Berita Utama

Akibat Minim Pesawat di Masa Pemulihan

JAKARTA – Pulihnya arus penumpang penerbangan domestik dikhawatirkan belum berimbang dengan ketersediaan jumlah pesawat. Anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, mengatakan lembaganya masih menerima aduan soal minimnya pilihan jadwal keberangkatan dari dan menuju daerah tujuan pariwisata, termasuk Bali.

Aduan itu, kata Sudaryatmo, kerap diikuti keluhan soal harga tiket yang mahal dan anomali layanan maskapai penerbangan. “Memang tergantung karakter rute. Tapi hal-hal ini bisa merugikan pengguna jasa,” kata Sudaryatmo dilansir Tempo, Kamis (21/9/2023).

Menurut Sudaryatmo, permintaan layanan transportasi udara telah pulih setelah tiga tahun dihantam pandemi. Jumlah penumpang juga terus meningkat, hampir menyamai masa sebelum Covid-19 mewabah.

Namun harga tiket pesawat juga terus melambung. Operator penerbangan berbiaya murah alias low-cost carrier (LCC), kata Sudaryatmo, ramai-ramai memasang harga layanan mendekati tarif batas atas (TBA). Dia menengarai kondisi itu turut dipicu oleh masih terbatasnya jumlah pesawat yang siap diterbangkan maskapai.

Yang menjadi perhatian utama YLKI, kenaikan tarif itu nyatanya tak berbanding lurus dengan layanan kepada penumpang. Kualitas layanan maskapai full service, yang harga tiketnya lebih mahal, bahkan menurun. “Ada yang mengurangi hiburan layar dan makanan berat di sebagian rute. Padahal harganya tetap di level full service,” kata Sudaryatmo.

Pemulihan arus penumpang terlihat dari data PT Angkasa Pura II. Pada semester I 2023, jumlah penumpang di bandara AP II mencapai 38 juta orang, yang mencerminkan tingkat pemulihan (recovery rate) sebesar 85 persen dibanding pada semester I 2019 atau sebelum masa pandemi Covid-19.

Begitu pula dengan data di 15 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I. Pada periode Januari-Agustus 2023, AP I telah melayani 409.987 pergerakan pesawat udara, atau recovery rate pergerakan pesawat mencapai 88,4 persen dibanding pada periode yang sama 2019 (periode sebelum masa pandemi Covid-19), yang melayani 463.547 pergerakan pesawat udara.

Vice President Corporate Secretary PT Angkasa Pura I, Rahadian D. Yogisworo, mengatakan bandara yang dikelola perseroan telah melayani 46 juta pergerakan penumpang pada periode Januari-Agustus 2023. “Angka ini telah mencapai tingkat pemulihan atau recovery rate sebanyak 87 persen dibanding pada periode yang sama 2019, yang mencapai 52,8 juta pergerakan penumpang,” katanya, kemarin.

 

Namun Rahadian tak menjawab ketika ditanyai ihwal jumlah armada pesawat yang beroperasi saat ini. Sebelumnya, ia pernah mengungkapkan bahwa jumlah pesawat berkurang drastis pada tahun lalu, yakni hanya sekitar 300 pesawat dari semula sekitar 600 pesawat pada masa sebelum pandemi Covid-19.

Sependapat dengan Sudaryatmo, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Rizal Edy Halim juga memperkirakan jumlah pesawat yang menyusut selama masa pandemi belum pulih sepenuhnya. Hal itu ditunjukkan oleh masih terbatasnya opsi layanan penerbangan bagi penumpang.

Menurut dia, jumlah pesawat yang dioperasikan menyusut lantaran tersendatnya pengadaan pesawat baru. Maskapai kudu menyewa lagi pesawat yang sudah dikembalikan kepada penyewa atau lessor tatkala permintaan layanan anjlok pada masa pandemi. Masalahnya, pengadaan ini tak murah.

“Industri aviasi itu sifatnya capital intensive, membutuhkan modal besar,” kata Rizal. “Bahkan perusahaan negara tidak bisa berbuat banyak (untuk menambah jumlah pesawat).”

Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia, Alvin Lie, mengatakan arus penumpang sebetulnya belum menyamai sebelum masa pandemi. Artinya, kata dia, maskapai masih berpotensi merugi bila sembarangan menyewa pesawat baru demi menambah kapasitas. “Airlines tak mau menambah (pesawat) karena ongkosnya besar. Kalaupun beli hari ini, dapatnya baru 1-2 tahun lagi.” (TEM/ANT)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.