Sokola yang Memerdekakan

Oleh: Usep Setiawan

Penulis adalah Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden, lulusan Antropologi FISIP Universitas Padjadjaran, dan Sosiologi Pedesaan FEMA IPB.

 

KEMARIN dengan khidmat kita merayakan HUT Kemerdekaan Ke-75 RI, 17 Agustus 2020. Sebelumnya, dunia pendidikan di Tanah Air digebrak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim yang menghapus ujian nasional dan menggantinya dengan program Merdeka Belajar (November 2019).

Lalu, ruang publik hiruk pikuk dengan polemik seputar Program Organisasi Penggerak yang diimbuhi kabar mundurnya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah lalu Persatuan Guru Republik Indonesia dari program ini (Juli 2020). Mendikbud sudah minta maaf. Program ini sedang dievaluasi dan berupaya diperbaiki di tengah jalan.

Selain gaya kepemimpinan yang tak biasa, Nadiem juga membawa segudang agenda yang bersumber dari pemikiran merdeka dan revolusioner dalam pengelolaan pendidikan dan kebudayaan dalam tubuh birokrasi. Wajar kalau banyak pihak yang terkejut-kejut hingga protes karena kenyamanannya terusik.

Mengiringi dinamika pada ruang pemerintahan di bidang pendidikan tadi, telah terbit buku penting berjudul Melawan Setan Bermata Runcing (2019) yang mengurai seluk-beluk dan lika-liku pendidikan alternatif yang semangatnya memerdekakan.

Buku ini ditulis di antaranya oleh Butet Manurung, yang lulusan Antropologi FISIP Universitas Padjadjaran, yang namanya dikenal dari kampung hingga kampus dan malang melintang secara nasional bahkan internasional dengan banyak penghargaan di tangan.

Hakikat pendidikan

Saleh Abdullah, yang memberi kata pengantar buku, menyatakan bahwa selama ini pendidikan hanya diarahkan agar anak-anak menjadi sekrup atau suku cadang lainnya untuk ditempatkan ke dalam sebuah mesin industri.

Mengutip Ivan Illich, Saleh menjelaskan hakikat pembelajaran sebagai hasil dari partisipasi bersama dari suatu proses yang bagus dan tanpa hambatan. Pendidikan dan sekolah yang mestinya jadi sarana pembebasan malah menjadi penjara penaklukan. Selama 16 tahun Sokola berkiprah menyelenggarakan gerakan pendidikan ke berbagai pelosok yang penuh tantangan. Pendidikan harus menjawab persoalan yang dihadapi sebuah komunitas (hlm xi-xiv).

Buku Melawan Setan Bermata Runcing ini ibarat menyibak tabir dari buku karya Butet sebelumnya yang bertajuk Sokola Rimba (2007). Publik luas mengetahui isi buku ini setelah diangkat ke film layar lebar dan sempat menggetarkan jagat perfilman (November 2013).

Buku dan film ini bersumber pada kisah nyata yang dilakoni Butet Manurung bersama Dodi Rokhdian dan kawan-kawan dalam mempraktikkan pendidikan alternatif penuh kejutan yang khas antropologi bagi Orang Rimba di pedalaman Jambi, Sumatera.

Bagi penggali antropologi pada umumnya, pendidikan ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengetahuan sebagai unsur kebudayaan yang bersifat universal. Dalam buku ini, Butet menekankan bahwa selama alam sekitar masih ada, selama itu pula kebudayaan akan operasional bagi kehidupan dan mengukuhkan identitas komunitas.

Dalam konteks perubahan, sekolah atau pengetahuan baru Sokola mengisi kemampuan beradaptasi itu, sambil tetap menghargai proses transfer pengetahuan lokal yang selama ini ada. Pendidikan sebagai strategi adaptasi budaya.

Bagi Sokola, sekolah harus menjadi pusat kegiatan komunitas. Sekolah harus menjadi bagian dari kehidupan suatu masyarakat dan terhubung dengan permasalahan sehari-hari. Sokola itu organisasi maju berasa klasik.

Sokola berbadan hukum perkumpulan yang fokus pada layanan program pendidikan ”kontekstual” untuk kelompok masyarakat adat di Indonesia yang tak terakses atau tak mau mengakses sekolah formal karena alasan geografis atau kultural. Pemihakan Sokola pada kaum lemah tampak jelas.

Posisi berdiri

Banyak kisah menarik dalam buku ini. Misalnya suatu hari, Butet ditanya anak Orang Rimba: ”Ibu Guru, apa guna kami bisa membaca dan menulis kalau hutan kami hancur juga? Apa gunanya pintar kalau hidup kami dipaksa oleh aturan Taman Nasional untuk keluar dari hutan?”

Pertanyaan kritis murid Sokola Rimba menjadi latar berdirinya Sokola. Pendidikan formal tidak dapat membawa transformasi sosial yang diharapkan. Komunitas menjadi pusat segala tujuan pembelajaran (hlm 7-9).

Orang Rimba melihat pencaplok tanah yang pandai membaca dan menulis seperti setan bermata runcing yang menyeramkan (hlm 240). Metafor yang teramat tragis ini kemudian menginspirasi judul buku ini. Posisi berdiri Sokola jelas bersama komunitas.

Secara rinci, buku ini mengupas literasi terapan yang di dalamnya berisi literasi dasar berupa kemampuan teknis membaca, menulis dan berhitung. Selanjutnya fungsionalisasi literasi untuk mengatasi persoalan kehidupan harian dan menguatkan identitas kultural.

Pengorganisasian dan penguatan internal ditujukan agar komunitas mampu mengorganisasikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan dan tahu cara memecahkan persoalan hidupnya. Pendidikan sebagai alat pemecah masalah menjadi hal yang di kedepankan.

Sokola kemudian mengembangkan program pendidikan sejenis dari kelompok masyarakat lain di pelosok. Kriterianya, komunitas buta huruf yang dengan kondisi ketidakmampuannya untuk membaca, menulis dan berhitung tersebut mereka mengalami ketertindasan.

Kriteria berikutnya kondisi lingkungan yang berubah yang berdampak tidak saja pada eksistensi kultural mereka, tetapi juga menjadi ancaman bagi sumberdaya alam dan pranata sosialnya. Kriteria terakhir, rasa sayang yang dimiliki oleh komunitas tersebut kepada adatnya (hlm 22).

Untuk mengenal lebih dekat, profil program pendidikan Sokola meliputi: Sokola Wailago di Sikka, NTT (2006-2016); Sokola Kajang di Bulukumba, Sulsel (2007-2014); Sokola Tayawi di Halmahera, Maluku Utara (2007-2009); Sokola Asmat di Asmat, Papua (2014-2016); Sokola Kaki Gunung di Jember, Jatim (2019-sekarang); Sokola Pesisir di Makassar, Sulsel (2004-sekarang), dan; Sokola Pascabencana di Aceh, Garut, Yogyakarta, Klaten dan Pariaman.

Pendekatan dialogis

Bagian penting buku ini terletak pada pendekatan dialogis yang diterapkan dalam praktik Sokola. Komunitas sebagai subyek dan pendidikan yang aktual dihidangkan dengan metoda dekonstruktif-rekonstruktif dan dialektik. Dijelaskan juga voluntarisme untuk perubahan. Belajar dari Orang Rimba sebagai kelompok pemburu dan peramu telah melestarikan trandisi komunal dengan ikatan-ikatan solidaritas yang kuat.

Adapun istilah sukarelawan atau volunter tak dikenal di Rimba karena orang sudah terbiasa saling membantu. Live in atau tinggal bersama, yang awalnya merupakan siasat menghemat biaya operasional, lalu berkembang menjadi strategi pokok setiap program Sokola. Sebuah penemuan unik, transformasi dari keterpaksaan menjadi pilihan sadar yang justru menjadi utama.

Demikian halnya dengan ikatan-ikatan kebersamaan di komunitas sebagai nilai gotong royong yang mengakar kuat di Indonesia. Jika seorang volunter ingin membuat perubahan, maka ia harus datang, melihat dari dekat, dan mendengar langsung persoalan yang dihadapi komunitas dari sudut pandang komunitas. Ini prinsip voluntarisme Sokola.

Pemahaman tentang komunitas didapat dari asesmen awal dan berjaringan dengan pihak lain untuk mempermudah menjalankan kegiatan bersama komunitas. Hal ini memberi terang alur pengorganisasian. Buku ini mengupas literasi dasar, literasi terapan, pendidikan konstektual, dan keberpihakan. Kader, organisasi, dan pengorganisasian Sokola juga diperkenalkan.

Komunitas itu penting dipahami. Asesmen sebagai langkah awal serupa ”ketukan pintu” dengan mengikuti tata cara dan aturan main setempat, bertamu ke orang-orang yang sekiranya punya pengaruh, perkenalkan diri, meminta izin, dan menjelaskan maksud dan tujuan.

Berjaringan dengan pihak lain di suatu tempat dan pada suatu konteks persoalan menjadi penting dilakukan guna mempermudah proses-proses menjalankan kegiatan bersama komunitas. Uraian teknis yang memberi terang alur pengorganisasian pada awal pengembangan Sokola.

Pendidikan memerdekakan

Dalam epilog buku yang ditulis Donatus K Marut, direfleksikan pemikiran Paulo Freire, bapak pendidikan yang membebaskan dari Brasil. Freire menyebut literasi emansipasi untuk pembelajar tentang lingkungan sosial dan posisi yang mereka ambil di dalamnya.

Sementara itu, Sokola menggunakan istilah yang lain, yakni literasi kontekstual. Dalam konteks tertentu, Sokola menggunakan sebagian metode literasi kritis, sementara dalam konteks lain Sokola lebih banyak menggunakan literasi fungsional (hlm 240-245).

Demikianlah, buku ini lahir tepat di saat pendidikan nasional tengah mencari format baru bagi pembangunan manusia sebagai orientasi utama pemerintah sekarang. Semangat program Merdeka Belajar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan rasanya relatif senapas dengan substansi dan strategi yang dikembangkan Sokola. Jika dikawinkan, sekolah formal bisa ditaburi semangat dan cara belajar model Sokola yang memerdekakan anak bangsa.

Sokola sudah memberi contoh bahwa penggerak dunia pendidikan itu banyak dan kaya variasi pengalamannya. Karena itu, sambil mengakhiri polemik terkait program organisasi penggerak, maka penting untuk mengadopsi model pendidikan literasi dan keterampilan yang ditawarkan Sokola sebagai alternatif bagi metode pendidikan yang resmi.

Semua ini dilakukan agar pendidikan memerdekakan anak-anak bangsa dan Indonesia yang berkemajuan hadir dalam makna sesungguhnya. Mari jadikan pendidikan sebagai instrumen yang memerdekakan. Selamat Ulang Tahun Ke-75 Republik Indonesia. Merdeka! ***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: