Penerapan Kegiatan BDR di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Nurhayati

Penulis adalah Guru SD Inpres 36 Wasegi, Mahasiswi Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Uncen Jayapura

PENDIDIKAN menurut UU No. 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari pengertiannya jelas bahwa pendidikan punya peran penting dalam kehidupan. Itu berarti semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta mengembangkannya untuk kemajuan dirinya dan bangsa. Pendidikan merupakan kunci pembangunan sumber daya manusia.

Namun situasi pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang masih merajalela di negeri ini memaksa Pemerintah menetapkan dua  model pelaksanaan kegiatan pembelajaran, yaitu Pembelajaran Dari Rumah (BDR) untuk daerah-daerah di bertanda zona merah, orange dan kuning, dan Pembelajaran Tatap Muka (BTM) bagi daerah-daerah di zona hijau dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Terkait situasi ini pula mengharuskan banyak penyesuaian yang perlu dilakukan guru terutama perihal ketercapaian kurikulum. Artinya sekolah dan para guru dituntut untuk mampu menjaga stamina fisik dan energi mental anak didik, namun juga mampu menjaga kualitas pembelajaran tetap signifikan di tengah kondisi ini, sekaligus menyiasati agar tujuan pembelajaran dapat optimal tersampaikan dan terserap oleh peserta didik.

Kabupaten Manokwari merupakan daerah zona merah Covid-19. Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan lalu menginstruksikan agar sekolah-sekolah melaksanakan kegiatan Pembelajaran Dari Rumah (BDR).

Pelaksanaan kegiatan BDR selama darurat pandemi Covid-19 bertujuan untuk memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidlkan, dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik dan orang tua-wali

Kegiatan BDR dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid- 19. Pelaksanaan kegiatan BDR melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dibagi dalam dua pendekatan, yaitu pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) dan pembelajaran jarak jauh luar jaringan (luring).

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran daring dan luring mensyaratkan kerja sama sinergis antara guru, sekolah, orang tua, dan peserta didik. Pada titik ini, sekolah perlu menaruh kepedulian kepada orang tua peserta didik yang memiliki kendala dalam proses pembelajaran dengan memfasilitasi, agar pembelajaran daring dan luring bisa berjalan optimal.

Dari aspek pembelajaran daring pun tentu memerlukan media yang harus dipenuhi dari  sisi penguasaan aplikasi-aplikasi seperti Zoom,  Google Meet, atau aplikasi-aplikasi lainnya. Tidak semua orang tua juga anak  menguasainya, apalagi mereka yang berada di jenjang pendidikan dasar dan menengah yang masih membutuhkan bimbingan terus-menerus. Demikian juga mereka yang tinggal di pedesaan yang jauh dari akses internet. Belum lagi soal biaya yang harus dikeluarkan untuk pengeluaran pulsa atau paket kuota internet, tidak sedikit yang harus dikeluarkan mereka, para orang tua.

Namanya juga di masa yang diistilahkan sebagai new normal, tentunya pula tudak bisa selazim di masa normal. Setidaknya sampai satu semester guru harus menyesuaikan program semester, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran,  dan alokasi waktu tiap materi pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, indikator pencapaian kompetensi baik itu untuk penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar harus adanya perubahan sesuai adanya pandemic virus korona ini.

Penilaian anak pun harus melihat ke arah pendidikan karakter dan kecakapan hidup. Bukan hanya hasil nilai dari ulangan dan tugas saja. Dalam penjadwalan waktu belajar pun dirubah.

Kondisi ini juga dialami para guru dan siswa di SD Inpres 36 Wasegi, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari. Sekolah pun dipaksa mengatur kembali sistem pembelajaran agar siswanya tetap memperoleh hak belajar.

Karena keterbatasan akses intenet dan kepemilikan gawai, maka para guru coba merangkum pembelajaran selama satu minggu dalam bentuk print out disertai soal latihan yang akan dikerjakan oleh siswa. Print out itu lalu dibagikan kepada siswa di sekolah dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat, seperti wajib mengenakan masker, cuci tangan dan menjaga jarak.

Meskipun BDR, tetapi tetap harus dipelihara suasana keseriusannya. Ini pun penting untuk menjaga mental siswa agar mereka tetap terkondisikan dalam suasana kebersamaan.

Satu hal lain yang juga perlu ditingkatkan adalah adanya  kerjasama antara orang tua, guru dan sekolah. Kita  sekarang terkendala secara sangat signifikan oleh keharusan memanfaatkan  perangkat teknologi serta aplikasinya yang seolah baru, berbiaya tinggi serta belum merata. Baik guru, orang tua maupun sekolah, masing-masing harus saling terbuka mengemukakan hambatan utama masing-masing, serta bekerja sama mencari solusi-solusi kreatif yang menguntungkan masing-masing pihak. ***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: