Stok Obat Kosong, Warga Kebar Kesulitan Berobat

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Kondisi pelayanan kesehatan di Kabupaten Tambrauw khususnya di Puskesmas Snopi dan Kebar sangat memprihatikan. Dua puskesmas yang berdiri megah di tengah pemukiman masyarakat tidak memiliki stok obat yang memadai bahkan sering kehabisan obat. Sehingga membuat warga setempat kesulitan berobat.

Itulah yang dialamai oleh Novalis Inam, bocah lima tahun di Kampung Inam, Distrik  Kebar Timur. Novalis hanya bisa terbaring sakit dalam pangkuan ibunya, akibat diserang  sakit muntaber. Karena tidak memperoleh obat-obatan yang diperlukan melalui Puskesmas, bocah itu hanya bisa diobati dengan obat-obatan tradisional.

“Anak ini sakit muntaber tapi tidak ada obat dan juga tidak ada kegiatan posyandu,” kata Theresia Auri ibu Novalis kepada Papua Barat News di Kebar.

Menurut Theresia sakit muntaber ini tidak hanya dialami oleh Novalis, tapi juga diderita oleh beberapa warga di kampungnya itu. Mereka semua kesulitan  memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas.

“Sejak pandemi Covid-19 tahun lalu sampai sekarang ini, tidak ada kegiatan posyandu dan juga tidak ada perawat yang datang memberikan obat. Sebetulnya kami bisa turun ke Manokwari, tapi kami tidak punya uang untuk ongkos kesana,” ujarnya.

Falentin Baransano, warga setempat juga mengungkapkan kendala serupa. Dia menuturkan tidak beroperasinya Puskesmas Kebar menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama obat-obatan.

Falentin mengaku luka-luka di tubuhnya tidak sembuh-sembuh, lantaran tidak ada obat yang bisa digunakan untuk mengobatinya.

“Saya dan suami memilih menggunakan obat alami, seperti dedaunan. Kami pakai obat apa adanya karena kondisinya memang seperti ini,” terangnya.

Falentin menuturkan dirinya beberapa kali coba mendapatkan obat dengan menitipkan uang di pedagang yang datang dari Manokwari.

“Biasanya kami titip uang di mas jawa (pedagang, red) yang turun ke Manokwari. Mereka membeli dan bawa naik kembali ke kampung,” kisahnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, Otto Parorongan mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw, untuk mengetahui letak persoalan tersebut.

“Kami akan segera berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw, untuk menanyakan sebetulnya apa yang terjadi di Kebar,” ujarnya.

Menurut dia, jika ada kesulitan stok obat, sebetulnya Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw bisa menyurat Dinkes Provinsi Papua Barat untuk bantu mendistribusikan obat-obatan bagi masyarakat.

“Selama ini Puskesmas Senopi dan Kebar selalu mengambil obat di Provinsi. Intinya bikin surat permintaan kebutuhan obat-obatan, kami pasti akan melayani secera gratis,” pungkasnya. (PB22)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 26 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: