Bumdes di Manokwari Mulai Hidup dan Berkembang

MANOKWARI, papuabaratnews.co (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Manokwari, Jeffry Sahuburua menuturkan, badan usaha milik desa (Bumdes) di Manokwari saat ini mulai hidup dan menunjukkan perkembangan.

Disebutkan Jeffry, dari 28 Bumdes yang aktif, sebanyak tiga bumdes mengelola beras jatah pegawai. Dimana saat ini Pembakb Manokwari tidak lagi mengambil beras dari Bulog, melainkan dari Bumdes.

“Kita ambil dari Bumdes, dengan catatan mereka (Bumdes) harus bisa mengambil hasil panen dari para petani. Awalnya kita minta Bulog sebagai penyedia beras untuk tidak mendatangkan beras jatah pegawai dari luar, melainkan dari petani lokal Manokwari. Namun saat itu diminta ada subsidi dari pemda, sehingga kita dorong ke Bumdes,” tutur Jeffry saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

“Mulai awal tahun sudah berjalan sampai sekarang, setiap bulan Bumdes yang drop beras untuk Kabupaten Manokwari. Tiga Bumdes itu ada di Prafi Mulya (SP 1), Desay (SP 2), dan SP 10,” sambung Jeffry.

Pihaknya terus berupaya mendorong agar Bumdes dapat tetap berjalan, minimal bisa merekrut tenaga kerja lokal dan memberikan dampakpositif kepada masyarakat. Jika Bumdes sudah berkembang baik, lanjut Jeffry, maka wajib ada pendapatan kampung.

“Dari hasil Bumdes itu dibagi ada yang masuk sebagai pendapatan kampung,” jelasnya.

Diungkapkan Jeffry, di Distrik Sidey ada Bumdes Bersama dari 12 kampung yang akan mengelola komoditi cacao. Mengingat Sidey adalah kawasan agropolitan di Manokwari. Bumdes tersebut juga telah  mendapat bantuan dari Kemendes berupa alat pengolahan cacao, pembangunan pasar, embung, jalan, dan lainnya. Bumdes tersebut juga dikelola oleh 12 kampung. Dimana masing-masing kampung turut memberi pernyataan modalnya sebesar Rp. 50 juta.

“Bumdes jalannya juga terseok-seok, tahun lalu kita adakan rapat tahunan dengan pengurus Bumdes. Hasil kesepakatan awal masing-masing kampung memberi dana penyertaan modal sebesar Rp. 50 juta. Namun beberapa kampung sampai saat ini belum memberikan dana tersebut. Saya sedang mendorong agar kampung-kampung agar segera memberikan penyertaan modalnya. Saya lihat Bumdes toko atau kiosnya sudah tidak berjalan, karena barang-barangnya tidak laku, banyak yang kadaluarsa,” ungkap Jeffry.

Rencananya, kata Jeffry, pihaknya akan mendorong Bumdes Bersama untuk dapat mengganti toko mereka (bumdes) menjadi toko bangunan. Menurut Jeffry, menjual alat bangunan, semen dan lainnya merupakan suatu solusi yang baik, mengingat bahan baku dan alat bangunan dapat lebih bertahan lama.

“Kalau toko bangunan kan barangnya tidak kadaluarsa. Kita juga dorong agar pembangunan di 12 kampung wajib membeli di Bumdes. Kalau memang ini jadi, maka kita akan bicarakan lagi terkait persyaratannya sehingga lebih mudah. Karena Bumdes ibarat anak yang baru lahir, harus ada bimbingan,” pungkas Jeffry.(PB19)

**Artikel ini Sudah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 31 Agustus 2020

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: