Polda Papua Barat Antisipasi Rencana Aksi Unjuk Rasa

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Berkaca pada aksi anarkisme dalam unjuk rasa menolak rasisme pada 19 Agustus 2019 lalu, Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat, Selasa (27/1/2021), menurunkan sedikitnya empat peleton atau setara 200 personil, untuk mengamankan Manokwari dari aksi serupa.

Berbeda dengan kejadian dua tahun lalu. Kali ini ujaran rasisme dimuat oleh Ambroncius Nababan dalam postingannya di akun media sosial Facebook. Ambroncius diduga mengunggah foto Natalius Pigai dan menyandingkan dengan foto Gorila, serta mengomentari pemberitaan yang berisi pernyataan Natalius, bahwa rakyat berhak menolak vaksinasi Covid-19.

“Kita turunkan empat peleton sebagai antisipasi wacana aksi unjuk rasa. Empat peleton terdiri dari dua peleton Brimob dan dua Samapta. Kita mengantisipasi terjadi aksi yang mungkin kembali berujung anarkis,” kata Kabib Humas Polda Papua Barat Komisaris Besar Adam Erwindi kepada Papua Barat News.

Mantan Kapolres Manokwari itu menjelaskan, selama bersiaga seluruh personil ditempatkan pada sejumlah area yang dianggap rawan dan bisa menjadi titik kumpul massa. Empat peleton yang disebar itu juga melibatkan tim Dokkes dan Provos sebagai tim pemantau.

“Pengalaman kejadian sebelumnya, jadi kita benar-benar siap. Empat peleton sudah kita turunkam untuk bersiaga,” ujar Erwindi.

“Personil siaga sejak pagi hingga sore hari. Situasi Kamtibmas di Manokwari aman dan terkendali. Tidak ada riak-riak massa yang mengarah pada aksi unjuk rasa. Demikian pula daerah lain di jajaran Polda, juga terpantau aman,” katanya lagi.

Pantauan Papua Barat News, hampir setiap personil Polda Papua Barat yang diturunkan itu, dilengkapi dengan berbagai peralatan taktis, mulai dari senjata api otomatis dan kendaraan pengurai massa. Bahkan Brimob menurunkan dua unit Baracuda dan Armored Water Cannon (AWC) yang rutin patroli keliling kota, setiap hampir dua jam sekali.

Seperti diketahui, pada Agustus 2019 lalu terjadi aksi penolakan rasisme di tanah Papua. Di Manokwari, aksi unjuk rasa penolakan tersebut berubah anarkis yang berujung pada sejumlah penjarahan serta terbakarnya gedung DPR Papua Barat. (PB13)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 27 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: