BB Miras Lokal Sudah Diserahkan ke BPOM

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Sampel barang bukti (BB) miras lokal jenis cap tikus dari hasil penangkapan Satnarkoba Polres Manokwari di Muara Pami Distrik Manokwari Barat pada Kamis (30/5/2019), telah diserahkan ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Manokwari untuk diteliti kadar alkoholnya.

“Diperiksa di laborotorium untuk mengetahui berapa kadar alkohol yang terkandung di miras tersebut,” kata  Kapolres Manokwari AKBP Adam Erwindi melalui Kasat Narkoba Iptu Jamhari, saat dikonfirmasi awak media, Rabu (13/6/2019).

Estimasi waktu pemeriksaan BB itu memakan waktu satu sampai dua minggu. Setelah hasilnya labnya keluar dan diserahkan ke Satnarkoba, maka proses hukum selanjutnya akan dijalankan. Akan tetapi, sejumlah saksi telah diperiksa dalam perkara itu dan telah ditetapkan tersangka.

“Kita sudah periksa 3 orang saksi dan tetapkan 1 orang sebagai tersangka, sambil tunggu hasil pemeriksaan dari BPOM,” ujar dia.

Dalam penggrebekan, kata dia, pelaku tak sendirian sehingga rekan pelaku yang berhasil melarikan diri telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Perlu diketahui, penggerebakan pabrik miras opolosan itu langsung dipimpin oleh Kapolres Manokwari AKBP Adam Erwindi dan didampingi Kasat Satnarkob Iptu Jamhari.

Di lokasi, Polisi  berhasil mengamankan produk miras lokal jenis cap tikus sekitar 10 liter siap edar. Selain itu, Polisi juga mengamankan barang bukti perlengkapan produksi miras antara lain, 11 drum, dua pani, dua kompor serta dua pipa dan mesin pompa. Aktivitas produksi miras oplosan cap Tikus ini sudah berlangsung sejak Oktober 2018.

“Dalam sehari pelaku menghasilkan miras oplosan dua galon. Satu galon dijual Rp1,5 juta. Keuntungan diraih Rp3 juta,” kata Kapolres.

Selain menyita barang bukti, Polisi juga menangkap terduga pelaku pembuat miras oplosan berinisial AI (36). Dalam memproduksi miras, terduga pelaku tak sendiri. Polisi kini masih mengejar satu pelaku lainnya.

“Indentitas dan ciri pelaku sudah dikantongi. Dalam waktu dekat kita tangkap,” ucapnya.

Dari hasil pemeriksaan, pekerja pembuat miras mengaku menerima upah Rp300 ribu sekali produksi. Bahan baku untuk membuat miras seperti, fermipan, gula merah, gula pasir, permen (hexos).

Terhadap terduga pelaku pembuatan miras dijerat pasal berlapis, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (PB14)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: