Mereka Pilih Merugi Ketimbang Terinfeksi

Oleh: Hardaning Tyas/Fajar Ramadhan

MESKI mengalami banyak kerugian selama pandemi, para pegiat pariwisata terus bersiasat agar dapat menyambung hidup. Mereka rela menolak tawaran wisatawan yang nekat ingin menggunakan jasa wisata saat pandemi belum usai.

B Poetry Siom Siahaan, salah satu penyedia jasa perjalanan wisata di Sorong, Papua Barat, mengatakan, amat terpukul dengan pandemi Covid-19. Sebab, ia harus mengembalikan uang tanda jadi senilai ratusan juta rupiah dari para pemesan yang membatalkan kunjungan wisata.

Untuk ke Raja Ampat saja, setidaknya ada 300 wisatawan yang membatalkan rencana wisatanya. Kebanyakan dari mereka telah memesan paket wisata untuk bulan Maret hingga Oktober. Pembatalan bahkan sudah dilakukan oleh wisatawan asing sejak Februari lalu.

Poetry tak hanya melayani permintaan ke Raja Ampat, tetapi juga destinasi wisata di Papua dan sekitarnya. Pada bulan Agustus, misalnya, di Papua akan diadakan Festival Lembah Baliem. Ia mengatakan, banyak turis mancanegara sudah memesan jasa paket wisata ke festival tersebut sejak Agustus tahun lalu.

Sayangnya, pandemi Covid-19 membuat festival tersebut dibatalkan. Mau tak mau, Poetry mengembalikan semua uang tanda jadi yang sudah dibayarkan. Setidaknya ada 150 turis asing yang melakukan pembatalan. Mereka, antara lain, berasal dari Malaysia dan Prancis.

Untuk paket wisata selama empat hari tiga malam, tarifnya Rp 9,5 juta per orang. Artinya, Poetry setidaknya harus merelakan uang senilai Rp 855 juta untuk mengembalikan dana pemesan. ”Dari 150 wisatawan, sekitar 30 orang telah membayar penuh. Sisanya membayar 50 persen. Kami kembalikan seutuhnya,” ungkapnya.

Meski begitu, ada wisatawan yang kini meminta jasa wisata Poetry dengan iming-iming bayaran di atas tarif normal. Akan tetapi, ia menolak dan menaati aturan pemerintah. Baginya, kesehatan lebih utama ketimbang materi.

”Ada turis yang berani bayar saya Rp 30 juta per orang untuk sepuluh hari sembilan malam di Raja Ampat. Mau dibayar Rp 50 juta juga saya enggak mau,” katanya. Adapun tarif normalnya Rp 18 juta-Rp 20 juta per orang.

Untuk menyambung hidup, Poetry banting setir dengan melayani jasa pesan-antar makanan di Sorong. Menurut dia, pelaku wisata yang berada di Sorong relatif memiliki banyak alternatif usaha saat pariwisata terhenti.

Ketersediaan alternatif pekerjaan ini berbeda dengan kondisi di Raja Ampat dan sekitarnya seperti di Pulau Saonek dan Pulau Arborek. ”Para pemilik penginapan atau kapal cepat di sana sama sekali tidak punya sampingan. Saat ini, kami dari Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) Sorong sedang mengumpulkan bantuan sosial untuk mereka,” kata Poetry.

Berjualan buah

Rizky Ramdan, penyedia jasa wisata ke Bromo, Jawa Timur, beralih menjadi penjual buah dan sayur selama pandemi Covid-19. Meski penghasilan yang didapatkan tidak sebanding dengan penghasilan di sektor pariwisata, hal tersebut harus dijalani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

”Kebetulan Malang memang penghasil sayur dan buah. Keuntungannya enggak banyak, hanya sekitar Rp 2.000 per kilogram. Per hari hanya laku puluhan kilogram,” katanya.

Penghentian aktivitas wisata di Gunung Bromo karena pandemi terjadi pada akhir Maret 2020. Ratusan wisatawan sebelumnya sudah memesan paket wisata kepada Rizky untuk akhir Maret tersebut. Mau tak mau, ia harus mengembalikan uang tanda jadi dari para pemesan tersebut.

”Dari sekitar 120 pemesan, mungkin nilainya bisa mencapai Rp 150 juta yang saya kembalikan,” ungkapnya.

Bulan Maret dan April seharusnya menjadi waktu yang tepat bagi para pegiat wisata di Gunung Bromo untuk mendulang rupiah. Sebab, bulan menjelang Ramadhan itu banyak dipilih wisatawan untuk menikmati Bromo.

Menjelang Ramadhan, Rizky biasanya meraup keuntungan Rp 30 juta-Rp 40 juta selama dua minggu. Saat ini para pegiat wisata di Bromo menghadapi situasi yang dilematis. Di satu sisi, mereka ingin agar aktivitas pariwisata dibuka kembali. Akan tetapi, di sisi lain, mereka khawatir dengan angka pasien positif yang semakin hari semakin meningkat.

Sebagai persiapan, Rizky dan komunitasnya merancang protokol pariwisata selama Covid-19, di antaranya dengan mencuci mobil jip setiap hari, mewajibkan penggunaan masker, hingga mengurangi jumlah penumpang di dalam mobil. ***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: