Berita Utama

Bibit Retak Koalisi Pasca Deklarasi Ganjar

JAKARTA – Langkah PDI Perjuangan mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai bakal calon presiden 2024 membuat peta dan arah rencana koalisi besar bisa berubah. Dengan deklarasi tersebut, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), yang dimotori Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN); serta Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR), yang digawangi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), semakin sulit melebur.

”Partai Persatuan Pembangunan ragu koalisi besar bakal terbentuk. Kami sedari awal hanya solid dengan KIB dan tidak ada koalisi besar. Itu semua baru sebatas bincang-bincang,” ujar juru bicara PPP, Achmad Baidowi, Minggu (23/4/2023).

Rencana membentuk koalisi besar sempat diklaim Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan setelah bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pada 8 April lalu. Ide pembentukan Koalisi Kebangsaan mencuat setelah Presiden Joko Widodo menghadiri acara silaturahmi lima partai politik pendukung pemerintah di kantor DPP PAN pada akhir Maret lalu. Presiden Jokowi merestui peleburan Koalisi KIR dan KIB. Kendati begitu, Jokowi menyerahkan kepada lima ketua umum partai untuk memutuskan pembentukan koalisi besar tersebut.

Baidowi menegaskan bahwa sedari awal partainya tidak aktif dan tidak ikut dalam pembahasan koalisi besar. Dia menilai sulit dua koalisi tersebut melebur menjadi satu. Sebab, setiap partai memiliki dan menyokong kandidat yang ingin diusung sebagai calon presiden. Partai Golkar, misalnya, berkeras mengusung ketua umumnya, Airlangga Hartarto, sebagai calon presiden sesuai dengan hasil musyawarah nasional Golkar. Adapun Gerindra juga berkukuh akan mencalonkan Prabowo Subianto sebagai calon dalam pemilihan presiden 2024.

Ihwal deklarasi PDIP yang mengusung nama Ganjar sebagai bakal calon presiden, Baidowi menegaskan tidak begitu ambil pusing. “Karena itulah, kami memprediksi koalisi besar sulit terbentuk,” ujarnya.

Wakil Ketua PAN Viva Yoga Maulida punya pendapat berbeda. Dia mengatakan KIB dalam waktu dekat akan bertemu untuk membahas koalisi, termasuk memantapkan rencana pembentukan koalisi besar. Pertemuan itu merupakan tindak lanjut pertemuan lima ketua umum partai di kantor DPP PAN.

Viva menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang dideklarasikan PDI Perjuangan sebagai bakal calon presiden 2024. Jauh sebelum isu pembentukan koalisi besar, KIB disebut-sebut sudah menggadang-gadang bakal mengusung nama Ganjar Pranowo sebagai bakal calon presiden, meski kabar itu meredup seiring dengan rencana peleburan lima partai.

Tanpa peleburan dengan KKIR, sejatinya KIB telah memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Merujuk pada Undang-Undang Pemilu, pasangan calon presiden dan wakilnya diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh sedikitnya 20 persen kursi Dewan Perwakilan Rakyat atau sedikitnya 25 persen suara nasional dalam pemilihan umum sebelumnya. Jika dihitung secara keseluruhan, KIB mengantongi 25,6 persen. Jumlah itu terdiri atas Partai Golkar 14,7 persen, PAN 7,6 persen, dan PPP dengan 3,3 persen hasil perolehan suara Pemilu 2019.

Meski telah bergabung dalam KIB, Viva mengatakan, PAN saat ini masih membuka peluang untuk menjalin kerja sama dengan PDIP. “Prinsipnya, PAN bisa bekerja sama dengan PDIP. Dengan partai lainnya dan bergabung dalam lima partai juga bisa,” ujarnya.

Jika digabung, perolehan suara KKIR yang terdiri atas Gerindra dan PKB mencapai 22 persen. Jumlah itu terdiri atas Partai Gerindra yang meraih 12,5 persen dan PKB sebesar 9,7 persen perolehan suara Pemilu 2019. Adapun PDIP sebagai pemenang Pemilu 2019 memperoleh suara hampir 20 persen dan bisa mengusung sendiri calonnya.

Viva membantah jika dikatakan ada perpecahan di lingkup internal KIB. Dia mengklaim koalisi tiga partai politik ini masih solid. “KIB tetap kompak dan utuh. Sekarang masih dalam proses konsolidasi untuk membangun koalisi besar dengan KKIR,” ujarnya. Dia mengklaim kesamaan ideologi politik menjadi salah satu faktor keterbukaan PAN jika bergabung dengan PDIP dalam kontestasi politik 2024.

Menurut Viva, PAN dan PDIP sudah terlibat kerja sama dalam mengusung calon kepala daerah dalam perhelatan pemilihan di sejumlah daerah. Menurut dia, di beberapa daerah, kedua partai berhasil memenangkan pasangan calon yang diusung.

Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Firman Soebagyo, mengatakan KIB saat ini masih kompak. Ihwal nama calon presiden, Firman menegaskan, partainya berkukuh mengusung nama ketua umumnya, Airlangga Hartarto. Dia mengatakan partainya tidak perlu membahas pendapat orang lain. “Kami berfokus pada pendapat sendiri. Keputusan munas Golkar belum berubah: mencalonkan Airlangga sebagai calon presiden,” ujarnya.

Dua Atau Tiga Poros Koalisi

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Aditya Perdana, mengatakan akan ada dua poros koalisi partai politik yang kemungkinan berlaga dalam Pemilu 2024. Poros tersebut bisa memunculkan dua atau tiga pasangan calon presiden-wakil presiden.

Saat ini sudah terbentuk tiga koalisi. Pertama, Koalisi Perubahan yang terdiri atas PKS, NasDem, dan Demokrat. Koalisi ini mengusung mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sebagai calon presiden. Koalisi lainnya adalah KIB: Golkar, PPP dan PAN. Serta Koalisi KIR: Partai Gerindra dan PKB.

Menurut Aditya, Partai Gerindra disebut sebagai sosok kunci dalam pembentukan poros koalisi partai. Dia menilai, jika Prabowo Subianto legawa ditempatkan sebagai posisi wakil presiden bersama Ganjar, ada kemungkinan koalisi besar akan terbentuk dengan jalan tengah. Namun, jika Prabowo berkukuh maju sebagai calon presiden, dia hanya bisa diusung oleh KIB dan KKIR minus PDIP. “Faktor kunci ada pada Prabowo, apakah rela atau bersedia jadi calon wakil presiden,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyebutkan ketua umumnya memang sempat ditawari sebagai calon wakil presiden bagi Ganjar Pranowo. Namun, kata dia, partainya secara tegas menyatakan bahwa Prabowo tetap merupakan capres yang diusung pada 2024 sesuai dengan keputusan rapat pimpinan nasional. “Bahwa pernah ada omongan seperti itu, kami tidak menampik,” kata Muzani di kawasan Jakarta Selatan, Ahad kemarin.

Analis komunikasi politik, Dedi Kurnia Syah, mengatakan deklarasi Ganjar sebagai calon presiden oleh PDIP mengubah konstelasi politik, khususnya di tubuh KIB. Menurut Dedi, KIB tidak memiliki tokoh potensial yang diusung menjadi calon presiden dan calon wakil presiden sehingga peluang terpecah menguat. “Pilihannya bisa saja PPP bergeser ke PDIP. Atau PDIP mengusung sendiri kadernya,” ujarnya.

Adapun Golkar dan PAN, menurut Dedi, masih berpeluang untuk bergabung dengan Gerindra. Tentunya dengan syarat kedua partai tidak memaksakan kadernya sebagai calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.