Tugu Pengampunan, Bukti Kekejaman Perang dan Pemulihan bagi Suku Soub Bohon

Laporan: Dika Grantino, Manokwari Selatan

AREA Tugu Pengampunan di Pantai Dembek, Distrik Momiwaren, Manokwari Selatan menjadi saksi bisu tewasnya Pastor Auxilius Guikers OFM. Seorang Misionaris Katolik.

Pastor Guikers sudah menjadi Fransiskan selama 11 tahun, dan menjalankan misi membawa Katolik di Tanah Papua khususnya di daerah Waren dan Momi (Distrik Momiwaren sekarang) setelah datang dari Ternate. Tugu yang dibangun di lahan seluas 80×75 m2 tersebut menjadi bukti kebengisan tentara Dai Nipon, Jepang.

Pastor Auxilius Guikers ditangkap tentara Jepang dengan tuduhan sebagai mata-mata Amerika. Ia dibunuh dengan cara yang sangat keji. Pastor Auxilius yang saat itu masih berusia 31 tahun disuruh menggali liang lahatnya sendiri dan kemudian dieksekusi.

Sebelum dieksekusi, ia meminta untuk berdoa. Permintaannya pun dikabulkan. Naas baginya, karena tak sempat doa selesai terucap, dua bilah pedang sudah dihujam hingga menembus tubuhnya. Jasad sang pastor lalu ditendang masuk ke dalam lobang yang digalinya sendiri.

Beberapa hari kemudian, dua tokoh besar Suku Soub Bohon yakni Yafet Ainusi dan Corneles Ainusi memerintahkan anggota sukunya untuk mengambil kepala Pastor Guikers. Kedua tokoh tersebut salah paham. Mereka berpikir jenazah tersebut milik tentara Jepang. Niat membalas kekejian Jepang yang sering membunuh anggota Suku Soub Bohon.

Salah satu keturunan Ainusi yakni Weny Ainusi membaca penggalan kata sebagai tanda pengampunan dosa. Menurut Weny, meski bukan pelaku atas meninggalnya Pastor Guikers, pendahulunya sudah ikut menjamah tubuh jenazah Pastor Guikers.

“Kedua orang tua kami itu memang bukan yang membunuh Pastor Auxulius Guikers. Tapi mereka ikut menjamah tubuhnya, karena salah paham. Mereka berpikir itu jenazah tentara Jepang. Jadi mereka ambil untuk buat adat. Tetapi realitasnya yang terjadi, yang diambil kepala bukan kepala tentara Jepang tetapi kepala Pastor Auxilius Guikers,” ucap Weny dengan nada suara gemetar.

Diakui Weny akibat kejadian tersebut, anggota suku Soub Bohon merasa tidak tenang dan diselimuti rasa bersalah.

“Akibat kejadian tersebut, kami anak cucu jauh dari berkat Tuhan. Namun dengan adanya doa pengampunan pada 11 April 2013, dan dengan berdirinya tugu ini membuktikan karya Tuhan begitu indah bagi kami masyarakat Soub Bohon, Boven Waren Momi secara khusus dan masyarakat Mansel pada umumnya,” bebernya.

Sementara itu, Gubernur Dominggus Mandacan menerangkan, Tugu Pengampunan ini merupakan bentuk dari kesadaran masyarakat atas masa lalu yang terjadi di Tanah Papua.

“Di masa lalu para pendahulu kita sering berbuat salah. Hari ini kita resmikan Tugu Pengampunan ini dan berdoa agar kita dipulihkan,” ungkap Mandacan.

Lanjutnya, apa yang terjadi di masa lalu, harus dijadikan pengingat untuk masa kini dan masa depan.

“Ini bentuk pembelajaran bagi kita semua. Sejarah itu harus menjadi pengingat. Kita berdoa sungguh-sungguh, dan yakinlah Tuhan pasti mendengar,” katanya. (*)

 

*Berita ini telah diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Senin 26 April 2021.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: