PLN Dorong Pelaku Usaha Pertanian Terapkan Dedieselisasi

MERAUKE, papuabaratnews.co –  PT PLN (Persero) berupaya agar program dedieselisasi dapat diterapkan oleh pelaku usaha di sektor pertanian.

Program ini merupakan upaya PLN mengkonversikan unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Papua & Papua Barat (UIWP2B) Abdul Farid mengatakan, pihaknya terus mendorong pelaku usaha sektor pertanian dapat mengaplikasikan program dedieselisasi dalam kegiatan bisnis mereka. Konversi PLTD ke EBT ini selaras dengan program electrifying agriculture, yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Pelayanan listrik terus kami maksimalkan untuk para pemilik usaha. Kami ingin listrik yang andal dapat memberikan manfaat yang besar,” kata Abdul Farid melalui keterangan resmi yang diterima Papua Barat News di Manokwari, Selasa (30/3/2021).

Dia berharap, pelaku usaha lainnya dapat memanfaatkan kemudahan program yang ditawarkan oleh PLN. Sehingga, dapat memberikan efek positif terhadap peningkatan produktivitas usaha di sektor pertanian.

“Dan dapat meningkatkan daya saing yang baik, khususnya di tengah pandemi seperti sekarang ini,” terang dia.

Sementara itu, Sudarno, salah satu pelaku usaha penggilingan padi ‘Berkah Vitary’ yang terletak di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, mengatakan, semua mesin penggilingan padi miliknya telah menggunakan tenaga listrik. Program dedieselisasi sudah diterapkan sejak tahun 2019 lalu.

“Sebelumnya hanya sebagian mesin menggunakan tenaga listrik dan sebagiannya menggunakan BBM. Tapi sekarang sudah beralih semuanya menggunakan listrik,” ujar Sudarno.

Dia mengapresiasi inovasi yang ditawarkan oleh PLN dalam mengembangkan dunia usahanya. Sebab, sejak beralih menggunakan mesin tenaga listrik biaya operasional yang dikeluarkan berkurang hingga 40 persen jika dibandingkan dengan penggunanaan mesin diesel.

“Dulu kami  menghabiskan BBM sebanyak 75 liter per hari. Jadi kalau dihitung-hitung, kami harus mengeluarkan biaya kurang lebih Rp600 ribu,” jelas dia.

Selain menekan biaya operasional, sambung dia, penggunaan mesin bertenaga listrik jauh lebih efektif dan efisien. Aktivitas penggilan padi pun jauh lebih cepat dan menghasilkan kualitas yang baik.

Untuk mendukung kinerja mesin penggilingan padi, ia telah melakukan penambahan daya dari 33kVA menjadi 164 kVA.

“Saya sangat berterima kasih kepada PLN yang telah mendukung usaha kami,” pungkas dia.(RLS/PB15)

Berita ini telah terbit di Harian Papua Barat News edisi Rabu 31 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: