Polda Papua Barat Belum Terima Laporan Tim

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat masih menunggu laporan resmi dari tim dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) dan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam), atas penyelidikan kasus tewasnya adik ipar Edo Kondologit, George Karel Rumbino alias Riko (21).

“Kami belum menerima laporan secara resmi dari tim. Pasti nanti kami infokan. Sementara ini, dugaan pelanggaran atas meninggalnya Riko pada insiden yang diduga terjadi di Polres Sorong Kota, masih dalam penyelidikan,” kata Kabid Humas Polda Papua Barat, AKBP Adam Erwindi kepada Papua Barat News, Rabu (2/9/2020).

Ia menjelaskan, tim dari Polda Papua Barat langsung diterbangkan ke Kota Sorong guna lakukan penyelidikan mendalam atas insiden tersebut. Dugaan sementara, Riko tewas karena dianiaya. Penganiayaan tersebutlah yang sedang dalam penyelidikan, apakah benar ada melibatkan anggota Polres atau karena penganiayaan sesama tahanan.

“Riko meninggal bukan di dalam sel tahanan Polres, tetapi di Rumah Sakit Mutiara Kota Sorong saat sedang dalam perawatan. Diduga karena penganiayaan,” ujar Erwindi.

“Tim sedang menyelidiki, dan bila ditemukan ada kesalahan prosedur, Kapolda akan menindak oknum tersebut sesuai ketentuan. Penyelidikannya kami tetap akan transparan,” katanya lagi.

George Karel Rumbino alias Riko adalah adik ipar Edo Kondologit. Riko diperkarakan sebagaimana rumusan Pasal 339 jo Pasal 365 jo Pasal 285 ayat (3) KUHP, lantaran diduga terlibat kasus pencurian dengan kekerasan atau Curas dan pemerkosaan, terhadap korban berinisial OKH di Pulau Doom, Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong.

Tim Polda yang terdiri dari Dirkrimum dan Propam kini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan pelanggaran prosedur yang dilakukan oleh penyidik, penyidik pembantu, dan termasuk petugas jaga tahanan Polres Sorong Kota.

Kicauan Twitter

Musisi sekaligus politisi Edo Kondologit sempat meluapkan kemarahannya melalui rekaman video di Media Sosial (Medsos) Twitter. Video kemarahan Edo pertama kali dibagikan oleh aktivis HAM Veronica Koman lewat akun @VeronicaKoman, pada 30 Agustus 2020.

“Saya sudah sakit hati sekali dengan perlakuan ketidakadilan di negeri ini. Cukup sudah semua sandiwara, Riko ini adalah korban dari sistem yang ambruk,” kata Edo seperti terekam dalam video yang berdurasi 2:20 menit itu.

Dalam video tersebut, Edo mengaku marah dan kecewa karena merasa ada ketidakadilan proses hukum terhadap Riko. Sebab, pihak keluarga menyerahkan iparnya ke Kepolisian agar dapat diproses hukum, namun ternyata pemuda 21 tahun tersebut justru tewas kurang dari 24 jam setelah diserahkan kepada pihak Polres Sorong Kota.

Edo mengatakan, Ia dan keluarga menuntut peristiwa ini diusut secara transparan hingga tuntas. Menurut Edo, Riko belum bisa dinyatakan bersalah dan tak boleh dihakimi sebelum adanya putusan pengadilan. Apalagi keluarga sudah dengan besar hati menyerahkan Riko untuk diproses hukum.

“Riko itu bukan ditangkap tapi diserahkan, karena kami percaya dengan Polisi. Mamanya sendiri yang menyerahkan. Polisi itu melindungi bukan membunuh, tapi yang terjadi apa, Riko mati kurang dari 24 jam. Kami menuntut kejadian ini diusut tuntas,” teriak Edo. (PB13)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 3 September 2020

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: