Menjadi Cahaya Hidup

Oleh: RD. Januarius Vaenbes, Rohaniwan Katolik; tinggal di Paroki St. Agustinus Manokwari.

 

“Saya pikir, kita memiliki tugas untuk menjaga cahaya kehidupan, yaitu untuk memastikan terus ke arah masa depan.” (Elon Musk)

CAHAYA adalah sinar atau terang (dari sesuatu yang bersinar seperti matahari, bulan, lampu) yang memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya. Dari arti ini dapat dikatakan bahwa kegiatan cahaya adalah memancarkan cahaya, bersinar, menerangi, memberi  kepada yang lain.

Cahaya pada hakekatnya berdimensi sosial, keluar dari dirinya dan memberi diri kepada sekitar yang berkebutuhan dengan dirinya. Karena makna yang demikian maka cahaya menjadi simbolisasi ekspresi manusia dari segala sesuatu yang bersinggunggan dengan semangat, perjuangan, keteguhan hati, kesadaran diri, keteladanan hidup, panutan cinta dan belarasa yang mengatasi batas suku, agama, ras dan budaya.  Sebutan “cahaya” sering disematkan kepada tokoh-tokoh tertentu karena mendedikasikan diri bagi kebaikan orang lain. Bahkan demi kebaikan orang lain, ia harus bertaruh nyawa dan menyangkal diri, melupakan kesenangan diri, menempuh ”jalan lain” yang tidak biasa supaya menjaga cahaya tetap bercahaya bagi orang lain.

Menjadi cahaya hidup

Merunut pada makna cahaya di atas, saya teringat akan sebuah syair lagu yang berbunyi: “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Kutipan syair lagu ini mengungkap filosofi cahaya yang teramat luhur dan agung. Dalam putaran waktu yang tetap dan sepanjang masa, cahaya itu tetap cahaya dan tetap bersinar walau kadang dihalau oleh kabut dan awan gelap. Cahaya memperlihatkan keagungannya dengan cara menembus tanpa melukai dan memberi tanpa berharap kembali. Keagungan yang demikian berasal dari sang pencipta cahaya itu sendiri yakni Tuhan.

Ibarat seorang ibu yang baik, terus memberi cinta untuk kelimpahan hidup buah hati dan keluarganya atau seorang ayah yang baik, terus berpeluh keringat untuk menjamin kelimpahan hidup keluarga dengan memastikan asap yang tetap mengepul di dapur. Ibarat seorang tokoh masyarakat yang baik, mendedikasikan diri untuk kebaikan dan kesejahteraan hidup masyarakatnya, lupa berpikir tentang bagaimana penampilan dirinya untuk dikagumi tetapi berpikir tentang bagaimana masyarakatnya dikagumi karena berkelimpahan dalam hidup. Ibarat seorang pemimpin yang tanpa banyak mengumbar kata untuk popularitas diri tetapi terus memajukan orang-orang yang dipimpinnya menjadi populer dalam hidup. Ibarat guru yang baik mengajar untuk kebesaran orang-orang yang diajarnya bukan untuk kebesaran nama dan harga dirinya. Ibarat dokter dan perawat yang baik, berjuang untuk keselamatan hidup pasien bahkan ketika di tengah wabah virus corana, mereka tetap mengatakan,” Kami tetap bekerja untuk kalian, kalian tetap di rumah untuk kami”. Kebahagiaan bagi para medis hanya satu, melihat para pasien sembuh. Ibarat aparat keamanan yang baik, mempertaruhkan harga diri dan nyawa demi masyarakat yang dilindungi. Ibarat seorang pelajar yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada orang tua dan para pendidik dengan tekun belajar dan mengabdikan ilmu yang dipelajari untuk kebaikan banyak orang. Ibarat seorang petani mencangkul sawah, ladang, kebun di bawah terik matahari dan hujan, tanpa kenal lelah. Petani hanya mengenal satu ungkapan, siapa yang menanam dia yang memetik hasil. Mereka bekerja untuk memastikan bahwa ketersediaan bahan pangan di masyarakat selalu ada. Ibarat seorang nelayan berjibaku menahan hembusan angin laut deburan ombak, aroma asin dan amis hasil tangkapan untuk menu makan banyak orang. Mereka mengajarkan bahwa kita masing-masing memiliki rezekinya.

Litani keangungan cahaya di atas, memberi pesan bahwa hakekat hidup manusia apapun profesi dan keadaannya, sebenarnya bermuara pada pemberian diri untuk kebaikan orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, mari mengisi dan memperpanjang daftar keagungan cahaya untuk menjaga cahaya hidup bersama kearah masa depan yang lebih bercahaya.

Cahaya sebagai pesan dari Sang Pencipta semesta alam bahwa keagungan hidup terukur dalam bingkai: menerangi, memancarkan cahaya atau memberi diri kepada sekitar. Keagungan ini terpatri dalam diri Yesus Kristus Sang cahaya dunia, yang menerangi dunia dengan cahaya keteladanan yakni memberi diri untuk keselamatan dunia, “Aku datang supaya mereka hidup dan hidup dalam kelimpahan”. Keteladanan Yesus ini mengajarkan pesan bahwa kelimpahan hidup baru tercapai ketika hati bersedia untuk memberi diri bagi keselamatan orang lain. Itulah makna Paskah yang sebentar lagi akan dirayakan oleh umat Kristiani sekalipun hanya dirayakan dari rumah masing-masing karena situasi pandemi corona yang melanda dunia kita ini. Kita tetap khusuk berdoa kepada pemilik cahaya kehidupan yakni Tuhan supaya wabah ini cepat berlalu.

Menjaga Cahaya

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa gelap itu sesungguhnya tidak ada, yang ada hanya terang. Gelap hanyalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan ketiadaan cahaya. Cahaya bisa kita petakan warnanya dalam sebuah spektrum cahaya, sementara gelap tidak bisa.Jika kita membeli lampu listrik, maka ukuran yang digunakan adalah tingkat terangnya lampu tersebut, bukan tingkat gelapnya. Kita dapat melihat berbagai warna setiap benda karena ada cahaya. Ketika cahaya dihilangkan dan keadaan menjadi gelap maka kita tak dapat membedakan lagi sebuah benda berwarna hijau, kuning, merah dan warna yang lain, semuanya terlihat hitam. Dalam dunia gelap tanpa cahaya kita saling menabrak, bertubrukan dan saling mempersalahkan, saling mengutuk dan meniadakan satu dengan yang lain, kalap  dan hanya berpikir tentang keselamatan diri sendiri. Dalam  lakon hidup, kita masih gemar mempertontonkan irama gelap dalam perbuatan gelap di atas. Daripada saling mengutuk dalam kegelapan lebih baik menyalakan lilin untuk sebuah harapan cahaya. Apalagi di tengah situasi wabah Covid-19 ini. Mari kita menyatukan energi cahaya yang kita miliki untuk saling meneguhkan, saling menghangatkan, saling menerangi supaya satu tekad bahwa badai ini akan berlalu. Saat ini kita memberi diri untuk kebaikan orang lain dengan mengikuti arahan pemerintah, sedapat mungkin tinggal di rumah, menghindari kerumunan massa, menjaga jarak dan belajar untuk hidup sehat yang berawal dari cuci tangan tanda sayang diri, sayang keluarga dan sayang sesama. Mari kita menggaungkan semboyan hidup: saya sehat, keluarga sehat, kota sehat, propinsi sehat, negara sehat, dunia sehat. Sebuah tindakan kecil tapi berefek besar. Itulah cahaya.

Dunia membutuhkan cahaya. Masing-masing kita adalah cahaya. Tidak dipersoalkan berapa kadar cahaya kita, yang terpenting adalah tetap menjaga cahaya supaya tetap bersinar memberi secercah harapan hidup. Ada yang tercipta dengan kadar cahaya seperti matahari, yang lain seperti bulan, sebagian seperti mercusuar dan sebagian dengan kadar seperti lilin, malah sebagian seperti kunang-kunang. Masing-masing kita dibutuhkan dengan kadar cahayanya supaya meskipun di tengah malam yang kelam masih ada secercah sinar terang. Mari bercahaya karena kita adalah anak-anak cahaya. ***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: