Belasan Anggota Polres Sorong Kota Dihukum

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Seluruh keluarga besar musisi sekaligus politisi Edo Kondologit mungkin kini dapat bernapas lega. Sebab, proses penyelidikan dan penyidikan Kepolisian atas kematian adik iparnya, George Karel Rumbino alias Riko (21) karena dianiaya oleh sesama tahanan di Polres Sorong Kota, terjawab sudah.

Edo Kondologit merupakan satu dari sekian keluarga Riko yang lantang menyuarakan kekesalannya terhadap Polisi atas insiden tersebut. Riko diserahkan Ibu kandungnya kepada Polisi karena diduga terlibat kasus pencurian dengan kekerasan dan pemerkosaan terhadap korban berinisial OKH pada akhir Agustus lalu.

Dalam peristiwa tersebut, Kepolisian menetapkan HA yang merupakan tahanan kasus Curanmor sebagai tersangka penganiayaan. Selain itu, terkait insiden tersebut belasan anggota Polres Sorong Kota pun dinyatakan bersalah karena telah lalai secara prosedural selama menjalankan tugas dan tanggung jawab.

“Itu hasil pemeriksaan tim dari Direktorat Kriminal Umum dan Propam selama seminggu di Polres Sorong Kota. HA ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan. Untuk anggota juga sudah ditindak, mereka dikenai pelanggaran disiplin,” kata Erwindi kepada sejumlah media, Rabu (7/10/2020).

Dalam kasus ini, Kepolisian menetapkan HA sebagai tersangka berdasarkan pemeriksaan 35 saksi, barang bukti diolah tempat kejadian perkara, dan rekaman CCTV. HA yang telah mengakui perbuatannya itu, dijerat Pasal 338 KUHP jo Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Sementara, belasan anggota Polres Sorong Kota yang dinyatakan bersalah terdiri dari lima personil Satuan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti) dan 10 personil Satuan Reserse dan Kriminal (Sat Reskrim).

“10 personil Sat Reskrim juga diberi pelanggaran disiplin. Itu karena saat Riko meninggal, tanggung jawabnya masih berada dalam penanganan mereka,” ujar Erwindi.

“Hukuman berdasarkan sidang disiplin, seluruh personil mendapat penempatan khusus di Rutan Polda Papua Barat, tunda pendidikan dan teguran tertulis,” katanya lagi.

Riko sebelumnya diperkarakan sebagaimana rumusan Pasal 339 jo Pasal 365 jo Pasal 285 ayat (3) KUHP, lantaran diduga terlibat kasus pencurian dengan kekerasan atau Curas dan pemerkosaan, terhadap korban berinisial OKH di Pulau Doom, Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong pada akhir Agustus lalu.

Riko diserahkan oleh Ibu Kandungnya ke pihak Polres Sorong Kota agar dapat diproses hukum. Akan tetapi, belum genap sehari dalam penanganan penyidik, Riko dinyatakan tewas dalam perawatan intensif di RSUD Sorong akibat luka yang dideritanya karena dianiaya.

Musisi sekaligus politisi Edo Kondologit sempat meluapkan kemarahannya melalui rekaman video di Media Sosial (Medsos) Twitter. Video kemarahan Edo pertama kali dibagikan oleh aktivis HAM Veronica Koman lewat akun Twitternya, @VeronicaKoman, pada 30 Agustus 2020.

“Saya sudah sakit hati sekali dengan perlakuan ketidakadilan di negeri ini. Cukup sudah semua sandiwara, Riko ini adalah korban dari sistem yang ambruk,” kata Edo seperti terekam dalam video yang berdurasi 2:20 menit itu.

Dalam video tersebut, Edo mengaku marah dan kecewa karena merasa ada ketidakadilan proses hukum terhadap Riko. Sebab, pihak keluarga menyerahkan iparnya ke Kepolisian agar dapat diproses hukum, namun ternyata pemuda 21 tahun tersebut justru tewas kurang dari 24 jam setelah diserahkan kepada pihak Polres Sorong Kota. (PB13)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 8 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: