Rekonstruksi Kasus Pembunuhan DW dan HS di Manokwari Berjalan Kondusif

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Rekonstruksi kasus pembunuhan berencana yang menyebabkan korban DW dan HS meninggal dunia, diselenggarakan di tempat kejadian perkara di Wosi Transito, Kota Manokwari, pada Kamis 10 juni 2021.

Rekonstruksi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu berjalan kondusif sesuai ekspektasi kepolisian setempat.

“Kami ucapkan terimakasih karena pihak keluarga korban dapat mendukung pelaksanaan rekonstruksi. Semua berjalan kondusif,” kata Kapolres Manokwari melalui Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Iptu Arifal Utama, saat dikonfirmasi sejumlah awak media usai rekonstruksi.

Dia menjelaskan, jumlah personil gabungan yang diterjunkan untuk pengamanan rekonstruksi sebanyak 122 orang. Mereka berasal dari Polres Manokwari, Satuan Brimob Polda Papua Barat, Polsek Kota Manokwari dan Polsek Amban. Selain itu, ada sejumlah Babinsa dari jajaran Kodim 1801/Manokwari turut membantu pengamanan rekonstruksi tersebut.

“Ada 22 adegan rekonstruksi,” jelas dia.

Tujuan dari penyelenggaraan rekonstruksi, sambung Arifal, agar penyidik kepolisian memperoleh gambaran jelas suatu tindak pidana terjadi. Sekaligus, menguji kebenaran dari keterangan pelaku dan para saksi yang tertuang dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

“Hasil rekonstruksi sesuai dengan BAP-nya,” ucap dia.

Setelah rekonstruksi, kata dia, penyidik Polres Manokwari akan segera merampungkan berkas perkara tahap satu yang kemudian diserahkan ke pihak Kejaksaan Negeri Manokwari.

“Nanti kita akan berkoordinasi dengan Kasi Pidum Kejari untuk tahap satunya,” tutur Arifal Utama.

Dalam kesempatan itu, Kasi Pidum Kejari Manokwari Roberto Sohilait menjelaskan, rekonstruksi yang diselenggarakan sudah sesuai dengan keterangan tersangka dan para saksi yang tertuang dalam BAP. Koordinasi antara kepolisian dan kejaksaan tetap intens, sehingga penanganan perkara berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Dalam rekonstruksi disesuaikan dengan keterangan baik dari tersangka maupun saksi,” jelas dia.

Tokoh Masyarakat Obeth Ayok mengapresiasi terlaksananya seluruh rekonstruksi. Ke depannya, proses hukum diharapkan dapat memberikan rasa keadilan bagi kedua keluarga korban.

“Putusan pengadilan nanti kami berharap bisa memuaskan hati keluarga korban,” ucap Ayok.

Obeth juga menyarankan agar setiap rekonstruksi tindak pidana harus berjalan tepat waktu. Dengan demikian, kedisiplinan waktu sangat diutamakan.

“Jangan Polisi sudah ada baru harus tunggu dari kejaksaan. Harus tepat waktu supaya tidak buka peluang bagi orang-orang yang mau memanfaatkan kesempatan itu (Antisipasi terjadi keributan, red),” ujar dia.

Dari pantauan awak media di lapangan, rekonstruksi diperankan langsung oleh kedua tersangka yakni AA dan MS, serta dibantu oleh anggota polisi.

Sebagai informasi, DW dan HS tewas setelah ditikam dengan senjata tajam pada Selasa (23/3/2021) dini hari. DW meninggal dunia setelah sempat dievakuasi oleh aparat kepolisian ke RSAL Manokwari. Sementara, HS tewas di TKP yakni di halaman mess ladies milik salah satu tempat karaoke di kawasan Trikora Wosi.

Dalam kasus ini, tersangka AA nekat menikam kedua korban menggunakan badik lantaran tersinggung dengan ucapan para korban yang terkesan merendahkan dirinya. AA juga mengajak saudaranya MS membantu menghabisi nyawa kedua korban tersebut.

Atas peristiwa tersebut, kedua tersangka dijerat Pasal 340 KUH Pidana dan atau Pasal 338 KUH Pidana dan atau Pasal 351 ayat 3 juncto Pasal 55 KUH Pidana tentang Penganiayaan dan Pembunuhan. (PB15)

Berita ini telah diterbitkan di Harian Papua Barat News edisi Jumat 11 Juni 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: