Musisi Etnik Papua Keterbatasan Ruang Gerak

MANOKWARI, papuabaratnews.co Sejumlah musisi etnik di Kabupaten Manokwari mengaku kesulitan mengekspresikan diri. Keterbatasan ruang gerak dan jarang diselenggarakan even-even musik, menjadi penyebab eksistensi pemusik etnik semakin redup.

“Kalau adapun (even,red) itu tahunan,” ujar Boas Duwiri (28), salah satu musisi etnik yang dikonfirmasi Papua Barat News di Honai Papua, Sabtu (2/8/2020).

Dia menuturkan, banyak anak-anak muda Papua yang memiliki potensi bermusik secara lahiria. Namun, minimnya wadah mengekspresikan diri menjadi faktor penghambat.

“Kami hanya main musik di gereja. Kalau ada yang undang baru kami main,” kata dia.

Perkembangan musik masa kini, menjadi tantangan dalam merawat genre musik tradisional Papua. Untuk itu, peran dari pemerintah daerah melalui instansi terkait sangat dibutuhkan agar musik tradisional dapat dilestarikan hingga di masa mendatang.

“Di sini (Manokwari) musik tradisional sudah mulai kurang,” ujar Boas.

“Saya juga punya mimpi bawa musik ini ke luar, tapi susah,” kata dia menambahkan.

Owner Honai Kopi, Aji Ali, menuturkan, pemberdayaan terhadap musisi lokal Papua selama ini masih sangat minim. Realita tersebut menjadi inspirasi dalam menyediakan wadah bermusik bagi anak-anak Papua setiap akhir pekan di kedai kopi yang dirintis bersama rekannya, Aif Rimosan.

Menurut dia, pelestarian musik tradisional idealnya dilakukan oleh generasi muda Papua. Sehingga, secara kolektif kekayaan budaya dan kearifan lokal terus terpelihara.

“Live musik musik tradisional ini sudah kedua kalinya,” ujar dia.

Ia menjelaskan, Honai Kopi menjadi contoh untuk pengusaha kedai kopi baik di Papua dan Papua Barat agar dapat memberikan ruang kepada musisi kultur berekspresi. Sebab, kopi dan musik tradisional adalah bagian dari budaya orang Indonesia itu sendiri.

“Biar pemerintah juga tahu bahwa kita punya anak-anak Papua ini punya potensi bermusik,” kata dia.

“Ketika mereka perfom, kita juga live di account media sosial kita,” kata dia lagi.

Aji Ali menyarankan kedepannya pemerintah daerah baik kabupaten maupun provinsi, dapat mendesain wadah untuk para seniman seperti taman bermusik ataupun lainnya. Dengan adanya wadah, generasi muda Papua dapat termotivasi meningkatkan bakat mereka di dunia seni.

Volounter Ruang Berbagi, Are, menjelaskan, pengembangan bakat seni sangat penting agar generasi muda Papua tidak terjebak dalam perilaku menyimpang yang merugikan masa depan mereka. Selain pemerintah daerah, legislator pun diharapkan dapat merespon apa yang dikeluhkan oleh musisi-musisi tradisional tersebut.

Hadirnya musisi, kata dia, dapat mendorong pengembangan pariwisata berbasis lokal di Kabupaten Manokwari maupun Papua Barat secara umum. (PB15)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: