Garis Kemiskinan di Papua Barat Naik 3,14 Persen

[Berita ini sudah terbit di harian Papua Barat News edisi Jumat,17 Januari 2020]

 

MANOKWARI, PB News – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, garis kemiskinan di Provinsi Papua Barat pada periode September 2019 tercatat sebesar Rp591.336 per kapita per bulan, meningkat jika dibandingkan dengan periode Maret 2019 yang tercatat Rp573.313 per kapita per bulan.

“Garis kemiskinan mengalami peningkatan sebesar 3,14 persen. Artinya, pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup lebih tinggi dari periode sebelumnya,” ujar Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia saat menggelar konfrensi pers di Manokwari, pada Rabu (15/1/2020).

Peran komoditas makanan terhadap garis kemiskinan, kata dia, jauh lebih besar dari komoditas bukan makanan. Kontribusi komoditas makanan pada September 2019 mencapai 76,65 persen, sedangkan komoditas bukan makanan tercatat hanya 23,35 persen.

Dia menerangkan, peran komoditas makanan terhadap garis kemiskinan di daerah perdesaan sebesar 79,77 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah perkotaan yang mencapai 72,59 persen.

“Sumbangan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan ini di atas 70 persen,” tutur dia.

Beras, sambung Maritje, menjadi komoditas paling berkontribusi terhadap garis kemiskinan pada periode September 2019 baik di perkotaan yang mencapai 20,02 persen maupun perdesaan sebesar 21,07 persen. Selanjutnya, rokok filter menyumbang 14,81 persen jauh lebih tinggi dari garis kemiskinan di perkotaan yang hanya 9,82 persen. Kemudian, ada komoditas telur ayam ras, ikan kembung, roti, gula pasir dan lainnya yang turut andil terhadap pembentukan garis kemiskinan di Papua Barat.

“Beras masih jadi primadona masyarakat di perkotaan dan perdesaan. Secara nasional komoditas beras juga mendominasi,” kata dia.

Selain komoditas makanan, ada sejumlah komoditas bukan makanan turut andil terhadap garis kemiskinan periode September 2019. Untuk daerah perkotaan, kebutuhan bukan makanan mencapai 27,41 persen dan di daerah perdesaan hanya 20,23 persen. Seperti, kontribusi perumahan di perkotaan capai 9,52 persen dan 8,14 persen di daerah perdesaan. Kemudian, pendidikan yang menyentuh angka 2,59 persen di perkotaan, bensin 3,42 persen di daerah perdesaan, listrik, angkutan, minyak tanah, perlengkapan mandi dan lainnya.

Secara umum, jumlah penduduk miskin di Papua Barat mengalami penurunan. Data BPS menggambarkan, penduduk miskin pada September 2017 tercatat 212,86 ribu orang (23,12 persen), dan mengalami penurunan pada Maret 2018 menjadi 214,47 ribu orang (23,01 persen). Pada September 2018, jumlah penduduk miskin turun menjadi 213,67 ribu orang (22,66 persen). Selanjutnya, pada Maret 2019 jumlah penduduk miskin di Papua Barat tercatat 211,50 ribu orang (22,17 persen). Jumlah penduduk miskin kembali turun pada September 2019 menjadi 207,59 ribu orang (21,51 persen).

“Antara Maret 2019 hingga September 2019 jumlah penduduk miskin di Papua Barat turun sebanyak 3,91 ribu orang atau setara 0,66 persen poin,” pungkas dia.(PB15)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: