Berita Utama

Antisipasi Dini Cuaca Ekstrem di Sektor Penerbangan

JAKARTA – Para pelaku industri jasa penerbangan turut mengantisipasi cuaca ekstrem yang ditandai hujan serta angin kencang pada masa liburan akhir tahun. Sekretaris Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan (AirNav Indonesia), Rosedi, mengatakan lembaganya akan memperkuat distribusi informasi cuaca di 52 cabang perusahaan.

AirNav, kata Rosedi, mengikuti perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai cuaca buruk yang akan berlangsung hingga 1 Januari 2023. “Kami menyediakan informasi cuaca kepada maskapai penerbangan sejak perencanaan perjalanan,” ucap dia, Senin (26/12/2022).

Berdasarkan pantauan di situs web sistem informasi meteorologi penerbangan BMKG, hingga kemarin malam, setidaknya ada lima bandar udara yang tingkat jarak pandangnya di bawah 5 kilometer (1,6-4,8 km). Kelima bandara yang diberi tanda kuning tersebut, adalah Soekarno-Hatta di Tangerang, Kertajati di Subang, Iswahjudi di Madiun, Gusti Sjamsir Alam di Kotabaru, dan El Tari di Kupang.

Rosedi membenarkan bahwa belakangan banyak bandara yang dilanda angin kencang, curah hujan tinggi, badai petir, serta penurunan jarak pandang di bawah standar penerbangan—diistilahkan visibility minima. Namun belum ada pemetaan atau rincian khusus mengenai lokasi terkena dampak ataupun laporan kejadian khusus.

“Antisipasinya tidak hanya di Indonesia timur,” kata Rosedi. “Secara global, bila cuaca sudah dalam batas mengganggu penerbangan, kru akan menunda atau membatalkan penerbangan demi safety.”

Menurut dia, skema keberangkatan ataupun pendaratan pesawat di tengah cuaca ekstrem diputuskan oleh kru penerbangan yang memahami performa setiap armada. Selain melengkapi informasi, AirNav berfokus mendukung pengendalian penerbangan dalam kondisi mendesak. “Misalnya dengan pengalihan pendaratan ke bandara lain, pengendalian ke bandara keberangkatan atau return to base (RTB), ataupun pre-departure clearance (PDC) bila bandara alternatif sudah padat.”

Sebagai gambaran, sebelum maskapai penerbangan memulai perjalanan di satu rute, kru pesawat dan operator bandara akan mendapat rekap informasi cuaca dalam pre-flight information bulletin (PIB). Isi dokumen itu terdiri atas kondisi cuaca di bandara keberangkatan, prakiraan cuaca di sepanjang rute penerbangan, serta cuaca di bandara tujuan.

AirNav pun menyiapkan laporan tersebut secara digital melalui aplikasi kenavigasian berakses bebas, Navearth. “PIB sudah mencakup prediksi cuaca harian dari beberapa sistem, seperti meteorology airport (Metar), significant meteorology (Sigmet), serta airport forecast (Tafor),” ujar Rosedi.

Pengelola Bandara Bersiap

Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I (Persero), Rahadian D. Yogisworo, juga memastikan mitigasi cuaca buruk oleh perusahaannya sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu. Manajemen memperketat prosedur pembersihan saluran air di wilayah udara (air side), pemeriksaan tinggi muka air tanah pada air side, serta pemeriksaan permukaan landas pacu dan landas gelinding. “Sudah termasuk pemeriksaan jaringan kabel dan instalasi listrik, sekaligus memastikan pompa pengendali banjir berfungsi dengan baik,” katanya.

Rahadian mengatakan perseroan menjamin kesiapan fasilitas penunjang operasi, terutama yang menyangkut kualitas jarak pandang pilot di landas pacu. Beberapa fasilitas terpenting untuk ketajaman visual pilot, ucap dia, antara lain marka serta lampu landasan. “Sampai saat ini belum ada perubahan jadwal penerbangan yang signifikan akibat dampak cuaca di bandar udara yang dikelola Angkasa Pura I,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Maria Kristi Endah Murni, mengimbau maskapai penerbangan mewaspadai cuaca ekstrem. Di sisi infrastruktur, dia memastikan selalu ada kalibrasi fasilitas operasional maskapai terhadap fasilitas navigasi. “Kita harus memprioritaskan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan untuk pengguna jasa penerbangan. Jika kondisi cuaca memang tidak memungkinkan untuk terbang, jangan paksakan,” kata dia, dalam keterangan tertulis.

Adapun Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra, tak menutup kemungkinan jadwal sejumlah penerbangan perusahaannya tertunda hingga lebih dari satu jam akibat gangguan cuaca. “Bisa saja ada (delay), tapi sejauh ini aman karena kami menyiapkan tim khusus untuk memonitor kondisi cuaca,” kata Irfan.

Sementara itu, berdasarkan pengamatan pemerhati penerbangan dari CommunicAvia, Gerry Soejatman, pada periode libur akhir tahun ini, informasi gangguan cuaca ekstrem pada penerbangan banyak bermunculan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Bila pengalihan pendaratan akibat cuaca buruk bertambah, kata dia, akan muncul rentetan penundaan penerbangan dalam jaringan rute yang terkena dampak.

“Antisipasinya dengan kepastian ketersediaan kru yang cukup karena jam kerja mereka terbatas,” kata Gerry. Di tengah maraknya penundaan keberangkatan, kata dia, bandara pun harus bersiap menambah jam operasi penerbangan agar kebutuhan perjalanan penumpang pesawat tetap terakomodasi. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.