tingkat paroki, stasi, lingkungan, wilayah dan sebagainya mulai 21 Maret hingga 2 April 2020. Umat Katolik diminta mengikuti misa yang disiarkan secara streaming. Ia menegaskan, anjuran ini dibuat untuk menghindari kerumunan dan dalam rangka membendung laju penyebaran virus korona.

Sebelumnya, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mengatakan MUI telah menerbitkan fatwa anjuran mengganti shalat Jumat dengan salat zuhur di rumah. Anwar Abbas mengatakan MUI akan mencabut fatwa tersebut bila ada virolog atau ahli virus yang bisa meyakinkan bahwa berkumpul di masjid tidak berpotensi menyebarkan virus korona. ***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: