6 Juli Disepakati sebagai Hari Lahir Jemaat Mansinam

MANOKWARI, papuabaratnews.coKlasis Manokwari akhirnya menetapkan setiap 6 Juli diperingati sebagai hari lahirnya Jemaan Mansim.

Penetapan ini pun dilandaskan terhadap penyelenggaraan ibadah pertama yang dipimpin oleh Pendeta Ottow dan Geisler di Pulau Mansinam pada 6 Juli 1856 silam, yang di hadiri oleh dua perempuan dari Sausapor dan dijuga salah satu  Kurano Mansinam serta penduduk lokal.

Kesepakatan penentuan hari jadi tersebut mengemuka dalam Seminar Hari Jadi Jemaat Mansinam yang digelar pada Sabtu (7/9/2019).

Salah satu narasumber lulusan Pacific Theology College Suva, Pdt. Wanwa, mengatakan, 6 Juli 1856 merupakan tonggak sejarah berdirinya jemaat di Pulau Mansinam yang diawali dengan ibadah pertama bersama beberapa warga yang ada saat itu bersama dengan kedua misionaris Jerman tersebut.

“Ibadah  pertama ini penting, karena kemudian Pdt Ottow dan Geisler memberkati rumah ibadah yang selanjutnya digunakan sebagai pusat pendidikan dan masa depan gereja,” jelasnya dalam diskusi.

Pdt. Wanma melanjutkan, dengan disepakati dan ditetapkannya 6 Juli 1856, sebagai hari lahirnya jemaat Mansinam. Hal ini kemudian menepis keraguan dan kesimpang siuran terkait dasar berdirinya jemaat Mansinam. Kata dia, hal ini merupakan satu langkah maju ke depan untuk menyusun kembali sejarah penginjilan di tanah Papua dan Papua Barat.

“Hal ini sangat penting, karena kita dapat menyusun kembali sejarah pewartaan Injil di Papua yang berawal dari sini,” ucapnya.

Sementara itu, Dosen Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih, Albert Rumbekwan, meminta agar penetapan 6 Juli 1856 sebagai hari lahirnya jemaat Mansinam harus ditulis dan dipelajari. Sehingga, sejarah tersebut tidak hilang dan selalu diingat oleh generasi ke generasi.

“Sejarah adalah Bapak kehidupan, karena itu harus ditulis dan dipelajari,” urainya kepada media ini, seusai seminar yang bertempat di gereja Lahai Roi Mansinam.

Albert berharap, penulisan kembali sejarah berdirinya jemaat mula-mula di pulau Mansinam harus melibatkan semakin banyak pelaku sejarah yang masih hidup maupun anak – cucu mereka. Hal ini penting agar sejarah yang nanti dituliskan dapat menyusun kembali seluruh rangkaian besar sejarah pekabaran Injil di tanah Papua.

“Selain sumber yang kredibel sebagai rujukan penulisan sejarah, harus dilengkapi dengan hasil wawancara sejumlah pelaku dan saksi mata kejadian yang masih hidup, atau anak cucu mereka,” bebernya.

Pihaknya meyakini dengan ditulisnya sejarah awal mula berdirinya jemaat perdana di Mansinam dapat penjaga jatidiri dan identitas orang Kristen di tanah Papua. Albert mengklaim, penulisan sejarah awal mula jemaat Mansinam akan menjadi dasar utama bagi penulisan dan narasi cerita jemaat –jemaat lain yang tersebar di seluruh tanah Papua.

“Sejarah dan budaya adalah jatidiri kita. Karena itu harus dijaga,” pungkasnya.  (PB 22)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: