Panti Asuhan Fajar Timur Kesulitan Kendaraan Operasional

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Kesulitan kendaraan operasional masih menjadi masalah serius bagi pengelola Yayasan Meriba Papua Sejahtera yang menangani Panti Asuhan Kristen Fajar Timur yang berada di jalan Pantai Utara, Kampung Mubri, Distrik Manokwari Utara Kabupaten Manokwari.

Ketiadaan kendaraan operasional di Panti Asuhan Kristen Fajar Timur  menyebabkan biaya orperasional panti menjadi lebih besar. Sementara tidak ada pemasukan rutin setiap bulannya. Sehingga pihaknya berharap adanya uluran tangan  pemerintah dengan menyediakan bantuan kendaraan operasional bagi panti asuhan.

“Kita sangat membutuhkan kendaraan operasional untuk memenuhi kebutuhan setiap hari anak-anak panti,” ujarnya Pengelola Panti Asuhan Kristen Fajar Timur, Loisa Hinarkombu di Manokwari, Sabtu (13/2/2021).

Loisa menuturkan kendaran operasional diperuntukan untuk keperluan belanja dan mengatar anak ke sekolah. Selama ini pihaknya kesulitan untuk belanja, keperluan berobat ke kota dan antar jemput anak-anak ke sekolah.  Kondisi ini menyebabkan pengeluaran untuk sewa mobil lebih besar sehingga kebutuhan lainnya sulit dipenuhi.

“Misalnya saja kalau ada yang sakit dan harus berobat di kota maka terpaksa kita harus carter mobil dengan harga Rp 500 ribu sekali jalan, itu belum dengan biaya makan dan minum,” katanya.

Dia mengakui sampai saat ini belum ada uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten Manokwari atau pun Provinsi Papua Barat. Padahal kata dia, panti asuhan yang dikelolanya ini telah mengantongi izin Kemenkumham Nomor: AHU-0017370.AH.01.04. Tahun 2019.

Selain itu juga telah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Manokwari, Nomor: 670/255/XI/2019, dan Dinas Sosial Nomor: 430/413.

“Panti asuhan ini sudah terdaftar di Negara tetapi sampai hari ini kami belum mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk anak-anak di sini,” terang istri Pendeta Stevanus Ronsumbre.

Ia menyebut panti asuhan Fajar Timur awal berdiri tahun 2005, di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan. Dia bersama sang suami yang kini terbaring sakit dan kesulitan berbicara berjalan keliling wilayah sebagai guru Injil sampai di Kabupaten Mamberamo. Karena kesulitan askes pendidikan maka anak-anak yatim piatu yang ada di sana dibawa ke Manokwari untuk dapat mengenyam pendidikan formal seperti anak-anak lain seusia mereka. Sampai saat ini terdapat 23 anak yang diasuh dan dibina di panti asuhan.

“Kebanyakan anak-anak ini adalah yatim piatu. Tidak punya lagi keluarga sehingga kami pelihara,” tandas Loisa.

Pihaknya berharap uluran tangan donatur baik pemerintah maupun lembaga/organisasi sosial dalam menjawab kebutuhan pelayanan panti. Kendaraan operasional kata dia, dapat berupa motor atau mobil ambulance untuk keperluan panti asuhan.

“Kami berharap ada yang terbeban untuk dapat membantu meringankan beban kami,” pungkasnya. (PB22)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 15 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: