Tokoh Arfak dan Batak Sepakat Cegah Anarkisme

  • Ayok Ingatkan Kejadian Agustus 2019 Tak Boleh Terulang

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Tokoh suku Arfak, Papua Barat, Obet Arik Ayok Rumbruren mengingatkan semua pihak akan rentetan unjuk rasa massal yang berujung pada aksi anarkisme pada pertengahan Agustus sampai akhir September 2019 di Tanah Papua cukup terjadi sekali. Kerusuhan yang terjadi saat itu merupakan buntut ujaran bernada rasis terhadap mahasiswa asli Papua di Surabaya, Jawa Timur.

“Kejadian di Manokwari dua tahun lalu cukup sekali, jangan terulang lagi. Aksi-aksi unjuk rasa apalagi sampai anarkis itu hanya akan merugikan kita semua,” kata Ayok dalam pertemuan bersama sejumlah tokoh masyarakat Batak di Manokwari, Selasa (26/1/2021). Dalam pertemuan itu, hadir Kapolres Manokwari AKBP Dadang Kurniawan, sebagai pihak netral.

Menurut Ayok, ujaran bernada rasis yang dilontarkan Ambroncius Nababan terhadap aktivis HAM asal Papua Natalius Pigai merupakan pernayataan pribadi, bukan pernyataan yang mengatasnamakan kelompok untuk menyerang etnis tertentu.

Obet yang juga merupakan Ketua MEKESA itu, meminta masyarakat Papua agar jeli melihat duduk persoalan, walau memang tak bisa dipungkiri bahwa ulah Ambroncius berujung pada ketersinggungan. Namun, kata Ayok, sekali lagi perbuatan itu merupakan ulah oknum, bukan mengatasnamakan golongan atau suku tertentu.

“Itu personal jadi tidak perlu ribut, apalagi masalah sudah ditangani Mabes Polri. Kita mendorong serta mengawal saja, agar proses hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Ayok.

“Besok akan ada pertemuan seluruh kepala suku, baik Papua dan nusantara di Polres Manokwari. Disitu kita sepakati siapa pun yang melontarkan ujaran rasis harus diproses hukum,” katanya lagi.

Sementara, Kapolres Manokwari AKBP Dadang Kurniawan mengatakan, Polres dan Polda Papua Barat sangat terbuka untuk menerima laporan apa pun. Tanpa menunggu lama, dua laporan rasisme dari Polda Papua Barat, langsung diteruskan ke Bareskrim Mabes Polri. Tujuannya, agar mempercepat proses hukum sesuai permintaan masyarakat Papua.

“Mari kita kawal bersama kasus ini. Kita selesaikan permasalahannya dengan cara-cara yang elegan. Tidak perlu buka peluang untuk oknum-oknum yang mengambil kesempatan dan ingin mengacaukan Manokwari,” katanya.

Senada, Ketua Kerukunan Masyarakat Batak (KMB) Papua Barat Dolok Panjaitan pun mengecam perilaku rasisme yang dilakukan oleh Ambrocius Nababan. Sebagai bentuk dukungan terhadap proses hukum, Ia atas nama Kerukunan mendorong penanganan hukum yang sementara ditangani Mabes Polri.

“Masyarakat Batak di Papua Barat, tidak terlibat dengan ulah pernyataan pribadi oknum tersebut. Kami yang sudah lama tinggal di Papua, ikut geram dan mendukung agar yang bersangkutan segera diproses hukum,” katanya. (PB13)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 27 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: