Empat Jurnalis Dimintai Keterangan Dalam BAP

Kasus Penghinaan Profesi Wartawan

 

MANOKWARI, PN News – Empat orang jurnalis memenuhi pemanggilan penyelidik Direktorat reserse kriminal umum (Dit Reskrimum) Polda Papua Barat untuk dimintai keterangan dalam berita acara penyelidikan (BAP) di Mapolda Papua Barat (PB), Senin (26/3). Masing-masing, Ketua Advokasi PWI Papua Barat, Kris Tanjung (Pelapor) dan Tri Adi Santoso, Wahyu Hendrawan serta Fenti Rumbiak sebagai saksi pelapor.

Keempatnya memenuhi panggilan penyelidik Dit Reskrimum Polda PB pasca membuat laporan polisi (LP), Jumat 16 Maret 2018 lalu, terkait dugaan pencemaran nama baik, penghinaan dan ujaran kebencian terhadap profesi wartawan melalui sosial media (Sosmed) facebook oleh oknum anggota Polisi Polres Manokwari dan 2 oknum pegawai Bandar Udara (Bandara) Rendani Manokwari.

“Hari ini (Kemarin) saya dan tiga orang saksi pelapor, memenuhi panggilan perdana oleh Penyelidik Dit Reskrimum Polda PB untuk dimintai keterangan dalam BAP kasus yang kita laporkan,” ujar  Kris Tanjung melalui siaran pers, Senin (26/3).

Kris Tanjung menuturkan, pihaknya berkomitmen akan terus mengawal dan mengikuti kasus ini hingga proses peradilan. Dia menegaskan, dirinya tak akan mengenal kompromi, karena menurutnya, sikap para oknum ini telah melampaui batas kewajaran mengingat posisi para oknum atau terlapor adalah petugas publik yang semestinya memberikan contoh dan etika yang baik bag masyarakat.

“Kami dari awal bersikap bahwa sikap yang dipertontonkan para oknum melalui facebook ini kita nilai sikap arogansi dan jauh dari kata etika. Karena hanya memprovokasi. Karena itu kita tunggu saja kelanjutannya sampai di pengadilan,” cetus Tanjung.

Ia menyebutkan, berdasarkan informasi awal dari Direktur Reskrimum Polda PB, Kombes Pol Bonar Sitinjak, bahwa dalam waktu dekat ini, pihaknya akan memeriksa para terlapor dan selanjutnya akan menggelar perkara peningkatan kasus ini ke tahap penyidikan.

Dijelaskannya, dari hasil gelar perkara tersebut, akan diputuskan, baik penetapan tersangka maupun apakah kasus ini diserahkan ke Dit Reskrimsus bidang saber yang khusus menyidik lebih jauh terkait pelanggaran UU Nomor  11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Berdasarkan info yang disampaikan Pak Direktur Reskrimum, bahwa nanti akan digelar perkara penetapan tersangka. Dan kemungkinan juga akan diserhkan ke Dit Reskrimsus terkait dengan UU ITE,” terang Tanjung.

Sebagaimana diberikan sebelumnya, dugaan penghinaan, pencemaran nama baik dan ujaran kebencian tersebut diawali oleh unggahan akun facebook bernama Yohanis Krey yang memposting gambar berita oleh salah satu media cetak dengan judul, “Dihalangi Meliput, Jurnalis Nyaris Adu Jotos Dengan Petugas Bandara”.

Tak sebatas itu, akun facebook Yohanis Krey tersebut melengkapi unggahannya dengan kalimat yang dinilai mengandung hasutan dan ujaran kebencian terhadap profesi wartawan secara luas.

Unggahan tersebut, berhasil menarik 123 cuitan komentar, 120 like dan 10 kali di bagikan oleh pemilik akun facebook lainnya, yang dinilai oleh PWI Papua Barat yang mengarah pada penghinaan, pencemaran nama baik dan ujaran kebencian terhadap profesi wartawan.

Diantaranya, akun facebook dengan nama ‘Widhiantara DTT’ yang diketahui oknum anggota penyedik pembantu reserse kriminal umum (Reskrimum) Polres Manokwari tersebut.

Akun oknum polisi berpangkat Brigpol tersebut mengomentari unggahan akun ‘Yohanis Krey’ dengan kalimat yang tak sepantasnya mengingat dirinya adalah seorang oknum polisi.

“Dekat dengan pejabat Papua Barat bukan berarti bisa buat berita seenaknya, kerena berita yang kalian dapat dari kejadian2 yang ada di seputaran kami… Kalau mau adu jotos dengan melepas pakaian dinas semua punya nyali… FuckOff”, demikian cuitannya.

Selain oknum polisi dan oknum petugas Bandara Rendani Manokwari, PWI Papua Barat juga mempolisikan akun facebook bernama ‘Kurube Welem WT’ yang juga menjurus pada penghinaan.

Dan menyikapi kasus ini, Dewan Pers menyatakan siap hadir menjadi saksi ahli Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua Barat terkait laporan polisi dugaan penghinaan, pencemaran nama baik dan ujaran kebencian terhadap profesi wartawan oleh oknum polisi dan petugas bandar udara (Bandara) Rendani Manokwari melalui sosial media facebook.

Pernyataan ini diungkapkan langsung oleh Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo yang ditemui Ketua Bidang Advokasi PWI Papua Barat, Kris Tanjung di ruang kerjanya, Jumat (23/3) lalu.

Dikemukakan, bahwa sangat jelas, pasal 8 UU Nomor 40 Tahun 1999, dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum. Tak hanya itu kata dia, pasal 18 ayat 1 dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 disebutkan, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi kerja pers, dapat dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda sebanyak Rp 500 juta. (PWIPB/PB8)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: