Kota Sorong Masuk Zona Merah Covid-19

MANOKWARI, papuabaratnews.coKota Sorong menjadi daerah pertama masuk zona merah Covid-19 di Papua Barat. Hal ini setelah Pemerintah Provinsi Papua Barat mengkonfirmasi 2 kasus positif Corona Virus Disease (Covid-19), Jumat akhir pekan lalu. Dalam rilis terbaru dinyatakan 1 dari 2 pasien dalam pengawasan yang meninggal dunia belum terkonfirmasi positif Covid-19 di Rumah Sakit Sele Be Solo, Kota Sorong, Senin (30/3/2020).

Juru bicara Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Papua Barat, dr Arnold Tiniap mengatakan, saat ini Sorong telah masuk dalam zona merah sebagai salah satu daerah dengan kasus positif Covid-19 di Papua Barat. Menurutnya penetapan kota Sorong sebagai wilayah zona merah darurat Covid-19 lantaran terkonfirmasinya 2 kasus positif Covid-19.

“Kota Sorong menjadi daerah pertma zona merah darurat Covid-19 di Papua Barat,” ujarnya kepada Papua Barat News di Manokwari, Selasa (31/3/2020).

Arnold menuturkan sejak adanya kasus positif Covid-19 di Kota Sorong maka setiap orang yang datang dari Sorong harus mendapatkan pemeriksaan medis.

Selain pemeriksaan kesehatan, menurut Arnold, orang yang bersangkutan harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Ini guna memutus dan mencegah mata rantai penularan Covid-19.

“Sekarang setiap orang yang datang dari Sorong harus mengikuti protokol pemeriksaan suhu tubuh dan menjalani masa isolasi mandiri,” terangnya.

Dalam kesempatan ini Arnold membenarkan adanya penambahan 1 orang pasien dalam pengawasan yang meninggal di Sorong, Senin (30/3/2020). Pasien berjenis kelamin perempuan ini meninggal setelah  menjalani pemeriksaan dan perawatan medis di RSUD Kota Sorong dan kemudian dipindahkan ke RSUD Sele be Solu. Namun sampai sejauh ini dari pantaun media ini belum terkonfirmasi apakah pasien yang meninggal itu positif Covid-19.

“Benar ada pasien  dalam pengawasan berjenis kelamin perempuan yang Senin (30/3/2020), meninggal di Sorong,” kata Arnold.

Terkesan Terlambat

Arnold menyebutkan, tren bertambahnya kasus positif Covid-19 di Kota Sorong diakui lantaran adanya keterlambatan tim Gugus Tugas baik di tingkat kabupaten/kota maupun di provinsi. Hal ini makin diperburuk dengan adanya 2 kasus kematian di Kota Sorong. Karena itu kinerja Gugus Tugas di semua tingkatan baik kabupaten/kota maupun provinsi perlu mendapat perhatian serius.

“Memang terkesan kita terlambat, karena pasien meninggal sebelum hasil laboratoriumnya keluar,” tandasnya.

Arnold lalu meminta masyarakat Papua Barat untuk melaksanakan anjuran pemerintah dengan melakukan isolasi diri di rumah. Menurutnya dengan melakukan isolasi diri dalam rumah selama 2 minggu atau 14 hari maka mata rantai penularan Covid-19 dapat diputus. Karena sekeras apa pun petugas medis dan dokter bekerja menangani pasien Covid-19 tidak dapat menyelesaikan persoalan jika kesadaran masyarakat untuk diam di rumah tidak berjalan.

“Masyarakat sebagai garda terdepan dalam pencegahan wajib mentaati imbauan isolasi diri dalam rumah,” pungkasnya.

Seorang PDP Meninggal

Dilansir Antara, seorang wanita berusia 47 tahun pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona meninggal dunia, Senin (30/3/2020), setelah menjalani perawatan selama lima hari di RSUD Sele be Solu.

Juru bicara Satgas Covid-19 Kota Sorong, Rudy R Laku di Sorong, Selasa (31/3/2020), mengatakan pasien dalam pengawasan tersebut meninggal dunia sekitar pukul 20.00 WIT dan hendak dimakamkan di Pekuburan Rufei namun ditolak oleh masyarakat setempat.

Dia mengatakan bahwa jenazah pasien dalam pengawasan tersebut telah dimakamkan pada Selasa (31/3/2020) sore sesuai SOP yang penanggulangan Covid-19 setelah pemerintah daerah memberikan penjelasan kepada masyarakat kawasan Pekuburan Rufei yang menolak jenazah dimakamkan di tempat tersebut.

Menurut dia, Wali Kota Sorong Lambert Jitmau yang langsung turun lapangan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar jenazah PDP tersebut dimakamkan sehingga virus tidak menyebar kepada yang lain.

“Wali Kota juga melakukan pertemuan dengan warga Kampung Salak di kawasan Diklat Kota Sorong agar masyarakat setempat tidak menolak gedung tersebut dijadikan sebagai tempat karantina orang dalam penetapan (ODP) ,” ujarnya.

Dikatakan, ODP di Kota Sorong hingga Selasa (31/3/2020) mencapai 84 orang yang terus dilakukan pengawasan ketat oleh tim Satgas. Saat ini 84 orang itu sedang menjalani isolasi mandiri. Namun pemerintah daerah akan mengupayakan agar mereka ditampung pada satu tempat yakni gedung Diklat Kampung Salak Sorong.

Ia menjelaskan bahwa jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) di Kota Sorong tujuan orang, namun empat orang telah selesai dilakukan pengawasan sehingga tersisa tiga orang pasien.

“Satu pasien meninggal dunia kemarin malam dan dikuburkan hari ini sehingga tersisa dua orang pasien dalam pengawasan yang dirawat,” katanya. (PB22/ANT/RED)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: