Polda Terus Kembangkan Penyelidikan Terkait Kasus Gereja Fiktif

SORONG, PB News – Belum lama dilantik sebagai Kabag Humas Kabupaten Tambrauw, RS telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan Gereja Alfa Omega Klagete, Kota Sorong senilai Rp 1 Milyar.

RS yang diperiksa kurang lebih empat jam oleh Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reskrimsus (Dirkrimsus) Polda Papua Barat di Polres Sorong Kota, Sabtu (10/3).

Pantauan Koran ini, Minggu (11/3), RS sudah dibawa ke Mapolda Papua Barat untuk menemani LJS dan MA yang telah ditahan terlebih dahulu untuk kasus yang sama. Ketiganya akan mengikuti tahap penyelidikan lebih lanjut agar berkas perkaranya segera dilimpahkan ke Kejaksaan.

Kanit Tipikor Polda Papua Barat AKP Tommy Pontororing yang ditemui Papua Barat News di Bandara DEO Sorong mengatakan, setelah melalui serangkain pemeriksaan penyidik berhasil menemukan adanya dugaan manipulasi yang berkaitan dengan adanya proposal fiktif untuk pembangunan Gereja Alfa Omega Klagete di Kota Sorong dan  telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus itu.

“Ketiganya memiliki peran yang berbeda dalam menjalankan aksinya. LSJ yang merencanakan program gereja yang juga merupakan otak dari permasalahan dan juga MA sedangkan RS merupakan pembuatan konsep yang akan dikerjakan,” ungkap Pontororing.

Dia menambahkan, LJS yang sebelumnya menjadi DPO akhirnya ditangkap di Polres Kediri. Sementara dua tersangka lainnya menurut Pontororing cukup kooperatif pada saat pemeriksaan.

“Dalam kasus ini kami telah mengamankan barang bukti berupa laptop dan printer yang digunakan untuk membuat dan mencetak proposal, ” ujarnya.

Dijelaskan Pontororing, terkait pemeriksaan lebih lanjut para tersangka wajib menggunakan Penasehat Hukum. Ini sesuai undang-undang, dimana dalam kasus Tipikor terancam hukuman minimal 5 tahun.

“Karena para tersangka belum didampingi penasehat hukum, maka Polda akan menunjuk penasehat hukum untuk mendampingi tersangka,” jelasnya.

Lebih lanjut, ujar Pontororing, pihaknya akan terus melakukan pengembangan penyelidikan terhadap para tersangka. Tidak berhenti disitu, menurut dia, pihaknya juga akan mengembangkan penyelidikan terhadap proposal lain yang dianggarkan pada tahun 2014 yang mencapai Rp2,9 trilyun.

Pontororing menilai proposal pembangunan Gereja fiktif ini dimanipulasi seolah-olah diajukan pada tahun 2013 tetapi dibuat dan diajukan tahun 2014 dimana anggarannya dikucurkan pada tahun anggaran APBD 2014. (PB7)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: