Aset Pemda di Pasar Wosi Diperjualbelikan Rp120 Juta

MANOKWARI, PB News – Upaya pemerintah melakukan revitalisasi pasar tradisional Wosi agar mampu meningkatkan daya saing dengan pasar modern, hingga kini belum berdampak signifikan. Setelah proses relokasi dilakukan, muncul berbagai polemik akibat lemahnya mekanisme pengelolaan pasar tradisional itu seperti, adanya transaksi jual beli lapak, maraknya aksi pungutan liar (Pungli), banyak pedagang kembali berjualan di luar areal pasar, dan kebersihan pasar belum sepenuhnya terealisasi.

Dari hasil penelusuran Papua Barat News di Pasar Wosi, ditemukan ada oknum pedagang telah melakukan penjualan salah satu kios milik Pemerintah Daerah (Pemda) Manokwari, dengan harga Rp210 juta, pada Februari 2018 dengan bukti kuitansi dan surat pernyataan.
“Ada yang jual kios di pasar atas dekat terminal itu di Bulan Februari. Kios itu dijual oleh Azis Laitung ke La Yudi,” kata salah satu sumber yang enggan menyebutkan namanya.
Penjualan kios tersebut, lanjut dia, disaksikan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Wosi (Aspepasi) Abdul Hakim Karim bersama keempat saksi lainnya.
“Dia (Hakim,red) yang menjadi saksi transaksi penjualan kios di pasar ini,” tutur dia.
Perlu diketahui bahwa, seluruh bangunan di pasar tradisional merupakan aset milik pemerintah daerah yang dipergunakan pedagang dengan sistem sewa pakai, bukan diperjualbelikan.
“Sudah ada instruksi Bupati supaya pedagang tidak boleh melakukan penjualan kios maupun los-los ini,” papar dia.

Ke depannya, dia berharap, pemerintah daerah melalui instansi terkait segera mengambil tindakan tegas, guna mengatasi transaksi jual beli kios maupun lapak-lapak di Pasar Wosi.

Selain penjualan kios, para pedagang di los B pun mengeluhkan sikap Aspepasi selaku pihak yang menarik retribusi keamanan tidak bertanggung jawab atas kasus pencurian barang dagangan pada November 2017 lalu, karena pihak Aspepasi telah menarik diri dari keterlibatan pengelolaan pasar. Sehingga, beberapa pedagang berinisiatif melakukan penarikan retribusi keamanan selama Desember 2017. Uang hasil penarikan retribusi keamanan, dialokasikan untuk keperluan ronda malam, perbaikan roda pintu gerbang pasar dan lainnya.

“Kehilangan bulan November 2017, pihak Aspepasi tidak mau bertanggung jawab karena sudah mengundurkan diri. Desember kita inisiatif tagih iuran keamanan karena keamanan ini penting, uangnya kita bayar pihak keamanan untuk jaga di pasar,” terang dia.

Secara terpisah, mantan Koordinator Lapangan Aspepasi, Makmur, mengakui adanya transaksi jual beli kios disaksikan oleh lima orang termasuk Abdul Hakim Karim. Namun, , keterlibatan Abdul Hakim Karim bukan mengatasnamakan pihak asosiasi tetapi personal.

Dikarenakan, ASPEPASI telah dibekukan sejak November 2017.

“Asosiasi sudah dibekukan, jadi kehadiran dia (Hakim,red) itu secara individu bukan Aspepasi. Karena yang tertera di surat perjanjian tidak dicantumkan nama Aspepasi,” terang dia.

Disinggung soal kehilangan barang dagangan di los B, dia menjelaskan, pihaknya tidak melakukan penarikan retribusi keamanan hingga ke bangunan pasar yang baru. Namun, Janunari 2018 pihaknya melakukan penarikan retribusi keamanan dan Februari dikembalikan ke pemerintah daerah.

“Kita fokus di pasar bawah, dan los-los sayur itu (los C, D dan E),” tutur dia.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Manokwari, Frengki Saiba, saat dikonfirmasi terkait persoalan penjualan kios di Pasar Wosi, menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui secara detail informasi adanya transaksi jual beli kios di Pasar Wosi milik pemerintah daerah.

“Kalau soal transaksi itu, terus terang saya tidak mengetahuinya,” pungkas Frengki.

Sebagai informasi, rincian tagihan sejumlah los (A, B, C, D dan E) kepada pedagang berkisar Rp3 ribu perhari dan bulanan Rp 10 ribu. Sedangkan tagihan retribusi kios perhari Rp3.000 dan bulanan antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu (tergantung ukuran kios). Untuk keamanan
Rp 50.000 perbulan, uang sampah Rp10.000 perbulan. Parkiran motor Rp2.000 dan mobil Rp 3.000.
Bukti transaksi penjualan kios itu, telah diserahkan ke pihak Reskrim Polres Manokwari. (PB15)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: