Dijadikan Prostitusi Terselubung, Bangunan di Taman Besi Diminta Dibongkar

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Anggota DPRD Manokwari Ayu Humairah Bataray mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari untuk membongkar  bangunan tanpa ijin yang diduga dijadikan sebagai tempat prostitusi terselubung, yang berada di Taman Besi, persis di samping areal terminal Sanggeng.

“Kami minta tidak boleh beroperasi lagi disitu. Selain itu, bangunan itu berdiri di atas lahan pemerintah daerah, karena itu harus segera dibongkar jika benar dipergunakan sebagai tempat prostitusi terselubung,” ujar Humairah di sela-sela kunjungan anggota DPRD Kabupaten Manokwari di Pasar Sanggeng, Jumat (3/8).

Ayuh mengatakan keberadaan tempat tersebut dianggap meresahkan warga. Bahkan warga berharap kepada pemerintah daerah untuk menutup kegiatan di bangunan tanpa ijin terebut dengan cara membongkarnya.

Menurut Ayuh, apabila tidak segera dibongkar, maka pihak keamanan harus menindak dengan tegas sesuai dengan aturan main yang berlaku.

“Kalau belum dibongkar silakkan aparat keamanan yang menindaknya sesuai dengan aturan yang berlaku. Apalagi bangunan tersebut tidak resmi karena dibangun di atas lahan milik pemda,” tegasnya.

Plt Kepala Dinas Perhubungan, Kelautan dan Perikanan Alberth Simatupang yang juga ikut dalam kunjungan tersebut mengaku prihatin dengan keberadaan bangunan itu.

Albert pun mengaku pihaknya akan ikut memantau keberadaan bangunan tanpa ijin itu, mengingat lokasi tersebut tidak jauh dari terminal Sanggeng.

Menanggapi permintaan anggota dewan dan pihak pemda itu, penjaga bangunan yang diduga digunakan sebagai tempat esek-esek itu menyanggupi akan membongkarnya.

Ayuh pun menyarankan agar pemilik bangunan membongkar atas kesadaran sendiri. Keuntungannya, bahan material tidak rusak dan dapat dimanfaatkan kembali ketimbang digusur paksa menggunakan alat berat.

Pantauan Koran ini, bangunan tersebut berada pada lahan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari, yang berada persis di pinggir terminal Pasar Sanggeng dan berdekatan dengan jalan raya sehingga dengan mudah bagi pengunjung untuk mendatangi.

Setiap hari, para tamu yang datang dilayani sejumlah wanita yang biasa mangkal di depan bangunan tersebut. Selain menyediakan layanan esek-esek bagi para pria hidung belang, dan juga menjadi tempat menjual minuman keras (miras).

Puluhan lokalisasi terselubung

Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Papua Barat pernah mengidentifikasi, sebanyak 23 titik lokalisasi terselubung tersebar di wilayah Manokwari. Sebagian besar pekerja seks ini berstatus pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.

“Harga yang mereka tawarkan sangat murah, Rp.100 ribu untuk perempuan asli Papua dan Rp.150 ribu untuk perempuan pendatang, ” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak Papua Barat Napoleon Fakdawer.

Dia menjelaskan, persoalan ini sudah berlangsung cukup lama, dan menurutnya sudah cukup menkristal. Sehingga membutuhkan pendekatan yang tepat untuk menyelesaikanya.

Napoleon mengutarakan, aktivitas transaksi seks bebas tersebut dilakukan di beberapa titik. Tak jarang mereka memanfaatkan pondok pinang dan beberapa tempat keramaian untuk bertransaksi, setelah ada kesepakatan aksi seks bebas dilakukan ditempat yang mereka mau.

“Mereka tidak melakukanya di hotel maupun penginapan. Dari 23 titik tempat seks bebas tersebut semua berada di luar hotel, mereka memanfaatkan karton sebagai alas. Ada yang dipantai, semak-semak dan tempat lain yang menurut mereka aman,” katanya.

Dari investigasi yang dilakukan, Ia mengungkap, 23 lokasi seks bebas tersebut tersebar dari sekitar Dialer Sinar Suri hingga pantai Pasir Putih. Investigasi belum dilakukan ke arah Sowi dan Arfai.

Napoleon belum mengetahui pasti jumlah pekerja seks yang biasa menjajakan pada aktivitas terselubung tersebut. Dari mereka ada tergabung dalam komunitas dan pekerja secara individu.

“Ini sangat memprihatinkan, mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainya. 60 hingga 70 persen penikmat jasa mereka adalah pria yang mabuk akibat pengaruh minuman beralkohol,” katanya lagi.

Menurutnya kondisi ini sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan serius. Ia mengajak, semua pihak terlibat dalam pengentasan persoalan sosial tersebut.

“Kita tidak boleh hanya mengharap kerja pemerintah, warga dan seluruh lembaga non pemerintah harus sinergis. Ini adalah persoalan kita semua,”ujarnya lagi.

Napoleon memprediksi, jumlah pekerja seks terselubung tersebut akan terus bertambah. Proteksi harus dilakukan untuk mencegah pelaku baru. (PB9)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: