Berita Utama

Berharap Pemilu Tak Lagi Makan Korban

JAKARTA – Sudah dua kali Topas Juanda menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS), yaitu pada Pemilu 2014 dan 2019. Ia akan berpikir ulang jika diminta lagi menjadi petugas penghitung suara dalam Pemilu 2024. “Sangat capek. Capek tenaga dan otak,” kata pria berusia 34 tahun yang saat ini menjabat Ketua RT 12 RW 04 Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, itu, Senin (31/10/2022).

Untuk Pemilu 2014, kata Topas, beban pekerjaan sebenarnya tidak terlalu berat. Namun, pada pemilu berikutnya, anggota KPPS benar-benar kewalahan. Selain memilih presiden dan wakil presiden, dalam Pemilu 2019, pemegang hak suara mencoblos calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi. Bahkan, di luar Jakarta, ada pemilihan untuk anggota DPRD kabupaten/kota. “Terlalu banyak yang dihitung,” kata Topas.

Karena penghitungan surat harus tuntas saat itu juga, Topas dan kawan-kawan terpaksa kerja lembur hingga pukul 03.00 dinihari. “Surat suara baru diserahkan subuh ke kelurahan,” kata dia. Tidak mengherankan, banyak anggota KPPS yang tumbang setelah penghitungan suara rampung.

Penyelenggaraan pemilu serentak 2019 bertujuan agar pemilihan lebih efisien, baik dari sisi waktu maupun anggaran. Namun, dalam pelaksanaannya, kompleksitas pemilu serentak memberikan duka mendalam. Tercatat, sedikitnya 894 petugas pemilu meninggal, sebanyak 527 di antaranya adalah anggota KPPS. Tercatat juga 5.175 petugas penyelenggara pemilu dinyatakan sakit, baik saat penghitungan suara maupun setelahnya.

Topas mengklaim mereka yang menjadi anggota KPPS pada Pemilu 2019 tidak mau lagi terlibat dalam urusan pemilu mendatang. “Banyak yang menyatakan kapok kalau proses pemilihan masih seperti itu,” katanya.

Cerita serupa disampaikan Syarifuddin, Ketua RT 10 RW 7, Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur. Menurut pria berusia 40 tahun itu, untuk pemilu serentak, jumlah petugas penghitung suara harus ditambah. “Kalau sebelumnya kan dipisah antara (pemilihan) legislatif dan presiden,” ucapnya. “Karena memang pemilu serentak sangat menguras tenaga.”

Mereka yang terlibat dalam Pemilu 2019, kata Syarifuddin, menolak mendaftar lagi menjadi anggota KPPS untuk pemilu mendatang. “Beban kerjanya terlalu berat, banyak yang menolak,” ujarnya.

Ganjar Wisnu Budiman, perawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Hasan Sadikin, Bandung, mengatakan, pada Pemilu 2019, ia ditunjuk menjadi petugas pemungutan suara, khusus di lingkungan rumah sakit. Tugasnya adalah melayani pasien dan pegawai rumah sakit yang tidak bisa datang ke tempat pemungutan suara.

Ganjar menerima tugas itu karena mempunyai pengalaman pada Pemilu 2014. Awalnya ia mengira beban kerja yang ditanggung tidak jauh berbeda dengan saat ia bertugas pada Pemilu 2014. Namun perkiraannya meleset. Panitia pemilihan khusus rumah sakit harus pontang-panting menyelesaikan berbagai masalah teknis.

Panitia pemilihan, kata Ganjar, sudah menginap di rumah sakit sehari sebelum pemungutan suara digelar. Mereka bangun pagi untuk bersiap, kemudian mulai berkeliling menyambangi pasien. “Proses ini paling memakan waktu,” ujarnya. Walhasil, penghitungan suara baru rampung menjelang tengah malam. Karena itu, dia akan menolak jika diminta menjadi anggota KPPS untuk Pemilu 2024. “Saya tidak mau lagi. Silakan orang lain saja.”

Ansori, warga Desa Talangsungko, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, membenarkan Pemilu 2019 menjadi pesta demokrasi terberat yang pernah dia rasakan. Pria berumur 47 tahun ini berpengalaman lima kali menjadi petugas KPPS di desanya. “Pemilu sebelumnya, sore, penghitungan suara sudah selesai,” kata dia. “Sedangkan pada 2019, (penghitungan suara) baru rampung pada pukul 21.00 lebih.”

Ansori berharap pemerintah bisa membenahi mekanisme pemilihan agar tidak membebani petugas di lapangan. “Regulasi mesti disesuaikan dengan kemampuan fisik manusia,” katanya. “Pada penghitungan suara tahun 2019, kami memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan meski kondisi badan sudah sangat lelah dan mengantuk.” (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.