Ratusan Babi di Manokwari Mati Akibat Virus African Swine Fever

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Ratusan babi di Manokwari mati akibat virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi. Sejauh ini jumlah kasus kematian akibat virus African Swine Fever sudah 400 kasus sejak pertengahan maret 2021.

“Laporan tersebut bukan dari masyarakat, tetapi dari pedagang babi,” jelas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Manokwari, Kukuh Saptoyudo kemarin.

Ia menjelaskan, kasus awal ditemukan dikompleks Gaya Baru, Wosi. Mengingat penyebab kematian babi adalah virus, maka satu-satunya cara, pemerintah harus melakukan lockdown. Hal tersebut akan diperkuat dengan instruksi bupati terkait larangan peredaran daging maupun babi.

“Saya sudah meminta bidang peternakan untuk membuat instruksi bupati untuk melarang peredaran ternak babi maupun dagingnya,” katanya.

Dikatakan, pihaknya akan terus melakukan pendataan, dan pencegahan, berupa pemberian antibootik dan vitamin untuk meningkatkan imun babi.

“Kita berupaya mencegah semampu kita, yaitu memberikan antibiotik dan vitamin hanya untuk meningkatkan imun saja. Sama halnya seperti Covid-19 yang juga disebabkan oleh virus,” sebutnya.

Untuk mengantisipasi pemuasnya penyebaran virus ini, pihaknya telah berkoodiansi dengan pihak karantina untuk melarang masuk keluarnya daging atau ternak ke Manokwari sementara waktu. Menurutnnya, Jika tidak ada larangan, dikhawatirkan virus ini dapat menyebar ke daerah lain.

“Kalau bisa jangan beredar antar kampung, distrik, kota, peradaran ini dikhawatirkan dapat berpotensi menyebarkan virus yang mematikan untuk ternak,” tegas Kukuh.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi, salah satunya terkait sanitasi. Menyikapi epidemi ASF ini, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan BPBD, untuk mengambil langkah selanjutnya.

“Virus ini mematikan untuk babi, yang terkena kemungkinan hampir 100 persen mati. Gejalanya demam babi, dari hasil otopsi yang ada, organ dalam (babi) hitam semua,” terang Kukuh.

Dia mengungkapkan, pihaknya mengusulkan dalam instruksi tersebut untuk sementara melarang penjualan daging secara bebas.

“Karena kita tidak tau daging itu terinfeksi atau tidak. Karena beberapa kasus itu mereka mengatakan membeli daging babi di kota, setelah pulang dikampung ternak babi mereka terkena wabah. Rencana kami akan melarang dulu, jangan ada penjualan atau lalu lintas dimasa epidemi ini,” ungkapnya.

Kukuh mengatakan kasus ASF ini adalah kasus pertama di Manokwari. Dimana sebelumnya Manokwari belum pernah mengalami wabah ini.

Sebelumnya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Manokwari melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mengirim sampel ke Balai veteriner Maros Sulawesi Selatan (Sulsel). Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa penyebab kematian babi bukanlah hog cholera (HC) tetapi African Swine Fever (ASF) atau demam babi. Yakni virus yang pertama kali ditemukan di Afrika, menyebar ke Spanyol, lalu menyebar ke Tiongkok pada tahun 2019, kemudian ke Vietnam lalu masuk ke Timor Leste berlanjut ke NTT dan saat ini penyebarannya sampai ke Manokwari. (PB19)

 

**Artikel ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 20 April 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: