Bertumbuh tapi Tak Lebih Tinggi

JAKARTA – Kementerian Keuangan menargetkan Ramadan dan Idul Fitri menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada semester pertama tahun ini. Sebab, menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu, hari raya bakal mengerek pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2022 di atas 5 persen.

Menurut Febrio, pertumbuhan ekonomi pada April hingga Juni belum bisa lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal II 2021, pertumbuhan ekonomi mencapai 7,1 persen. “Tapi apakah bisa tumbuh di atas 5 persen? Peluangnya cukup besar,” ujar dia, kemarin.

Febrio mengatakan Ramadan dan Idul Fitri kali ini berbeda dengan sebelumnya setelah pemerintah melonggarkan pembatasan mobilitas karena kasus Covid-19 yang melandai. Dia melihat ada potensi pent-up demand atau kenaikan permintaan dan konsumsi secara tiba-tiba karena minat masyarakat yang tinggi setelah menahan belanja. “Jika bisa belanja baju, membeli hadiah untuk orang di kampung, dan jalan-jalan, konsumsi akan terdorong tinggi,” ujar dia.

Pemerintah berupaya mendorong konsumsi setelah kasus penularan Covid-19 terkendali. Salah satunya melalui tunjangan hari raya untuk karyawan swasta dan gaji ke-13 untuk aparatur sipil negara.

Namun, kata Febrio, target kenaikan konsumsi akan terganjal kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok. Melambungnya harga akan mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

Badan Pusat Statistik mengumumkan laju inflasi pada Maret 2022 sebesar 0,66 persen. Laju inflasi secara tahunan sebesar 2,64 persen. Minyak goreng menjadi penyumbang inflasi sebesar 0,04 persen pada periode tersebut.

Untuk mendorong daya beli, pemerintah menyalurkan bantuan sosial kepada 40 persen masyarakat termiskin. Salah satunya berupa langsung tunai (BLT) untuk membeli minyak goreng bagi 20,5 juta keluarga. Nilainya Rp 300 ribu untuk tiga bulan.

Febrio menyebutkan kebijakan itu belum tentu selesai setelah tiga bulan. Pemerintah pun siap menggunakan penerimaan dari batu bara, minyak sawit mentah, dan komoditas lain untuk bantuan sosial.

Ekonom senior dan mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini. Kunci utama pertumbuhan ekonomi, menurut dia, adalah pulihnya mobilitas masyarakat. Chatib yakin aktivitas ekonomi akan bergulir kembali seiring dengan pulihnya pergerakan masyarakat. “Ekspor dan konsumsi pun relatif kuat,” ujar dia.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dibanding pada tahun lalu. Menurut dia, peluang pertumbuhan ekonomi 5 persen pada semester I 2022 masih terbuka, asalkan pemerintah bisa menjaga tren penurunan kasus Covid-19. “Pemerintah juga bisa menyalurkan berbagai bantuan pada periode ini,” katanya.

Namun Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menyebutkan target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada semester pertama cukup berat untuk diraih. “Kalau di atas 4 persen, masih yakin,” ujarnya. Salah satu hambatannya, kata Tauhid, adalah gelombang kasus Covid-19 varian Omicron yang terjadi pada awal tahun.

Tauhid juga menyoroti bahwa kenaikan harga yang memukul daya beli masyarakat belum cukup tertutupi oleh BLT sehingga menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, bantuan yang digelontorkan pemerintah relatif kecil dibanding kenaikan harga kebutuhan pokok. Penyaluran bantuan ini juga bisa terhambat dan tak tepat sasaran karena data penerima tidak akurat. (TMP/ANT)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: