DPRPB Imbau Masyarakat Jaga Toleransi selama Ramadan

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Sejarah membuktikan toleransi antar umat beragama di Provinsi Papua Barat telah terbangun sejak dahulu kala. Kondisi itu menempatkan Bumi Kasuari sebagai provinsi dengan indeks toleransi tertinggi di Indonesia (Skor 82,1).

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat (DPRB) Orgenes Wonggor mengimbau agar seluruh elemen masyarakat dapat mempertahankan prestasi toleransi dan kerukunan antarumat beragama, hingga masa mendatang.

“Kondisi yang sudah kita capai ini, harus tetap kita pertahankan,” ujar Orgenes saat dikonfirmasi awak media di Manokwari, Kamis pekan lalu (22/4/2021).

Ia menuturkan, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk segera memberikan informasi kepada pihak keamanan, apabila mengetahui oknum-oknum yang dicurigai berafiliasi dengan jaringan terorisme.

Selain itu, selama Bulan Ramadan ini umat yang beragama lain diminta tetap menjaga situasi kamtibmas agar tetap kondusif.

“Jaga hubungan baik itu,” sebut Politisi Partai Golkar ini.

Dia juga meminta intelijen dari TNI maupun Polria harus mendeteksi lebih dini terhadap penyebaran paham-paham radikalisme yang ingin merusak harmonisasi kehidupan beragama di Papua Barat ini.

“Gangguan terorisme ini kapan saja bisa muncul. Tidak hanya di Gereja, tapi di Mesjid atau tempat ibadah agama lain. Jadi harus diantisipasi,” tegas Orgenes.

Sebelumnya, Anggota DPRPB Adriana Leonora Nalle menilai, ketahanan keluarga menjadi wahana utama yang membentengi generasi muda dari pengaruh buruk paham radikalisme dan terorisme.

Pembentukan mental dan karakter anak, harus dilakukan sedini mungkin dari lingkungan keluarga. Selain itu, interaksi sosial anak di sekitar lingkungan tempat tinggal pun harus dipantau.

“Penolakan radikalisme ini dimulai dari dalam keluarga dulu. Perlu didikan dari keluarga, bukan penolakan tapi tidak dibimbing,” kata Adriana, Rabu (14/4/2021).

Antisipasi penyebaran paham radikalisme, kata dia, juga membutuhkan komitmen lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi.

Ketika anak-anak berada di sekolah atau kampus maka tenaga pendidik memiliki peran pengawasan terhadap aktivitas anak-anak.

“Lembaga keagamaan juga miliki peran sangat penting dalam membina mental anak-anak,” tutur dia.

Menurut Adriana, bimbingan kerohanian menjadi salah satu langkah positif bagi tumbuh kembang anak di masa mendatang. Upaya itu tentu harus dilakukan secara rutin dan konsisten oleh orang tua ketika anak berada di rumah.

“Kalau tidak ada bimbingan tentu anak-anak mudah jatuh ke hal-hal buruk,” jelas Adriana.

Selain bimbingan rohani, sambung dia, orang tua juga perlu mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Sehingga, anak-anak mampu mengaplikasikan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekarang ini banyak anak-anak sudah tidak menghargai orang tua, selalu berontak dan tidak mau turuti nasihat orang tua,” tutur Adriana Nalle. (PB15)

*Berita ini telah diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Senin 26 April 2021.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: