Berita Utama

April 2018, Inflasi  Inti Papua Barat Turun

MANOKWARI, PB News – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat, inflasi yang terjadi pada April 2019 adalah 0,66 persen (mtm). Tingkat inflasi itu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa daerah di kawasan timur Indonesia, antara lain Maluku -0,69 perwsen (mtm), Maluku Utara 0,61 (mtm) dan Provinsi Papua 0,31 persen (mtm).

Deputi Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Barat FX Widarto, mengatakan, inflasi inti April 2018 tercatat 0,17 persen menurun dibandingkan dengan Maret 2018 sebesar 0,51 persen (mtm). Penurunan itu disumbang oleh beberapa komoditas harga seperti air kemasan, jeruk nipis, pasta gigi, dan buah pinang. Dampak terjadinya pelemahan rupiah dan mempengaruhi inflasi di level nasional tidak mempengaruhi inflasi inti di Provinsi Papua Barat.

Dia menjelaskan, dalam menjaga stabilisasi inflasi tersebut Bank Indonesia senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat dan lembaga terkait melalui forum TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) dalam melaksanakan seluruh program yang telah disusun.

“Inspeksi mendadak (sidak) bahan pangan di pasaran dan ke para distributor, pasar murah, koordinasi antar daerah dan iklan layanan masyarakat,” terang dia melalui rilis yang diterima Papua Barat News, belum lama ini.

Selain itu, lanjut dia, BI juga aktif terlibat dalam pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan klaster penyumbang inflasi berupa komoditas cabai dan bawang merah di beberapa daerah.

“Harapannya, inflasi tahun 2018 tetap terjaga dalam target inflasi sebesar 3,5 persen kurang lebih year on year (yoy),” tutur dia.

Sedangkan, lanjut dia, data BPS juga menerangkan inflasi untuk bahan pangan bergejolak (volatile foods) pada April 2018 tercatat 1,34 persen (mtm) meningkat dibandingkan dengan Maret 2018 0,08 persen (mtm). Peningkatan ini dipicu oleh kenaikan komoditas harga bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan cabai rawit. Tekanan inflasi bahan pangan ini diperkirakan akan meningkat menjelang bulan ramadhan dan hari raya Idulfitri 2018.

“Disebabkan oleh jumlah pasokan di pasaran terbatas,” papar dia.

Sejalan dengan peningkatan inflasi bahan pangan bergejolak, inflasi pada kelompok yang diatur pemerintah (administered price) turut mengalami peningkatan. Inflasi kelompok ini tercatat, 0,10 persen (mtm) lebih tinggi dari Maret 2018 yakni -0,04 persen (mtm). Peningkatan ini disebabkan kenaikan harga tarif angkutan udara sebagai salah satu moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat di Papua Barat.

“Kenaikan harga angkutan udara dipicu oleh permintaan seperti banyak kegiatan pemerintah,” pungkas Widarto.(PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.