Berita Utama

Badai Belum Datang ke Ibu Kota

JAKARTA – Hujan mengguyur kawasan Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (28/12/2022). Meski tidak terlalu deras, guyuran air dari langit selama hampir empat jam itu disertai angin yang cukup kencang. Botol-botol kosong bekas kemasan air mineral di warung sekitar area dermaga pun berhamburan.

Bagi Mugia Permana, warga Muara Angke kondisi cuaca seperti itu terbilang normal. “Ini sih biasa, amanlah,” ujarnya. Pria berusia 24 tahun yang bekerja sebagai anak buah kapal KM Mafindo 3 itu membandingkan dengan cuaca sehari sebelumnya, Selasa, 27 Desember lalu, yang menurut dia ekstrem. Saat itu hujan turun disertai badai. Suara ombak berdentum menggelegar ketika menghantam dinding beton dermaga. “Pokoknya mencekam. Warung tidak ada yang buka.”

Rudi Jayadi, pedagang makanan di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, menyampaikan cerita serupa. Menurut dia, cuaca pada 25-26 Desember lalu cukup mengerikan. Ombak menjulang hingga melewati tanggul pelabuhan. Angin dan gelombang laut juga membuat kapal yang bersandar di pelabuhan terombang-ambing hingga berbenturan. “Banyak lampu di anjungan kapal yang pecah,” ujar pria berusia 43 tahun itu. “Saya enggak berani jualan, takut terjadi apa-apa.”

Potensi bahaya pada Rabu, 28 Desember 2022, sebelumnya teridentifikasi pada platform Satellite-based Disaster Early Warning System (Sadewa) yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional—kini terintegrasi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti klimatologi dari Pusat Riset dan Teknologi Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan Sadewa BRIN mengidentifikasi adanya ancaman badai yang memanjang di Laut Jawa.

Menurut Erma, pusaran angin mirip Seroja—siklon tropis yang pada 2021 menimbulkan cuaca ekstrem berupa hujan deras dan angin kencang—juga teridentifikasi di selatan Nusa Tenggara. Hujan ekstrem dan badai dahsyat diperkirakan terjadi pada 28 Desember lalu. Banten, Jakarta, dan kota-kota di sekitarnya diperkirakan menjadi lokasi sentral serangan badai tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sempat mengeluarkan peringatan dini ihwal potensi cuaca ekstrem selama libur Natal dan tahun baru di beberapa wilayah di Indonesia. Platform informasi Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak BMKG menunjukkan potensi cuaca beberapa wilayah di Indonesia berstatus siaga pada 28 Desember 2022. DKI Jakarta ada di urutan teratas disusul semua provinsi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Mitigasi Bencana Tetap Digalakkan

Peneliti dari Physical Oceanography and Climate di Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan, Salvienty Makarim, mengatakan analisis Erma Yulihastin ihwal potensi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek pada 28 Desember 2022 tidak bisa dibilang meleset. Sebab, dalam kajian climate terdapat dinamika yang bisa berubah setiap saat. Perubahan ini sangat ditentukan oleh variabel arah angin, khususnya angin dari Laut Cina yang mengarah ke Kalimantan dan Selat Karimata, kemudian berputar di Samudra Hindia serta bagian selatan Pulau Jawa.

“Di Samudra Hindia itu memang ada gelombang, kemudian saya lihat angin dari arah utara menguat ke Kalimantan, Selat Karimata, dan efeknya itu ke laut Jawa,” kata Salvienty. “BRIN memprediksi dari potensi badai ini, tapi kita lihat tidak ada badai. Namun potensinya harus tetap dimitigasi.”

Menurut Salvienty, dalam disiplin ilmu climate, setiap peneliti memang harus mampu memperhitungkan dan mengkoneksikan dinamika dengan fenomena tersebut. Misalnya, dinamika laut dan atmosfer yang perlu ditinjau untuk memperhitungkan proses interplay interaction. Begitu juga dengan fenomena alam La Nina yang berasal dari Samudra Pasifik. Sebab, di Indonesia, puncak La Nina tidak hanya terjadi pada Desember, tapi bisa juga pada Januari dan Februari.

Secara umum, fenomena La Nina ini akan mencapai puncak dalam kurun waktu 20-90 hari. Para peneliti harus mulai menghitung prosesnya sejak angin melintasi bagian Samudra Hindia serta sebelum memasuki area dataran Indonesia dan Filipina. “La Nina akan mengarah dan menghilang di Samudra Pasifik, tapi dia akan kembali ke Samudra Hindia lagi,” kata Salvienty. “Itu bisa kita lihat dari data Bureau Australian Meteorology. Itu salah satu indikatornya.”

Dengan semua catatan itu, kata Salvienty, analisis yang disampaikan peneliti BRIN tidak bisa disebut keliru. Hanya, memang perlu ada integrasi dan bantuan validasi data untuk memperjelas model metodologi yang digunakan. “Alam ini juga sedang bergerak, jadi butuh tinjauan komprehensif,” ujarnya.

Namun pada 27 Desember lalu, BMKG memperbarui peringatan potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi hingga 1 Januari 2023. “Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG pada 28 Desember 2022, pada umumnya adalah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, tapi bukan badai,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, Isnawa Wahyuaji, mengatakan pihaknya telah menyiapkan mitigasi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem yang akan melanda wilayah Jakarta dalam beberapa hari mendatang. Di antaranya mengoptimalkan jalur komunikasi dan informasi mengenai ancaman cuaca ekstrem kepada masyarakat.

BPBD akan terus memberikan informasi peringatan dini tentang kenaikan tinggi muka air melalui Disaster Early Warning System (DEWS) dan SMS Blast, serta peringatan dini cuaca melalui website, media sosial, WhatsApp group, dan channel Telegram. “Kami siagakan 267 personel pada setiap kelurahan di Jakarta sebagai upaya percepatan koordinasi dan penanganan bencana,” katanya. “Kesiapan posko siaga bencana dan lokasi-lokasi pengungsian juga diperhatikan.” (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.