Tahap I Kasus Kematian Sumiati Segera Dilakukan

  • Warinussy : harus ada rekonstruksi

MANOKWARI, papuabaratnews.co Penyidik dari Kepolisian Resor (Polres) Manokwari dalam waktu dekat akan segera melimpahkan berkas tersangka pembunuh Sumiati Simanullang yang berinisial DI, ke Kejaksaan Negeri Manokwari. Pelimpahan berkas tahap I ini, baru pertama kalinya setelah DI ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu (1/7/2020) lalu.

“Keterlambatan ini karena penyidik menunggu surat resmi hasil autopsi dari Labfor Polda Sulawesi Selatan. Nanti kita lihat, pelimpahan tahap 1 ini kalau Jaksa nyatakan lengkap, langsung kita tahap 2 kan,” kata Kabid Humas Polda Papua Barat, AKBP Adam Erwindi, kepada Papua Barat News, Selasa (11/8/2020).

Ia menjelaskan, sebagaimana pemberitaan, realess Kepolisian terkait hasil autopsi jasad korban pembunuhan tersebut adalah merupakan informasi yang diterima penyidik secara elektronik, bukan fisik atau dalam bentuk surat walau hasilnya sama. Namun guna proses pelimpahan, maka penyidik membutuhkan surat resmi (sah) sebagai syarat kelengkapan berkas perkara.

“Jadi yang ditunggu penyidik itu surat hasil autopsi, surat sah berisi tanda tangan, stempel dan lain sebagainya. Itu pengirimannya kan lewat pos. Dan sambil menunggu itu, penyidik terus lakukan pemeriksaan saksi-saksi terkait,” kata Erwindi.

Kendati demikian, hingga kini Kepolisian belum memberikan keterangan detail terkait pembunuhan kontroversial tersebut. Belum ada gelar perkara ataupun reka ulang adegan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh DI terhadap Sumiati Simanullang. Bahkan, darimana tersangka mendapatkan senyawa kimiawi tersebut pun masih menjadi misteri.

Menurut Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, penyidik kepolisian perlu dan harus menggelar rekonstruksi (reka ulang) untuk dapat mengungkap fakta-fakta lain terkait kasus pembunuhan tersebut.

Dari hasil rekonstruksi, dapat diketahui apa, dari mana dan bagaimana atau dengan kata lain, peran tersangka menjadi jelas. Apalagi, rekonstruksi merupakan satu dari empat metode pemeriksaan kasus tindak pidana.

“Ada empat teknik metode pemeriksaan untuk bisa mendapatkan keterangan, yakni interview, interogasi, konfrontasi, dan rekonstruksi,” ujar Warinussy.

“Ini yang saya maksud rekonstruksi, sehingga kedudukan atau peranan maupun barang bukti dalam tindak pidana tersebut menjadi jelas,” katanya lagi.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Sumiati Simanullang diduga alami gagal pernapasan hingga membuatnya meninggal dunia akibat disuntik semacam senyawa kimiawi berwarna hitam oleh DI. Tersangka tega membunuh ibu beranak dua itu lantaran dendam atau sakit hati kepada korban.

Korban ditemukan tewas secara mengenaskan di areal pemukiman penduduk Sowi Gunung Manokwari pada awal Maret lalu, setelah sebelumnya dikabarkan hilang selama kurang lebih empat hari. Ironisnya, lokasi ditemukan jasad korban ternyata tidak jauh dari kediamannya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, DI dijerat Pasal 338 KUHP atau Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau pidana seumur hidup atau paling lama pidana 20 tahun penjara. (PB13)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: