Dewan Prioritaskan Revitalisasi Pendidikan dan Kesehatan

MANOKWARI, PB News – Minimnya sarana prasarana pendidikan dan kesehatan di Provinsi Papua secara eksplisit telah memvisualisasikan, kurangnya kontroling dari pemerintah daerah melalui instansi terkait. Di wilayah pedalaman, kerap dijumpai sekolah mengalami kekurangan tenaga guru dan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar, seperti ruangan kelas, bangku dan meja. Selain itu, masyarakat di pedalaman juga kurang mendapatkan pelayanan medis yang maksimal.

Untuk itu, melalui kegiatan reses pertama tahun 2018 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Papua Barat, akan memprioritaskan formula konkret menuntaskan kesenjangan pendidikan dan kesehatan yang terjadi.

Anggota DRP Papua Barat, Abraham Goram Gaman, menjelaskan, pendidikan dan kesehatan merupakan dua hal yang harus menjadi prioritas pemerintah, karena keduanya berkaitan dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Selain Kabupaten Raja Ampat, kata dia, ada beberapa kabupaten lainnya pun mengalami kendala dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan.

“Pendidikan ini masih kurang fasilitas seperti fasilitas mobilisasi dan perumahan hingga sarana penunjang pendidikan. Sekitar 60 persen pendidikan masih membutuhkan guru dan ini perlu menjadi perhatian bersama,” kata dia, saat dikonfirmasi Papua Barat News, Kamis (15/3/2018).

Kata dia, indikator utama dalam menunjang upaya pemerintah meningkatkan perekonomian masyarakat lokal adalah melakukan perbaikan terhadap sarana prasarana pendidikan dan kesehatan. Penyediaan tenaga guru harus memiliki komitmen pengabdian demi mencerdaskan generasi muda di seluruh pelosok Papua Barat, dan tenaga medis harus disebarkan di semua wilayah agar masyarakat terlayani dengan baik.

“Pemerintah harus menyiapkan tenaga pendidik selain itu juga perlu disiapkan sarana prasarana seperti perumahan sehingga tenaga pendidik betah di tempat tugas,” paparnya.
Dia menuturkan, dari kegiatan yang dilaksanakan di Kabupaten Raja Ampat beberapa waktu lalu, kebutuhan yang sangat diperlukan yakni penambahan tenaga medis.

“Setiap hari masih terjadi kekurangan tenaga medis, sehingga keterbatasan ini menjadi kendala dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat.

Tindakan revitalisasi dunia kesehatan dan pendidikan merupakan nilai investasi bagi keluarga, guna mengatasi keterpurukan finansial. Dengan demikian maka, perbaikan dunia pendidikan pun akan berimplikasi terhadap perubahan sikap dan mentalitas masyarakat dalam menjaga kesehatan diri.

Sebagai informasi, program pembangunan daerah Otsus Papua Barat sejak tahun 2008 memprioritaskan pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan infrastruktur.

Namun, realitas di lapangan sering berbanding terbalik karena, sekolah-sekolah di daerah pedalaman masih mengalami keterbatasan tenaga pengajar, sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Dan juga fasilitas pelayanan medis belum tersedia maksimal baik dari sisi tenaga medis dan peralatan medis lainnya. (PB9)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: